RSS

KOREK KUPING SUKRI; SEBUAH CERPEN

09 May
Oleh: Ardyan Amroellah

Sukri, orang penting di negeri Kliwon punya kebiasaan ajaib sejak kecil. Orang penting paro baya itu suka sekali mengorek kuping. Ada yang bilang tingkah itu hasil tular dari kakeknya, seorang abdi dalem keraton Kulon Kali. Si Kakek selalu meminta sang istri untuk menggelitik lubang kupingnya, menggunakan ranting lembut petai setelah dirontokkan daunnya yang kecil–kecil. Diceritakanlah hal itu pada Sukri. Sukri menirunya. Maka jadilah istri Sukri susah. Suaminya keenakan hingga sering lupa waktu jika sudah digelitik. Bahkan lupa melayat sang kakek yang meninggal kekelahan kegelian karena mengorek kuping

Untuk urusan mengorek kuping. Sukri memiliki pilihan favorit. Batangan cutton bud kecil. Sensasinya luar biasa, katanya kepada peronda kampung yang dia jumpai di angkruk pojok gang. Namun mungkin karena bosan, Sukri kemudian mencoba–coba. Kali ini dengan mencelupkan ujung cutton bud ke air hangat, baru kemudian dia masukkan ke kupingnya Hangat terasa di dalam kuping. Sukri merem melek.

Sayangnya, gara–gara si ajudan mengagetinya, Sukri terlalu cepat menarik keluar cutton bud itu. tertinggallah kapas basah di kupingnya. Kejadian dua minggu lalu terulang, saat itu kuping kanannya, kini kuping kini. Lengkap sudah.

“Waduuuh! Sobek!!” Sukri panik. Bingung. Akhirnya dia mencoba menarik kapas dengan cotton bud lain. Tapi yang terjadi, kapasnya malah kian masuk ke dalam. “Duh Gusti! Apes!!” Sukri galau.

Kupingnya sejak itu berdengung. Dan kedaplah pendengarannya. Sama persis dengan kuping yang kemasukan air. Ditambah usia yag menua dan saraf dengar yang mulai menurun, kian parahlah dampak bagi kuping Sukri. Pun bagi Sukri.

Seharusnya dia memeriksakan diri ke dokter telinga. Namun gengsi menghalanginya. Juga malu. Mau dikemanakan reputasinya sebagai orang paling penting jika peristiwa konyol itu sampai bocor? Sukri memilih bertahan dengan pendengarannya yang kini tak lagi peka.

Hanya dengan orang yang berbicara dengannya dari jarak dekat, Sukri masih mampu mendengarnya meski samar. Dia bisa menerka dari gerak bibir, mimik wajah, sampai gestur orang dihadapannya itu. Sesekali mengangguk. Pura–pura mengerti. Tapi, jika sudah berhadapan dengan orang banyak, linglunglah Sukri. Hasilnya, dia mengandalkan tebakan dari hatinya sendiri guna merespon.

Lambat laun, seluruh penghuni rumah memahami apa yang terjadi. Istri dan enam anak Sukri kini tahu persis kalau bapak mereka sakit. Pendengarannya tengah terganggu.

Anak laki-laki paling bungsu yang paling jahil. ”Bapak, uangnya aku ambil!” dia berbicara jarak jauh. Cerdik sekali.

Sukri tidak mendengar. Tapi malas bertanya. Maka pilihannya tinggal menggeleng atau mengangguk. Hatinya menebak menggeleng, maka menggelenglah dia. Tapi wajah si bungsu langsung merengut sedih. Seketika dia rubah dengan anggukan yang menyebabkan anaknya sumringah. Begitu terus.

Akhirnya apa yang dikhawatirkan Sukri terjadi juga meski dia tak pernah tahu. Dia masih merasa rahasianya aman. Tak ada yang tahu. Tak ada yang mengerti.  Sayangnya tidak, kondisinya diketahui beberapa orang diluar rumah.

”Pak, saya butuh dana rehab jembatan sebesar satu milyar. Bisa diambilkan dari kas?”

”Oke.” Pak Sukri mengangguk.

”Pak, proyek rusunawa pantura biar saya yang pegang.”

”Gampang,” Sukri mengangguk lagi.

Istri Sukri pun tak mau ketinggalan ambil bagian. ”Pak, aku buat yayasan bagaimana? Lumayan buat keluar masuk uang kita. Nggak mungkin pajak akan masuk ke yayasan. Bukankah begitu, Pak?” katanya.

Sukri mencoba memperhatikan gerak bibir istrinya. Tapi percuma, sang istri lihai berbicara. Sengaja dirapatkan bibirnya agak suaminya kesulitan menebak. Satu-satu yang terbaca Sukri adalah soal sang istri mau bikin sebuah yayasan. Empati istriku tinggi, batin Sukri. Yayasan adalah lembaga sosial. Sangat membantu, untuk membuat ia terpilih kembali sebagai orang penting negeri Kliwon. Maka berdirilah yayasan Kliwon Jaya.

Sampai sebuah titik, semuanya menjadi kacau. Masyarakat resah bukan main. Beginilah, karena merasa kian tertindas oleh ulah manusia yang sewenang–wenang  mengatasnamakan Sukri. Namun tentu saja, yang dirugikan dan menggerutu adalah jatah mereka yang telat melobi Sukri. Rakyat sudah mendelik. Susahnya lagi. lebih banyak rakyat yang tak berani mati. Bila bersuara lantang, yang memberangus sudah siap bersama bedilnya. Bila tak berbicara, sama dengan merusak jiwa dan mematikan nurani. Jadi harus bagaimana? Tuhan tahu tapi Dia Cuma menunggu. Sukri hanya tahu dunianya damai. Tenang. Sentosa.

Waktu bergulir. Menanjak dan menukik. Menjadi saksi kapas di kuping Sukri bersemayam dengan leluasa semula pelan–pelan mengecil karena proses alamiah. Perlahan suara mampu menembusnya. Memberikan ruang untuk gelombang bunyi masuk.

Ketika sedang duduk di balkon lantai sepuluh rumahnya yang berpagar sepuhan emas, Sukri merasakan sesuatu menggelinding keluar dari dalam dua kupingnya. Dia terhenyak memandangi kapas yang telah memadat dan mangkak itu. angin bersuara di luar telinga. Dia mendongak. Langitpun turut bersenandung. Seekor burung emprit menclok di dekat kursinya. Bercicit. Ajaib, Sukri mendengarnya sangat jelas. ”Dancuk! Pendengaranku pulih!” dia berjingkrak–jingkrak.

Sontak seisi rumah dan kolega yang selama ini menikmati ke-budeg-an Sukri panik bukan kepalang. Mereka langsung ketakutan. Bagaimana jika Sukri sampai tahu kondisi sebenarnya diluar rumah? bagaimana jika rakyat bisa dia dengar omongannya? Apalagi seratus meter dari rumahnya tengah berlangsung demo gedhe menuntut para bromocorah yang mengatasnamakan Sukri mundur atau mati. Sukri yang mendengar gaduhnya bingung. ”Suara apa itu? Ada apa? Sepertinya rakyatku berteriak–teriak…” tanya Sukri kepada istrinya yang angkat bahu. Sukri heran dengan orang seisi rumah. Semua menggeleng tak tahu. Batinnya bertanya–tanya. Sementara, gaduh itu kian dekat. Kian lantang di kuping Sukri.

”Turunkan harga! Hapus korupsi! Kembalikan uang rakyat!!”

Kalimat itu paling jelas Sukri tangkap sebelum memandang keluarga dan para ajudannya ”Tuh, kalian dengar suara itu? Siapa yang korupsi? Siapa yang menaikkan harga? Siapa yang mencuri uang rakyat? Sial aku bingung!! Ada apa ini? Ada apa ini?!!” Sukri setengah mati bingung.

Si bungsu yang dosanya paling sedikit diantara kakak–kakaknya akhirnya angkat bicara. Memberanikan diri. Diceritakanlah kronologis peristiwa satu persatu. Terdiamlah Sukri selama anaknya bercerita. Tak ada cahaya di mata orang tua itu. Nafasnya pelan. Rambutnya dia tekam.

“Maafkan kami, Pak.” istrinya merajuk. Mendekat dan mengambil tangan suaminya untuk dicium. Sukri luluh jika sudah begitu.

“Pak, rakyat yang demo diluar kita apakan?” ajudannya yang sejak tadi tak tenang nekat bicara. Mengingatkan tuannya agar bertindak cepat. Sukri segera membisikkan sesuatu ke telinga ajudannya itu. Rakyat sudah dirugikan. Masyarakat sudah banyak yang terkorban. Jumlah orang–orang miskin semakin berhamburan. Tindakan memang harus segera diambil! Batinnya berseru.

”Turunkan harga! Hapus korupsi! Kembalikan uang rakyat!!!” suara-suara di luar semakin santer terdengar.

Lima menit. Sepuluh menit. Si ajudan belum kembali dari tugas yang diperintahkan Sukri. Ajaibnya, tiba–tiba gaduh rakyat diluar berhenti dengan cepat. Tak lama berselang,  ajudan itu kembali dengan bau mesiu dari senjata di pundaknya. Sedang di tangan kiri tertenteng sebuah benda kecil.

“Urusan demo beres?”

“Siap! Sudah teratasi, Pak.”

“Pesananku?”

”Siap! Ini, Pak. Saya membawakan cutton bud yang sudah dibasahi dengan air hangat. Sesuai perintah bapak.” dengan hormat si ajudan menyerahkan barang bawaannya.

Pak Sukri menyeringai. langsung berjanji memberi kenaikan pangkat bagi ajudan muda itu. Adapun cotton bud segara melakukan tugasnya. Memuaskan dahaga Sukri akan mengorek kuping. Dan dalam sekejab dunianya kembali damai, nyaman, sentosa, tak bising oleh suara.

”Aku mau istirahat dulu, kalian urus saja apa yang perlu diurus.” pesannya kepada semua orang yang ada di depannya sambil mengunjukkan sarung. Dan orang penting di negeri Kliwon itupun berjalan pelan ke kamarnya untuk istirahat.[]

 
1 Comment

Posted by on May 9, 2012 in Cerita Pendek

 

Tags: , ,

One response to “KOREK KUPING SUKRI; SEBUAH CERPEN

  1. hamimatul ubudyah

    May 21, 2012 at 7:28 pm

    analogi yang sangat tepat buat pemimpin yang sangat amat budek terhadap kondisi rakyat kecil

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: