RSS

CANTIK ITU SAKIT; SEBUAH CATATAN HARIAN

28 May

Oleh Ardyan Amroellah

Segalanya menjadi duniawi. Apa yang terlihat mata akan lebih mudah diterima dibanding sesuatu yang bersifat absurd, yang tak dapat dipaparkan oleh indra. Ajaibnya, banyak teman bisa bilang bahwa yang membuat mereka jatuh cinta dengan seseorang adalah inner beauty. Nah lho? Bohong? Aku tak tahu.

Seorang temanku yang lulusan jurusan psikologi pernah bilang agar tak kecil hati karena aku tak cantik. Sebab cuma sepuluh persen fisik mempengaruhi penampilan seseorang. Sisanya ditentukan oleh sesuatu yang berasal dari dalam diri, seperti moral dan wawasan. Semula aku sepakat hingga seorang temanku jurusan komunikasi berujar bahwa wanita memang dikondisikan agar selalu cantik. Sebaliknya, lingkungan jauh lebih ramah kepada pria. Aku mengamini, karena seringnya kulihat di jalan seorang pria jelek namun wanita yang digandengnya cantik. Menyesakkan.

Maka satu yang segera tumbuh di otakku. Aku harus kurus!

Kata sahabat kuliahku, sedot lemak bagus juga. Kata teman kantorku, akupuntur boleh dicoba. Tapi pacar sepupuku menganjurkan diet. Pilihan ketiga langsung kutolak. Kenapa? Aku pernah datang ke resepsi kakak temanku. Satu minggu selang si pengantin wanita meninggal. Kabar yang kuterima, lever lamanya kambuh. Sebulan berlalu, akhirnya aku tahu dia meninggal karena keterlaluan dietnya. Gila!! Satu lagi, aku suka tak tahan saat melihat makanan enak di depan mata. Aku butuh cara lain!

Maka sempat kuputuskan untuk menjadi seorang pengidap bulimia. Sengaja kumuntahkan makanan yang telah kutelan dengan melogokkan jari ke kerongkongan. Baru dua hari, aku menyerah. Aku tidak tahan dengan rasa geli dan sakit di sekitar punduk. Lalu kupilih sedot lemak. Inilah cara yang menawarkan kelangsingan tanpa mesti membatasi jatah makan. Timbunan gajih membandel cukup diperangi dengan senjata bernama liposuction. Caranya? Kulitku disayat sebelum dimasukkan sebuah tabung kecil ke dalam kulit. Tabung ini lalu digerakkan maju mundur pada jaringan lemak bawah kulit. Gerakan itu membuat lapisan lemak terpecah menjadi kepingan agar mudah disedot keluar tubuh melalui mesin suntik berjarum besar. Menyakitkan? Pasti. Karena itu pula aku berharap keajaiban datang, lintah berubah menjadi hewan penyedot lemak.

Setelah terlihat kurus di cermin, aku mengamati hidung. Harus mancung juga tampaknya, biar seimbang dengan badan. Aku dikenalkan sahabatku dengan seorang dokter yang sudah sering menangani penggila bedah plastik. Jujur, aku terkesima. Hidung dokter itu begitu proporsi. Jangan–jangan dia mengoperasi sendiri hidungnya?

Namnya Rhinoplasty,  Hidung dibuka. Hidung disayat melintang. Dikorek. Sampi akhirnya ‘dilembutkan’ untuk dibentuk ulang. Setidaknya, aku beruntung ‘digarap’ dokter itu. Sayatannya dari dalam lubang hidung tak menimbulkan bekas yang tampak dari luar. Beberapa lama setelah operasi, efek mulai terjadi. Hidungku membengkak dua kali lipat. Warnanya kemerahan. Pesan dokter: aku tak boleh menggaruk hidung meski gatal. Aku tak boleh mengucek ketika bersin. Begitulah.

Setelah hidung, giliran payudara. Bah! Sejumlah teman mengolok–olok bahwa setelah tubuhku langsing justru payudaraku terkesan hilang. Sial mereka! Maka kuputuskan dada ini ikut dipermak. Apalagi umur membuatnya kian turun dan melayu. Terlintas di pikiranku suntik silikon, namun berita soal Pamela Anderson yang dilarang naik pesawat di ketinggian tertentu gara–gara dada silikonnya dikhawatirkan pecah membuatku ngeri. Lalu aku memilih metode push bra. Mahal? Iya. Saking mahalnya, aku cuma bisa membeli satu dan itu kupakai tiap hari sampai kawatnya mencuat. Benar saja, teman–teman pria langsung mengagumi dadaku. Lirikan mereka mengatakan itu. Tapi mereka tak tahu aku kesakitan dengan kawat yang meminggat payudaraku.

Kini aku mengincar kulit. Pokoknya harus putih! Kalau tak putih berarti tak cantik. ini gara–agar aku kebanyakan menonton sinetron. Semuanya berkulit putih. Aku kadang berpikir ini pelecehan ras terhadap kaum kulit selain putih. Apes, negeri ini masih rasis! Cara paling gampang, aku melakukan suntik putih. Sesuai dengan referensi teman yang kulitnya seputih mayat. Aku mencoba suntik vitamin C. Kata dokter, tampilan kulit akan lebih cerah dan putih setelah lima kali suntik berkala. Sukses? Aku suka hasilnya. Namun tiba–tiba saja aku sakit. Sialnya, dokter bilang aku kena batu ginjal. Oh tidak! Aku lupa jika pengunaan vitamin C berlebihan dapat mengakibatkan terbentuknya penyakit itu.

Aku iri melihat jenjang kaki teman–temanku dikantor. Aku ingin meniru. Tergodalah aku membeli stilleto. Tanpa pikir panjang, kugesek kartu kreditku. Sayang, tak bisa sebab beberapa hari lalu sudah habis untuk pengobatan batu ginjal. Gara–gara vitamin C keparat! Akhirnya aku membeli stilleto lokal yang pedas di kaki. Haknya tujuh senti. Lumayan, ank terlihat lebih tinggi. Tak malu lagi berjalan dengan teman priaku yang tinggi. Aku tak peduli kulit kakiku terkelupas karena masih ada plester yang kupakai bantalan agar kulit tak tergesek–gesek lagi. Kini semua menilai kakiku terlihat jenjang.

Masih banyak lagi yang ingin kulakukan. Beberapa bulan lagi aku akan mengupayakan breast implant, liposuction di dagu karena daguku berlipat–sebelumnya liposuction telah aku lakukan pada paha atas dan lengan atas yang dikatakan mirip lengan ibu paro baya–. Aku juga tertarik lasik agar mata minus ini sembuh, terus terang kacamata membuatku terlihat tak seksi. Lalu aku berharap operasi pemotongan rahangku yang kotak seperti pria, aku ingin wajahku lebih oval. Satu lagi, aku akan membuang kantong lemak kecil di pipi. Santai saja, aku akan melakukannya kantongku pulih.

Aku jujur soal sakit dan pantangan setelah operasi, tapi hasilnya impas dengan rasa sakit yang kualami. Akan lebih mudah mendapat pekerjaan–aku teringat dulu aku pernah tak diterima kerja karena fisik–. Akan lebih mudah mendapatkan pria–aku teringat jika aku pernah ditinggalkan pria karena masalah fisik–. Akan lebih mudah diterima oleh masyarakat–karena aku teringat bahwa masyarakat begitu duniawi–.

Tetapi sejauh apapun aku menyakiti diri sendiri untuk menjadi cantik, aku masih harus berusaha untuk memupuk intelejensi dan kepribadian yang menarik. Benar kata temanku, cantik akan hilang dimakan waktu sedang intelejensi dan kepribadian tidak. Jika sudah begini, aku cuma bisa iri dan mengucap beruntung sekali bagi mereka yang memiliki ketiganya, cantik, intelenjensi, dan. pribadi menarik.[]

 
 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: