RSS

KAU MENYEBUTNYA APA?; SEBUAH CERITA

24 Apr

Oleh Ardyan Irizar

“Cong, lo mau sahur pake ayam crispy apa mi goreng bikinan Udin?!”

Suara salah satu teman kos mengalahkan telak kokok ayam. Sama nyaring tapi lebih cempreng. Butuh waktu lama ternyata untuk mengumpulkan nyawa yang terburai kemana-mana dan melebarkan kelopak mata yang memang aslinya sama sekali tidak lebar.

“Acoooong!! Eh, cina monyong! Telat lima menit cuma ada mi goring buat elo!!”

Mulut Ucok, temanku itu sepertinya memang harus berkenalan dengan ulekan sambal. Tapi biar saja, aku baru sadar suara cemprengnya lebih dahsyat daripada alarm ponselku dalam membangunkan. Padahal dia ada di dapur belakang. Luar biasa.

Ah iya mana ponselku?

Ada sinar berkedip yang dari ujung kakiku. Itu dia. Ada sms masuk. Kutekan tombol kuncinya dan ternyata ada dua sekaligus.

Kak Steve, gmn kbarny? Mav y kak, smsq bwt ka2k susah. Sdh stahun ka2k g plg, mav ya kak, jk kmrn q benci hnya krn ka2k sdh mninggalkn agama klwrg qta, Q sdh g marah, lbur lbaran bsok q ingn ka2k plg. Bisa ya?! ^_^    –Adikmu, Stella-

 

Aku menghela nafas, lalu kubuka sms yang kedua,

Asslmualaikm. Mas Steve baik2 sja? Cm mo ngbarin, insya Allah bsk ahad tmn2 qt buka brsm sklian reuni. Kita jg mau slturahim ke rmh org tua Arif skalipn tdk bs ziarah lgsg ke mkamny. Oh ya mas, org tua Arif jg ngdain sykuran kcil2an utk Nisa yg sdh dtrma PTN. Kalo bs mas Steve ikut yaJ.   —Rani—115

Kuletakkan ponsel. Tatap mataku menabrak langit kamar. Dua pesan itu mengingatkanku. Sesuatu yang entah sudah berapa lama hilang. Kerinduanku akan keluarga dan sahabat kembali segar lewat pesan tadi. Arif? Bagaimana kabarmu, Sob? Jago berantem tapi juga menyukai sholat. Dia bangga dengan agama yang dia tularkan padaku. Sahabat kecil hingga kuliah. Sosok hangat tempat berbagi ilmu, kenakalan dan diskusi. Teman yang telah membawaku mengenal islam. Dan memantapkanku memeluk agama yang tak pernah kusangka membuatku dijauhi keluarga bahkan adikku tercinta.

Kepergiannya menghadap Tuhan setahun lalu tanpa pamit membuat hidupku abu-abu. Kelam tapi tak hitam, Gelap tapi tak mati, bersih tapi tak putih. Entah Dia merencanakan apa hingga hari ini aku merasa tidak benar-benar ditinggalkan. Tak kupungkiri, aku masih merasa keyakinan ini kuanut setengah-setengah. Perlahan menguap bersama dengan meninggalnya Arif karena tifus. Tapi aku juga terlalu pengecut kembali ke kenyamanan semula. Aku tak sanggup mengkhianati sahabatku. Meski kadang aku tahu, bukan Arif yang seharusnya tak sanggup kukhianati. Dan juga bukan keluarga yang sakit hati karena kutinggalkan.

“Coooong!!”

Bersamaan dengan teriakan kawanku ini, ada satu lagi pesan masuk, nomor asing.

Asslm dik. Maaf gnggu, ayo sahurJ!! Skaligus mngundangmu nanti sore jam 4 utk dtg krmh mbak. Biar nnti dijmput suami mbak di kostmu. Ada syukuran kelahiran untuk Nahwa, putri pertama mbak. Oya, gmn luka-lukamu? Smg cpt smbuh ya…..Salam hangat.   Mbak Izza.

Mbak izza?

Ah…wanita yang kujumpai di bus kota hari itu.

“Coooong!! Hitungan tiga nih, atau lo makan mi!”

Ah. Baiklah. Satu panggilan lagi, temanku itu masih bernyanyi. Dan aku harus berlari ke dapur. Kali ini aku tersenyum. Rabb, Bolehkah ini kusebut sebagai Hikmah dari-Mu?

ψ ψ ψ

Sebelas hari sebelumnya…

Di kampus, hari pertama Ramadhan.

“Puasa pertama kenapa panasnya kayak neraka bocor gini ya?!”

“Anjirrr….liat tuh si Ajeng, puasa-puasa gini nekat pake tanktop. Kalo puasa gue batal, nuntut ke siapa dong?!”

Kulewati beberapa gerombolan mahasiswa yang tak henti-hentinya mengeluh soal puasa. Miris. Lihat aku! Langkahku masih tegap. Wajahku segar meski matahari sungguh tega hari ini. Mereka lucu, saking lucunya aku bisa saja meludah di depan mereka. Mengaku puasa, tapi raganya masih rajin berlomba mencatat dosa. Tak ada yang lebih buruk dari kumpulan manusia munafik ini. Lihat aku! Tiga mata kuliah sudah kuhabisi hari ini. Dan lagi-lagi mengkambinghitamkan puasa, dosenku menyingkat materi. Memberi alasan bahwa tenggorokannya sudah kering.

Aku menuju di sebuah rumah serupa rumah adat Minang di depan kampus. Sepi ketika aku masuk. Tulisan raksasa di atas pintu masuk membuatnya tersenyum bodoh. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa – RM. Padang Bundo Margarito. Aku edarkan pandangan sejenak. Lalu menuju ke kursi paling pojok dekat jendela. Keletakkan ransel saat seorang gadis muda sedang mengelap meja sebelahku. Dia pelayan.

“Mbak, Gulai Kepala Kakap Pedas satu. Minumnya es teh manis.”

Tatapan mata heran meluncur darinya. Tanpa bertanya, aku tahu apa yang ada di benaknya. Seorang laki-laki muda tegap seperti aku tak berpuasa, kalau bukan non muslim aku pasti disangka gila.

“Eh, iya mas. Ditunggu ya.” dan dia berlalu setelah meja sebelah beres.

Terus terang aku terganggu dengan tatapan itu. Kalau mereka tak siap melayani orang sepertiku, kenapa tetap buka? Ah sudahlah, bukankah sejak awal telah kutekankan bahwa puasa adalah suatu kekonyolan. Berulangkali meributkan hukumnya, tapi di sisi lain kita masih melakukan hal buruk di dalamnya. Diharamkan makan dan minum saat siang, tapi ada yang mencuri setitik air pada saat wudlu atau sikat gigi. Dalihnya tak sengaja. Sekali mungkin tak apa-apa, tapi bila tiap hari mereka menyerbu kran air? Meski sudah jelas di kepala, puasa adalah menahan hawa nafsu. Entah kenapa masih saja tiap menjelang berbuka, ramai-ramai mereka keluar rumah. Istilahnya Ngabuburit. Masih maklum jika cuma santai-santai di taman kampus. Bukan, mereka memilih mall. Cucui mata dengan sabun yang bernama gadis–gadis. Ironis? Berpantang dengan hawa nafsu tapi mereka bermain api dengan syahwat. Sungguh hebat!

Menuku sudah datang. Halau perasaan tak nyaman. Mulailah menikmati. Aku keluarkan sebatang Wismilak Diplomat setelah selesai. Kuhisap perlahan sampai habis. Aku baru saja menyangklong ransel dan bersiap membayar di kasir ketika menangkap sebentuk manusia buru-buru menghambur masuk rumah makan.

“Mbak, permisi ya. Aku boleh masuk numpang pakai toilet? Kepepet banget!”

Seorang wanita muda, berjilbab dan sepertinya hamil. Tergesa-gesa. Aku tak terlalu peduli. Wanita itu gegas ke toilet setelah pelayan menunjukkan sinyal tidak keberatan kedatangan orang yang hanya numpang pakai toilet. Kukeluarkan segenap lembar uang. Kusodorkan lengkap dengan senyum sok ramahku. Kembalian sudah di tangan.

Sekarang mau kemana? Pulang kos? Malas. Aku sedang tak ingin main remi yang dibumbui obrolan mesum dengan teman-teman. Itu masih lumrah, lebih gila lagi ketika kamarku disabotase untuk main game dengan mesin PS3 yang kupunya. Jika sudah begitu Bising, punting, dan abu rokok di seluruh penjuru. Jadi kuputuskan ke Gramedia saja, mungkin ada buku menarik yang enak dibaca.

Di halte, kutunggu bus sembari main game ponsel. Wanita hamil yang kutemui di rumah makan tadi berjalan ke arahku. Aku sambil lalu memandangnya.  Dia menghampiri halte dan duduk sedikit jauh dariku. Kuperhatikan dia lagi dan aku lihat dia tersenyum. Kubalas senyumnya. Dia ternyata mengenaliku.

Bus tujuanku datang. Bus yang sepi membuat sang kondektur turun cari penumpang. Sudah bisa dipastikan bus itu ngetem lebih lama. Menunggu bus penuh. Tapi dugaanku salah. Selang beberapa menit, supir mengaba kondektur untuk naik. Bus akan berjalan.

“Tunggu, Pak. Aku naik!” seru seseorang dari luar.

Bus berdecit lagi. Dari arah pintu wajah wanita tadi muncul. Aku membatin, kenapa dia nyaris ketinggalan kalau ternyata dia juga bermaksud naik bus yang sama denganku? Di belakang wanita itu, ikut masuk penjual minuman.

“Fiuuuh… Hari ini panas banget! Berat nian godaan puasa, apalagi ada tukang jual minuman. Paaass!!” gumamnya. Tak jelas maksud gumamnya apa.

“Puasa mbak?” tanyaku basa basi daripada bengong.

Wanita itu memandangku sebelum mengangguk. “Insya Allah,”

“Hamil ya? Berapa bulan?”

Dia tersenyum, “Jalan sembilan bulan.” jawabnya ringan.

Hah? Sembilan builan?! Tak masuk akal! Wanita dengan perut sebesar ini bukan waktunya memikirkan puasa atau tidak. Bayi lebih penting. Puasa kedengarannya seperti ide buruk. “Nggak takut kenapa-kenapa sama bayinya, Mbak?” tanyaku lagi.

Dia nyengir, “Alhamdulilah, nggak ada masalah. Selama niat diluruskan, apapun nggak akan pernah jadi penghalang.”

Aku menjadi tertarik ngobrol. “Setahuku wanita hamil nggak wajib puasa.”

“Nggak wajib bukan berarti nggak boleh puasa, kan? Aku nggak pernah maksain diri. Toh hamil sembilan bulan ini juga bukan lagi masa kehamilan yang beresiko tinggi lho. Oya, kamu masih kuliah?” dia bertanya setelah mengamatiku.

Aku cuma mengangguk, meneruskan tanyaku. “Bagaimana bisa?”

“Emang gitu kaliiii….. kenapa? Kamu khawatir ya? Takut kalau aku tiba-tiba melahirkan disini terus kamu yang repot mengurusnya, gitu?! Eh….n Astaghfirullah, perutku dik… ka.. kayakny…ke…ketubannya pe…”

Keringatku mendadak terasa dingin. Reflek aku memegang bahu wanita itu. Bingung. Panic. “Mbak.. mbak.. Waduh, Mbak nggak  apa-apa?”

“Bayi.. bayiku ka.. yaknya… Ahhh…aduuuhhh!!” ucapnya terbata-bata. Wajahnya terlihat pucat. Jantungku berdetak lebih gila. Aku menelan ludah. “Bayiku.. mau..mau.. lebih lama di dalam perutku!”

Bis seketika hening. Lalu dia ngakak. Penumpang lain menggerutu.

Skak mat dan aku melongo.

Gondok sekali. Sama sekali tak lucu dikerjai orang yang baru dikenal, hamil pula. Padahal hingga sekarang kagetnya masih terasa. Keringat dinginku tidak berhenti keluar. Bagaimanapun, bercandanya sungguh keterlaluan.

“Eh, kamu marah ya?! Aku benar-benar nggak punya maksud buruk kok. Aku ngerti kalau orang lain kadang khawatir. Tenang saja, suamiku juga kadang khawatir. Hahaha.” dia tertawa.

“Terus, kenapa suami malah membiarkan mbak puasa yang jelas-jelas bisa mengganggu kesehatan?!”

Wanita itu terdiam lagi. Mungkin keheranan atau lebih tepatnya mangkel kenapa aku terlalu ngotot. Tapi yang dilakukan wanita itu malah mesem. “Nggak ada suami yang melarang istri untuk beribadah.”

“Tapi–”

“Memang agama memberikan kemudahan buat kita yang berhalangan melaksanakan kewajiban.” dia menyela seolah tahu apa yang ada dipikiranku. Aku bingung antara ingin mendengarkan atau mendebat. Tapi cara bicara wanita ini sama sekali tak menggurui. “Aku sih bukannya sok kuat, Dik. Aku memilih puasa bukan tanpa sebab. Suami juga tahu hal ini. Ramadhan itu bulan spesial. Begitulah. Eh, aku sudah bilang kalau anakku mau lahir kira-kira minggu-minggu ini?” dalam waktu singkat nada suaranya yang dewasa berubah ceria dan kekanakan. Aku tertawa singkat. Senang mendengar kabar gembira dari orang lain tapi tetap belum puas dengan jawabannya. “Beberapa wanita hamil lain mungkin ada yang mengkhawatirkan janinnya, jadi mereka nggak puasa. Itu diijinkan. Setelah itu dia harus membayar utang puasanya. Tapi kamu salah besar jika mengira wanita hamil itu lemah.”

Aku memperhatikan lagi sosoknya. Sama sekali tidak terlihat letih saat dia membicarakan kehamilannya. “Jadi mbak mau bilang, kondisi psikis juga mempengaruhi kesehatan?”

“Lha itu, tepat! Kamu tahu hormon ibu hamil sembilan bulan tuh cenderung bagus?”

Dan aku menggeleng.

“Kata bidan, hamil delapan atau sembilan bulan lebih ‘aman’ dibanding hamil tujuh bulan ke bawah. Hohoho… Jadi kuliah soal kehamilan nih! Kalau kondisi fisik bagus, puasa juga bukan halangan.“

Skak mat (lagi).

Ucapannya sama saja menyindirku yang kedapatan tidak puasa meskipun dalam kondisi fisik yang segar bugar.

“Tapi tetap saja untuk sebagian orang, puasa bisa jadi merupakan halangan. Sebulan full menahan lapar, haus, dan nafsu itu nggak hal yang mudah. Nggak usah ditunjuk aja hasilnya banyak yang melakukan dengan terpaksa. Mereka puasa kayak main-main saja. Benar kan?!” Sejenak aku merasakan wanita itu memandangiku. “Kamu… non muslim?” lanjutnya. Aku menggeleng. “Kalau begitu islam liberal mungkin?”

Aku tersenyum singkat. Lalu menggeleng lagi, kujawab “Aku malah nggak ngerti apa itu islam liberal.”

Wanita itu mengangguk-angguk lagi. “Pasti kamu kuli bangunan ya?”

“Apa??!”

Dia ngakak, “Cuma bercanda!!” menepuk bahuku. “Jadi kamu muslim ya? Aku nggak mau komentar ah! Aku nggak mau menilai kamu cuma dari laporan pandangan mata bahwa hari ini kamu nggak puasa dan aku temui sedang makan di rumah makan Padang.” melirik padaku. Aku cuma garuk–garuk kepala. Skak mat ketiga.

“Karena dari awal hal yang menentukan nilai ibadah itu sendiri adalah niatnya. Mungkin kamu lelah dengar ini dari pengajian dan kuliah agama, tapi mau sampai kapanpun jika niatnya nggak benar ya hasilnya juga nggak akan maksimal. Bener kan?! Sama aja kayak kamu capek-capek kuliah, bayar mahal-mahal ternyata yang kamu cari di universitas itu cuma tempat nongkrong, ngrumpi sama cari perempuan,” terusnya lagi.

“Aku nggak begitu buruk kok,”

Dia menatapku, “Oya? Bagaimana menurutmu soal televisi kita saat Ramadhan.”

“Maksud mbak?” tanyaku penasaran.

“Ya kayak yang kusebut tadi, balik ke niat. Kamu lihat TV waktu Ramadhan? Demi rating, uang dan popularitas mereka ramai bikin acara Ramadhan. Sinetron seratus episode, musik berbau religi, kuis aneh pas sahur. Yang penting uang mengalir lancar di kantong.” terangnya. Mau tidak mau aku tertawa mendengar kesinisannya. Keadaan berbalik. Harusnya aku yang bilang begitu. “Nggak heran, dari budaya yang kayak itu, orang-orang kayak kamu bermunculan. Skeptis terhadap agama. Itu sama saja dapat wejangan iman dari orang yang justru banyak maksiat, jelas yang keluar dari mulut kita bukan ucapan tobat malah cibiran.”

Aku manggut–manggut. Hal seperti itu pernah juga terpikir olehku. Tapi buatku itu bukan hal yang harus dilawan. Itu cuma efek dari membaurnya budaya liberal dengan lokal. Agama dan modernitas yang berlebihan. Beberapa hal aku pikir mungkin berguna tapi yang lainnya bisa jadi sia-sia.

“Apakah memang itu yang buat kamu sinis dengan Ramadhan?”

Aku menghela napas. Bertanya pada diri sendiri? Apa memang benar seperti itu? Dan sejak kapan kami sudah bicara akrab begini? Mau tidak mau aku tertawa dalam hati.

“Sebenarnya aku–”

“Awasss, Pak!” Tiba-tiba wanita di sebelahku ini sudah berteriak. Sebelum aku menyadari apa artinya, rasa pening menimpa kepalaku. Dan suara teriakan beberapa penumpang makin membuat dadaku tercekat. Suara benda logam bertumbukan. Keras. Sangat keras. Lalu kulihat semesta berputar. Suara teriakan berganti rintihan. Aku mulai membuka mata. Tidak percaya. Hanya dalam sekejap mata, aku mencoba bangkit dari bus yang terbalik. Asap dimana-mana, membuat mataku perih. Tapi aku melihatnya, menatap nanar sopir yang terkulai dengan darah membanjiri kepala dan tubuhnya yang terjepit.

“Dik, bayiku!”

Aku merasakan lenganku sakit karena cengkeraman seseorang. Ya Tuhan, aku lupa siapa yang sedang kesakitan di sebelahku. Dari raut muka dan air matanya jelas, tak ada kepura-puraan lagi seperti tadi.

ψ ψ ψ

“Masih belum pulang, Dik?” seorang lelaki menanyaiku. Aku mendongak menatap sosok pria santun yang menyodorkan air mineral. “Ini sudah waktu berbuka. Maaf kalau cuma air mineral.”

“Aku nggak puasa.” kujawab sambil menerima pemberiannya.

Pria itu manggut–manggut. Hening lagi. Aku mengerti bahwa tak ada hal yang membuat kami harus meneruskan obrolan ini jika orang yang paling penting di hidupnya sedang bertarung dengan maut dibalik pintu yang ada di hadapan kami. Aku memandangnya sekali lagi, sosok suami dari wanita yang beberapa waktu lalu bercengkerama denganku. Matanya dingin, tak menunjukkan kekhawatiran berlebihan. Tapi aku tahu, dia tengah berdoa hebat pada Tuhannya, bagaimanapun dia tetap seorang suami yang berharap istri dan calon anaknya selamat. Aku mencoba membuka percakapan.

“Aku nggak menyangka…”

“Takdir, Dik. Yaah.. takdir.” dia menghembuskan nafas panjang. “Kita cuma manusia. Allah yang berkehendak. Termasuk istriku.” Komentarnya lirih. Aku mengangguk. “Istriku sedang puasa. Nggak ada yang sia-sia jika itu sudah mendapat ridho Allah. Alhamdulillah, berkat puasa operasi sesar bisa cepat dilakukan dan nggak perlu menunda lagi. Tapi mungkin butuh waktu lebih lama buat pulih karena luka-luka yang dialami. Mohon doa, Dik.” sambungnya mantap namun tetap pelan. Ada ketenangan di balik wajahnya yang lelah.

Sekonyong–konyong aku mendengar tangisan bayi. “Itu, Mas–” urung kuteruskan karena aku melihat ketenangan yang ditunjukkan pria itu pecah. Bahunya terguncang. Tangan menutupi wajahnya.  Menahan tangis. Sial! mataku juga mulai ikut berair. Aku lebih baik diam.

“Aku berterima kasih atas bantuanmu. Pulanglah, Dik. biarlah aku urus selanjutnya.” Bibir lelaki itu bergetar. Menepuk bahuku.

Dia meminta nomor ponselku. Aku ikut bersyukur anak wanita itu terlahir selamat. Diluar, aku memandang nanar keluarga sopir yang tewas menangis meraung–raung. Coba ditenangkan beberapa suster.

Beberapa saat, memar bekas benturan di kepalaku ini serasa tak seberapa dibanding sakitnya keluarga yang saat ini ditinggal pergi salah satu anggotanya seperti sopir itu, atau sakitnya seorang wanita ketika meregang nyawa melahirkan satu kehidupan baru didunia.

Hari ini, satu rangkaian peristiwa, dan membuatku menyadari satu hal. Kurang syukur. Itulah aku. Perlahan. Kejadian-kejadian itu menjadi semacam pupuk untuk jiwaku.[]

 
3 Comments

Posted by on April 24, 2012 in Cerita Pendek

 

Tags: , ,

3 responses to “KAU MENYEBUTNYA APA?; SEBUAH CERITA

  1. hamimatul ubudyah

    May 21, 2012 at 8:03 pm

    wow amazing

     
  2. Te'gar Nuansa

    August 25, 2012 at 3:13 pm

    kyknya FLPKU.wordpress.com bKlan jDi weBsiTe favOrit plus! Tempat belajar

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: