RSS

METAFORA; SEBUAH PEMBELAJARAN

28 May

Oleh Ardyan Amroellah

Metafora adalah hal yang biasa dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Bahkan seorang anak pun bisa menangkap makna sebuah metafora. Namun hal biasa ini bertahun–tahun telah menjadi hantu bagi para ahli linguistik, sebab ia adalah sebuah misteri untuk menjelaskan dari mana datangnya sebuah makna. Linguistik bisa menjelaskan makna literal, tapi makna kiasan di dalam metafora sangat sulit untuk dijabarkan. Tak terlalu berlebihan jika Lycan menamai The Dark Side pada chapter yang menjelaskan metafora.

Metafora juga menjadi bagian yang paling urgen dalam pengalaman berbahasa. Hampir semua kata bisa dipakai secara metaforis. Berbeda dengan makna kata yang sesuai dengan makna kamus yang disebut makna leksikal. Semua kata yang memiliki makna leksikal bisa dipakai secara metaforis. Bahkan dalam perkembangan bahasa, makna metaforis mampu mengambil alih makna leksikal, hingga ia lebih dikenal dengan makna metaforisnya ketimbang makna leksikalnya. Dan makna yang mulanya metaforis menjadi makna leksikal yang baru.

Apa itu metafora?

Sebuah definisi, yang meskipun tak sempurna bisa kita pakai sebagai sebuah petunjuk. Dalam Introducing Metaphor, Knowles dan Moon menerangkan bahwa metafora adalah penggunaan bahasa secara non-literal, yang di dalamnya mengandung perbandingan atau identifikasi. Metafora berasal dari kata Yunani: meta dan phor. Meta adalah prefiks yang biasa dipakai untuk menggambarkan perubahan, dan phor yang berarti membawa. Dengan demikan arti kata metafora bisa diartikan sebagai membawa perubahan makna.

 

Metafora sebagai Perluasan Makna dari Makna Referensial

Makna kata paling mudah untuk dijelaskan dengan cara menunjuk sebuah referensi. Kata “kursi” memiliki makna karena ia menunjuk pada sebuah referen yang kita sebut kursi, sebuah alat buatan manusia yang digunakan untuk duduk. Makna referensial ini hanya bisa memiliki makna bila ada intersubjektivitas. Mudahnya, makna itu harus mendapat persetujuan oleh para pemakai bahasa yang lain. Jika tidak, kata itu hanya akan bermakna bagi si pengucap namun tak bermakna bagi si pendengar. Ia akan menjadi bahasa solipsis, yang bertentangan dengan maksud bahasa itu sendiri, karena bahasa adalah sebuah modus komunikasi.

Menciptakan kata baru dengan menggunakan makna referensial tak mudah. Beberapa masalahnya adalah:

  1. Jika kita harus menciptakan setiap kata untuk sebuah referen, kita akan berhadapan dengan jumlah kata yang tak terbatas, karena referen juga tak terbatas. Masalah ini disederhanakan dengan generalisasi referen. Penyederhanaan seperti ini juga sebuah pemiskinan pengalaman, karena dengan demikian kata tidak bisa menjelaskan seluruh realitas yang ada.

Contoh: bahasa suku primitif yang hanya punya kata untuk satu dan dua, sedangkan tiga diucapkan dengan “dua satu”, dan empat diucapkan “dua dua”. Jika ingin mengatakan yang berjumlah lebih dari empat, menggunakan kata “banyak”.

  1. Menciptakan kata baru untuk sebuah referen baru tidak mudah. Selain berhadapan dengan masalah penciptaan kata, kriteria intersubjektivitas membuat kata baru tak gampang diterima. Kata baru selalu datang dan punah karena tidak diterima oleh pemakainya.

Metafora dapat dihadirkan untuk mengatasi kekurangan ini. Pertama, dengan memakai simile yang mengandung pengertian membandingkan sebuah referen dengan kalimat yang memiliki makna mirip dengan memakai kata sambung “bagaikan”, “bak”, “laksana”, dan “seperti”. Kita bisa memakai sebuah simile dengan mengatakan dua orang yang mirip dengan kalimat “bagaikan pinang dibelah dua”.

Ada beberapa simile yang sudah menjadi bentuk baku, diketahui semua orang dan sudah menjadi konvensi, yang di dalam bahasa Indonesia kerap disebut sebagai peribahasa. Ada pula simile yang dapat diciptakan oleh sembarang pemakai bahasa, dan pendengar diharapkan mampu menebak makna berdasarkan konteks yang ada. Misalnya saat berada di dalam situasi macet luar biasa, kita mengatakan “seperti antrian kurban saja”. Kata ini mungkin jarang dipakai, namun karena pendengar tahu bagaimana situasi antrian kurban pada saat Idul Adha, ia bisa menyimpulkan bahwa yang dimaksud adalah macet luar biasa tidak bisa bergerak karena semua ingin berebut jalan terlebih dahulu.

Yang kedua adalah metonimia. Metonimia adalah sebuah kata atau frase yang dipakai untuk menggambarkan kata yang lain. Kata yang dipakai tak harus sesuatu yang berhubungan secara langsung, namun bisa hanya berhubungan sebagian saja. Metonimia lebih sulit untuk dimengerti tanpa penjelasan lebih jauh daripada simile.

Contohnya adalah kata “motor” untuk menggambarkan sebuah kendaraan roda dua yang digerakkan dengan motor. Motor hanyalah sebuah bagian yang menjadi penggerak, namun ia dipakai untuk menggambarkan seluruh kendaraan. Beberapa metonimia bahkan menggantikan arti aslinya. Misalnya kata “politik” yang arti aslinya adalah “berhubungan dengan polis (kota)”, kini nyaris tak dipakai dengan arti aslinya, yang mungkin hanya dipakai pada kajian filsafat Yunani dan filsafat politik, melainkan dengan makna metonimianya yaitu berhubungan dengan kekuasaan.

 

Memahami Metafora

Serpti kita tahu, manusia dari sejak masa kanak-kanak mampu menerima arti kiasan. Kemampuan ini umumnya berkembang sejak usia lima hingga matang pada usia duabelas tahun. Penelitian otak dan neurologi menunjukkan bahwa beberapa bagian otak mempunyai fungsi tertentu sehingga mampu menerima makna kiasan. Meskipun riset belum konklusif, namun anak yang sudah mencapai usia memahami metafora atau belum bisa memahaminya, umumnya berkaitan dengan kerusakan otak pada kawasan tertentu.

Dalam buku Philosophy of Language, secara linguistik, metafora juga bisa digeluti dengan memakai teori relevansi Grice yang mengatakan bahwa makna bisa dipahami karena manusia adalah makhluk yang selalu mencari relavansi. Oleh karena itu, bila prinsip kooperatif dipenuhi dalam sebuah percakapan, maka ia dapat dipahami oleh pendengar.

Sperber dan Wilson kemudian mengembangkan teori itu lebih lanjut untuk memahami metafora. Bila dalam sebuah dialog seseorang memakai kalimat yang tak bisa dipahami secara literal, dan dengan memahami konteks pembicaraan yang ada, maka bisa dipastikan kata itu dipakai secara metafora, karena ia tidak akan masuk akan jika dipahami secara literal.

Contohnya begini:

A: Kamu yakin bisa menyelesaikan seluruh laporan keuangan itu nanti malam?

B: Harus selesai! Meski aku harus memanggil seribu jinnya Bandung Bondowoso.

 

Metafora sebagai Sebuah Modus Berbahasa

Mengapa manusia memakai metafora? Sebab manusia sulit untuk memakai sebuah kata baru. Ini karena manusia selalu mencari relevansi seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya.

George Lakoff mengatakan bahwa metafora adalah bagian dari sistem kognisi kita sebagai manusia, ia adalah modus kita dalam berpikir dan bertindak. Manusia berpikir dengan melihat kemiripan satu pengalaman dengan yang lain. Fenomena metafora dalam bahasa dengan demikian adalah salah satu cara berpikir manusia. Bahkan metafora bisa memberikan timbal balik pada pengalaman dengan menggunakan bantuan bahasa untuk menjelaskan yang sulit untuk dijelaskan tanpa menggunakan metafora.

Pengalaman literer telah menunjukkan bahwa makna puitis lebih kaya makna dari literal. Ia bisa menjangkau sebuah kebenaran mitologis yang tidak lekang oleh jaman. Karena itulah ayat di dalam kitab suci ditulis dengan memanfaatkan metafora.

Secara khusus metofora sendiri bisa memberi andil penciptaan kata baru. Sebuah kata yang sungguh baru, biasanya sulit diterima masyarakat. Ini karena kita gagal melihat relevansinya dengan kata lain yang telah ada. Metafora-lah yang mempermudah kita untuk menggambarkan realitas baru tersebut. Lagipula menciptakan kata yang benar-benar baru lebih sulit dibanding dengan memulung kata lama dan memberinya makna baru. Kata seperti ikon, yang sebenarnya hampir punah makna literalnya yaitu patung suci, bangkit lagi dan menjadi pemakaian umum berkat metafora yang digunakan pada ilmu komputer.

Metafora adalah sebuah modus utama dalam menciptakan kata baru. Ini terutama terlihat dari timbul dan tenggelamnya sebuah kata. Pada mulanya sebuah kata dipakai secara literal. Makna literal adalah makna yang memiliki referen. Referen yang ada adalah sesuatu yang kontekstual, bisa jadi muncul dan tenggelam. Jika konteks yang berhubungan dengan referen tersebut berubah seiring dengan jaman, kata itupun akan kian jarang dipakai. Seperti halnya kata ikon, yang jarang dipakai karena jaman yang berubah.

Sering kali orang melupakan bahwa kata yang dipakai adalah metafora. Ini disebut sebagai sebuah metafor yang mati. Misalnya kata “scavanger” dalam english, yang makna aslinya adalah pajak kota yang diberikan kepada orang yang mengumpulkan sampah. Begitu peraturan tersebut diubah, maka relevansi pemakaian kata tersebut juga menjadi nihil. Makna tersebut hilang, berganti dengan makna metaforanya, yaitu binatang yang mencari makan dengan mengais sampah, atau pengumpul sampah. Saat ini hampir tak ada orang yang mengetahui makna aslinya kecuali para linguis, ahli etimologi, dan awam yang tertarik dengan etimologi.

Bagi beberapa bahasa, metafora bahkan memiliki tempat utama. Bahasa Jerman dan Sansekerta menaruh metafora sebagai modus utama penciptaan kata baru ketimbang menciptakan kata baru atau memakai serapan asing. Mereka kerap menggunakan kata lama untuk menggambarkan sebuah makna baru. Misalnya “fernseher”.yang berarti televisi. Ia menggabungkan dua kata: fern yang berarti jauh, dan sehen yang berarti melihat. Begitu pula dengan kata “dwipangga” dalam bahasa Sansekerta yang berarti gajah. Kata ini berasal dari kata dwi yang berarti dua, dan pangga yang berarti minum. Kata ini merupakan metafora dari gajah karena gajah minum dua kali, pertama dari belalainya, kemudian dimasukkan ke mulutnya.

Tantangan bagi metafora dalam pembentukan kata baru dalam abad globalisasi terutama datang dari kata serapan asing. Kita sering malas untuk memakai metafora untuk menelurkan kata baru, karena kata asing telah tersedia dengan mudahnya, dan media masssa mempopulerkan kata tersebut tanpa batas geografis. Bahasa Indonesia pun tidak kebal terhadap fenomena ini. Meskipun demikian, kata asing yang dipakai sebagai pengganti, pada awalnya juga sebuah metafora.

Televisi misalnya, yang berasal dari kata tele yang berarti jauh, dan vision yang berarti penglihatan, juga adalah sebuah metafora. Dengan demikian, kita hampir tidak bisa lari dari metafora untuk menciptakan sebuah kata baru.

Bersambung.

 
Leave a comment

Posted by on May 28, 2012 in Belajar

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: