RSS

HEMAT ITU MATIKAN TV KETIKA SBY PIDATO; SEBUAH CATATAN HARIAN

26 Jul

Oleh Ardyan Amroellah

Ketika Presiden RI–Susilo Bambang Yudhoyono, membawakan pidatonya tentang penghematan energi, seorang teman yang waktu itu sedang mengerjakan tugas dari kantor bersama saya berceloteh bahwa mendengar pidato presiden kita itu menyenangkan, menyenangkan untuk didengarkan tak ubahnya didongengi mama sebelum tidur. Menanggapi itu, saya cuma mesem karena hal yang tak jauh senada juga dikicaukan beberapa teman dalam jejaring sosial yang mengatakan seperti ini:

  • Daripada dengar SBY pidato lebih baik nonton sinetron dah!
  • Hemat yang dimaksud SBY itu ketika kita menonton teve ada SBY nongol di situlah kita hemat (matiin teve).

Pidato yang begitu lancar diucapkan presiden kita–seolah ada teleprompter di depannya itu, menurut hemat saya hanya seperti membangunkan orang yang terkubur atau jika boleh meminjam istilah milik Ari Dwipayana: terlalu terlambat untuk menyebutkan ada penghematan. Penghematan itu seharusnya sudah dilakukan sejak lama,

Kali ini saya tak akan berkutat pada itu, namun dalam sekup luasnya. Di sini lagi-lagi rakyat hanyalah menjadi lahan mata pencaharian basah yang dikelola dengan apik dengan mengatasnamakan penyelamatan ekonomi, penjaminan demokrasi, bahkan penegakan hukum. Sebagai alibi, semuanya mati dalam bahasa. Dan pada titik inilah, pada saat kita tak mampu lagi. Lunglai menyusun metafora hidup. Metafora mati menjadi senjata makan tuan atau boleh dibilang bumerang. Pada batasnya, kesabaran akan bangkit menjadi vampire yang liar: people power! Namun, yang perlu dicatat batas kesabaran adalah ketika nyawa sudah sampai tenggorokan.

Tentu saja kita emoh terus-terusan terpuruk jurang kenistaan, sekaligus menghindari penyelesaian oleh ketidaksabaran. Namun kebersamaan dengan hal itu, jika hanya berdiam diri menyaksikan kebebalan yang dibungkus pembenaran, jika kita tak ada benteng moral, bakal ikut bebal. Hal paling mengerikan dari tindak kejahatan adalah saat aura kejahatannya menguap, tak tampak. Pun ketika kita melihat kebebalan adalah hal yang lazim, padahal lazim bukan bermakna benar.

Oleh karena itu, selain melewati lembaga antirasuah Komisi Pemberantasan Korupsi, terdapat dua hal substansi yang bisa digunakan untuk membenahi negeri ini. Pertama, tegas mengartikulasikan kejahatan dan kebebalan agar auranya terus terbarukan. Misal, aura kejahatan korupsi akan hilang bila tindakan itu tak henti disebut korupsi. Sangat perlu diterakan metafora lain, seperti penggasak, garong atau rampok. Pun demikian untuk penjaja seks komersil, lebih baik disebut pelacur daripada PSK. Hal ini untuk menghilangkan legitimasi atau kelas. Perbuatan cela pun sebutannya memang pantas cela jua. Kedua, ketika negara dalam keadaan harus ditolong seperti sekarang, yang perlu ditolong pertama kali adalah membantu kepala negara mendudukkan kepalanya agar posisinya sehat. Jika tidak, dimakzulkan saja dengan yang lebih punya derajat keimanan bagas bukan keinginan kekuasaan.

Berkali-kali dan oleh sejumlah pihak telah disampaikan bahwa kita, bangsa Indonesia, membutuhkan pemimpin yang kuat –jasadiyah dan ruhiyah, cerdas, tidak cemen yang sedikit-sedikit merengek menggrundelkan masalah negara, dan bebas dari kepentingan politik juga bebas dari kerjasama dengan penjajahs. Kini semua bisa lihat, tanpa pemimpin demikian, negara tak memiliki ideologi yang menyebabkan ketidakjelasan: mau dibawa negara ini? Bagaimana mau ajeg berdiri, jika grasi pada Sang Ratu Ganja Corby saja jor-joran seolah ingin katakan pada dunia bahwa  Indonesia negara gampangan.

Lalu yang perlu dipahami dan digarisbawahi, kekalahan menaklukkan ego pemimpin, lewat kasus Qorby juga bulu tangkis yang selalu menangis di ajang internasional, seolah keduanya adalah representasi terpuruknya pengelolaan kehidupan berbangsa. Mungkinkah kita tengah sampai pada apa yang ditulis oleh sang penyair anonim:

Haruskah rakyat terus menangis

Haruskah rakyat terus diam.

Haruskah rakyat terus di bodoh-bodohi.

Atau… para pejuang keadilan telah mati?

Jadi, mari matikan ragu. Juga matikan televisi ketika presiden kita berpidato. Ups.

Wallahu’alam.

 
 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: