RSS

KARTINI MUSLIMAH ERA KINI; SEBUAH CATATAN HARIAN

28 May

Oleh : Novi Hidayati N.R

Terdapat tiga variabel dalam judul di atas, yakni Kartini, Muslimah dan Era kini.

Kartini, seorang pahlawan wanita Indonesia yang lahir di jepara, tanggal 21 April 1879. Namanya sering disebut-sebut dan dikenang di seluruh pelosok negeri tercinta kita ini. Mengapa? Karena jasa beliaulah budaya patriarki atau kesenjangan kesetaraan gender dalam memperoleh pendidikan terkikis.

Kartini adalah anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani simbok (pembantunya).

Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.

Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orangtuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti dan ikut mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah wanita. Berkat kegigihannya Kartini berhasil mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.

Pada tanggal 17 september 1904, Kartini meninggal dunia dalam usianya yang ke-25, setelah ia melahirkan putra pertamanya. Setelah Kartini wafat, Mr.J.H Abendanon memngumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Muslimah, seorang wanita muslim yang taat menjalankan perintah agamanya. Ia beriman, bertakwa dan senantiasa menjaga amalan-amalan wajib maupun sunnahnya. Bukan hanya ucapan maupun kiasan belaka, namun ia mampu menjadi mujahidah sejati dalam kehidupan ini. jika ia seorang anak perempuan, ia akan patuh kepada orangtuanya, menjaga harga dirinya dan menghindari perkara-perkara haram maupun syubhat. Jilbab senantiasa ia pakai, alqur’an senantiasa dibaca, dan dzikir senantiasa dilafal.

Saat ia menjadi isteri, ia menjelma sebagai bidadari dunia yang hadirnya menyejukkan mata. Kepatuhannya terhadap suami, penjagaan kesuciannya dari fitnah karena kelalaiannya, menjadi obor bagi ketentraman rumah tangganya.

Saat menjadi ibu, ia menjadi seorang sahabat yang sangat dekat dengan anak-anaknya. Nasihat tulusnya mengalir seiring aliran darahnya. Pengorbanan panjangnya tak menyisakan sesal meski kadang tak terbalaskan oleh pengabdian anaknya sekalipun.

Sosok muslimah sejati tergambar lewat ashhabiyah zaman Rasulullah SAW. Ibunda ‘Aisyah ra, ummul mukminin, isteri Rasulullah SAW yang telah meletakkan dasar-dasar kehidupan seorang muslimah, serta falsafah tingkah laku bahwa malu bukan penghalang untuk melaksanakan berbagai hak dan kewajiban. Statemennya, “Sebaik-baik wanita ialah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memperdalam agama.”

Ibunda Khadijah, sang isteri teladan yang selalu membantu berbagai kesulitan dan menguatkan tekad, yang selalu mencurahkan untuk suaminya bantuan material maupun spiritual, serta menjadi seorang ibu suci dan mendidik dengan didikan terbaik dan termurni buat anak-anaknya.

Asma’ binti Abu Bakar, seorang tentara wanita yang berpengaruh penting dalam membantu hijrah Rasul Muhammad SAW. Syifa’ binti Abdillah, muhajirah yang telah berdiri membela dakwah di Madinah al-Munawwaraoh, mengajarkan baca tulis dan ilmu kedokteran, serta ikut membantu kancah perpolitikan dan keadministrasian pada masa pemerintahan Umar ra. Serta Fatimah binti Al Khattab telah menjadi penyebab keislaman saudaranya, amirul mukminin Umar bin Khattab ra.

Muslimah tersebut telah membuktikan peran-perannya yang eksis dimanapun posisinya. Meski sebagai perempuan yang konon katanya didominasi oleh perasaan, namun ketika jiwa spiritualnya yang berakting, ia melebihi ketegaran seorang pria. Subhanallah..

Era kini, zaman dimana sarana informasi dan teknologi makin berkembang dan merata. Internet, handphone, i-pad, i-pod, computer, laptop, bukan lagi menjadi barang yang mahal. Justru semua itu dianggap kebutuhan yang akan memudahkan komunikasi. Gaya hidup (lifestyle), gaya berpakaian, gaya berkendaraan tidak ada bedanya antara di barat dengan di Indonesia. Globalisasi telah merasuk dalam jiwa-jiwa pribumi yang sejatinya santun dan nerima ing pandum.

Di kancah pendidikan, metode e-learning sudah banyak dijadikan solusi tanpa tatap muka pembelajaran. Banyak tugas yang memanfaatkan teknologi, dari mencari sumber dari internet, sampai berkirim tugas lewat e-mail. Di kancah perpolitikan, Indonesia tak kalah dalam ber-demokrasi. Rakyat bebas berpendapat, pejabat pun leluasa mengatur amanat. Jiwa-jiwa sesat pun tumbuh dengan hebat. Ada yang tanpa malu mengeruk uang rakyat, korupsi, kolusi, dan nepotisme telah menjadi kebiasaan. Na’udzubillah.

Pemahaman tentang kesetaraan gender (gender policy) bagi perempuan dan laki-laki, masih saja hangat didiskusikan, meski pada kenyataannya, sedikit demi sedikit sudah terealisasi.

Wanita era kini pun terlihat ‘beda’ dengan era kartini dulu. Masalahnya bukan terletak di pakaian adat dan sanggulnya, melainkan pada mindset (cara berpikir) yang mempengaruhi pola hidupnya. Nilai-nilai moral yang pada dasarnya melekat pada keanggunan wanita, sedikir demi sedikit terkikis oleh pemahaman ‘era kini’.

Kartini muslimah era kini, why not?

Kiranya, pertanyaan tersebut menjadi retoris ketika melihat saat ini. generasi kartini, generasi muslimah yang sejati, seakan menjadi sebatas icon dan pendewaan semata. Tapi, impossible is nothing. Firman Allah dalam QS Ar ra’du :11

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Di sekitar kita, masih banyak perempuan yang berpegang teguh terhadap agamanya, yang juga punya cita-cita mulia seperti kartini. Substansi pemikiran kartini sama dengan ghirah murabbiyah (pendidik perempuan) masa kini yang ingin senantiasa belajar mendalami ilmu (baik ilmu agama maupun ilmu umum), memahami, mengamalkan, sampai tahap mengajarkan ilmu tersebut. Jumlah guru perempuan, ustadzah, dan relawan perempuan semakin banyak. Pemerintah juga telah mendukung persamaan hak rakyat (laki-laki dan perempuan) dalam memperoleh pendidikan. Inilah sesungguhnya cita-cita kartini yang diperjuangkannya, hingga ia dijuluki sebagai pahlawan emansipasi wanita.

Tentunya, kartini muslimah era kini lebih banyak mempunyai tantangan daripada kartini pada masanya. Terkhusus untuk umat Islam, umat membutuhkan generasi muslimah yang :

  • Kuat iman dan taqwanya kepada Allah
  • Mulia budi pekertinya (berakhlakul karimah), santun, bijaksana, penyayang, sabar, tawadhu’, punya ghirah untuk berjihad di jalan Allah, menjaga kesucian dan harga dirinya
  • Mempunyai cita-cita luhur untuk dirinya, masyarakat (sosialnya), dan bangsanya
  • Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta terampil dan mampu memfilter pengaruh negative maupun positifnya

Dengan begitu, kalimat ajaran Allah selalu tegak di muka bumi ini, Allah pun akan menurunkan rahmat-Nya selalu. Hadits rasul Muhammad SAW, “seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah.” (HR Muttafaqun’alaih).

 
 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: