RSS

STENSILAN DI KAMPUS; SEBUAH CATATAN HARIAN

26 Jul

Oleh Ardyan Amroellah

Di kantin kampus UGM sekitar empat bulan lalu, saya berjumpa dengan teman lama. Kami berdua berdiskusi panjang lebar. Kesibukannya sebagai aktor teater kelas wahid disana membuat saya ingin belajar membikin cerita porno darinya. Siapa tahu dia bisa.

Anda tak salah baca, memang saya menulis: cerita porno. Saya curhat kepadanya, saya sudah berusaha menulis cerita yang sering disebut stensilan. Kata ini memang kadarnya merendahkan, menganggap bahwa cerita yang demikian bukanlah karya sastra, bukan suatu tulisan yang layak dibaca, yang layak untuk dipelajari, apalagi untuk diproduksi.

“Saya belum mampu hingga sekarang,” kata saya

Dia tertawa, “Mengapa kepingin? Belum puas belajar sastra yang lain?”

Penjelasan saya singkat saja. Membuat bagaimana orang mengkhayal, berimajinasi kemana-mana dan lantas terangsang secara pikiran dan biologis. Betapa beratnya. Bagi saya itu merupakan komponen utama dari cerita porno yang paling sulit, paling bandel untuk ditaklukkan.

Bacaan-bacaan buku keilmuan umumnya lebih bersifat kognitif, memenuhi hasrat rasional. Satu sisi, dia memang menyehatkan jiwa dan secara tak langsung juga membuat badan sehat. Nah, soal itu biar saja orang-orang yang belajar di Fakultas Kedokteran yang memikirkan. Dan bacaan yang bersifat kognitif ini bukan jawaban bagi yang saya resahkan.

Kata orang, seni adalah jawaban bagi Anda. Seni mampu menghaluskan, melembutkan, menggelorakan jiwa dan seterusnya. Dia bisa membakar, dia juga bisa mendinginkan. Dia membuat jiwa terbang ke alam semesta dan bahkan ke luar alam semesta, ke alam yang terbayangkan, ke alam yang tak terbayangkan. “Bahkan mungkin saja ke luar dari lingkup ruang dan waktu,” sambut saya.

Namun aneh juga kalau cerita porno, justru hendak dieliminir dari ranah kesenian yang perlu dibaca. Dari segi etika moral, mungkinlah. Tapi bukankah dari Iblis pun bisa ditemukan hikmah?

Nah, saya perlu itu dari cerita porno.

“Jadi, beruntunglah sampeyan,” kata saya kepadanya, “Yang mampu membikin puisi yang menggelorakan semangat saya.”

Saya bilang lagi, bahwa banyak karya seni yang mampu menggetarkan hati namun lebih banyak lagi yang kering makna. Tandus dari hasrat. Dan kalau mau dikuliti, akan lebih menggunung lagi karya-karya yang tak punya kemampuan untuk membikin pembacanya terangsang secara biologis, yang membuat dirinya tak sekedar bergetar tapi juga melakukan aksi yang inheren dengan yang baru dibacanya.

Saya langsung teringat retorika khas Soekarno yang sering dikatakan mampu membikin orang untuk rela mati bagi dia. Atau juga Bung Tomo. Tapi itu lebih oral verbal. Orang-orang dapat melihat stimulatornya langsung. Itu seperti film-film dewasa juga. Yang saya maksudkan adalah rangkaian panjang dari huruf-huruf. Itu sama sekali tak mudah.

♣♣♣

Tak sampai 48 jam kemudian, teman saya mengirimkan email kepada saya sebuah tulisan. Saya terkejut membacanya. Saya mengira dia sedang curhat dan meminta saya memberi respon terhadap tulisannya. Tapi saya salah. Rupanya dia membuat sebuah cerita porno.

Dan sekali lagi, saya terangsang.

 

 

 

 
 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: