RSS

28 APRIL 1986 – 28 APRIL 2012; EPISENTRUM CINTA

24 Apr

Oleh Ardyan Irizar

Untuk Juwariyah, istriku yang kucinta.

Aku tidak tahu dari mana harus memulai surat ini, istriku. Aku juga tidak tahu apakah ketulusanku ini akan memperoleh sambutanmu. Tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku adalah suamimu. Yang paling hebat. Yang paling sadar.

Setelah anak–anak kita besar, aku baru merasakan sesuatu yang ganjil belakangan ini. Apa kau tahu kenapa aku tiba–tiba sangat membutuhkanmu? Lalu timbul keganjilan lain, sebuah pertanyaan, apakah kau juga membutuhkanku? Bukan aku ragukan cintamu yang tulus padaku. Bukan, bukan itu. Aku hanya ingin memantapkan hati di usia senjaku. Sekedar mengingat saat kita pacaran dulu. Saat kau menepuk tanganku karena berniat menggandengmu. Saat kau marah ketika kucium pertama kali. Aku jadi mengerti, kaulah yang kucari. Meski keluargamu nasrani, aku hanya butuh kau. Lembut, santun, mulia, suci, menjaga diri dan penuh kasih sayang.

Istriku, ingatkah kau saat kita jatuh dulu? Berpindah dari satu rumah kontrak ke rumah kontrak lain? Hutang sana–sini hanya untuk mengeluarkan si sulung dari rumah sakit? Ingatkah kau saat keluargaku begitu sinis padamu? Kau membalas apa pada mereka? Sekali lagi aku mengerti, Tuhan barangkali benar–benar meletakkan tulang rusukku padamu. Kenekatanmu untuk ikut kajian islam dengan para perempuan berjilbab lebar kala itu, meski lafal qur’anmu masih seperii orang cegukan, aku kagumi. Karena sejak itu, tiang agama di rumah yang semula hanya dari kayu kelapa, telah kau ganti dengan kayu meranti yang liat lagi kuat. Kurang apalagi ketika syukur telah kau ajarkan apdaku sejak awal kita kenal.

Istriku, aku kini lima puluh dua tahun. Dan kau enam tahun lebih muda. Aku ingat benar. Awal–awal kita menikah, kau seperti seorang adik yang selalu diam dan manut kakaknya. Padahal kau tahu, aku butuh wanita yang bisa mendebat. Atau setidaknya bisa berdiskusi. Aku tak butuh istri yang cuma bisa masak opor ayam kala lebaran, karena kaupun tahu saat kuliah di solo aku diajari masak ibu kos yang trenyuh melihatku selalu kekurangan uang untuk pulang. Aku tak butuh istri yang cuma bisa ngangkang di tempat tidur. Aku tak butuh istri yang cuma bisa menabung tapi melengos ketika ada pengemis. Maka aku heran, ketika wajahmu tergambar tepat empat kali aku istikharah. Aku gembira? Tidak, aku bingung.

Bingung? Iya. Tapi kini tidak. Waktu menunjukkan siapa dirimu. Kau jauh lebih keras dari sekedar ngambek dan menangis saat wanita mempertahankan pendapat. Kau mengandalkan Tuhan ketika bicara. Kukuh. Bahkan ketika kau menentang keras niatku membayar dua puluh juta waktu itu untuk memuluskan jalanku menjadi kepala sekolah. Aku kini sadar kau adalah pagar. Kau tidak sok suci. Kau hanya mengatakan, “Kalau mas menjadi orang yang mas kalahkan dengan cara seperti ini, apa yang akan mas katakan di depan Allah nanti?”

Istriku, kau ingat saat anak kedua kita lahir? Kau ingat pernah meminta bahwa itu adalah anak terakhir kita? “Dua cukup, Mas.” Itu katamu dulu. dan aku menurut meski aku sebenarnya suka tiga. Sekali lagi, baru aku mengerti hari ini mengapa kau ingin dua. Membesarkan anak ternyata tak mudah. Kita tak boleh egois bukan? Jika banyak anak namun semuanya tak bisa hidup layak, lebih baik sedikit. Apalagi ketika itu roda nasib kita sedang di bawah. Dua. Putra dan putri. Cukup. Lalu kau ingin pula jeda dua anak kita enam tahun, akupun menurutimu. “Biar seperti kita. Biar si kakak bisa berkenalan dengan teman si adik.” pikir usilmu kala itu. aku cuma tertawa.

Istriku, aku masih ingat bulan kita menikah dulu bertepatan dengan meledaknya Chernobyl. Kau tahu, ketakutanku setengah mati. Takut jika radiasi akan menghampiri kita. Anehnya, kau malah tertawa. Kau bilang, radiasi tak apa terjadi asal berguna bagi anak–anak kita kelak. Seperti Hulk. Seperti Spiderman. Begitulah, kau selalu memikirkan sesuatu dari tempat yang tak terjangkau orang lain. Seperti saat pertama kali kita bertemu. Aku tahu dari kawanmu bahwa kau sama sekali tak ‘menghitung’ aku. Aku mengerti harus berbuat apa.

Istriku, lihat anak–anak kita. Si kakak sudah jejaka. Si adik beranjak perawan. Mereka berdualah buah karyamu sebagai ibu. Dua anak yang mempunyai tugas mendoakan orang tuanya kini dan nanti. Dua anak yang wajib meneruskan kebaikan–kebaikan orang tuanya. Sebagaimana selalu kau katakan pada si kakak tentang jodohnya, “Carilah perempuan yang paling perempuan. Jangan seperti ibu yang masih sering nggresah.” dan kepada si adik, “Carilah pria yang kebaikannya seperti bapakmu. Pria yang punggungnya kuat.”

Istriku, sejujurnya kukatakan, kau adalah ukuran kebaikanku di duniaku. Semoga engkau tahu dan memahami ini. Betapa berat amanah yang telah Tuhan berikan padaku setelah menikahimu. Aku diwasiati untuk menjagamu. Aku tahu hal ini bukan sekedar karena rasa cintaku. Karena melalui mahar, aku membelimu beserta hak dan kewajibanmu. Oleh karena itu, aku tak ingin menjadi seorang suami durhaka sebab tak bisa berbuat baik kepadamu.

Istriku, ini tahun 2012. Kata sebagian orang bakal ada pembersihan dunia. Kau percaya? Tidak? Kenapa? Baiklah jika itu jawabanmu. Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu sebab esok bagiku adalah misteri. Jadi aku lebih suka menikmati hari ini dan hal–hal yang kita tahu saja. Selebihnya, seperti katamu, aku kembalikan ke Tuhan. Dan jika diberi umur panjang, aku ingin menyaksikan kalender menunjuk tanggal 28 April 2012 kelak. Hari dimana kita menjadi satu. Menautkan hati. Menautkan jiwa.

Istriku, jujur aku bingung. Layaknya bingung ketika mengawali surat ini, akupun bingung untuk mengakhirinya. Masih banyak yang bisa kita bicarakan. Tentang utang–utang. Tentang tabungan. Tentang masa depan, dan tentang sisa hidup kita. Namun sebelumnya, aku ingin kau tahu. Kita telah dua puluh enam tahun persis menikah di tanggal ini. mari kita nikmati nostalgia ini. Ke Yogyakarta? Siapkan koper kita.

Suamimu,
Sugeng Padmadi

 
4 Comments

Posted by on April 24, 2012 in Catatan Harian

 

Tags: , ,

4 responses to “28 APRIL 1986 – 28 APRIL 2012; EPISENTRUM CINTA

  1. hamimatul ubudyah

    May 21, 2012 at 7:49 pm

    ceritanya membuat q menangis sungguh bahagia orang mendapatkan suami seperti itu

     
    • Forum Lingkar Pena Kudus

      July 26, 2012 at 12:20 pm

      jangan menangis.:-)

      Berdoa agar mendapatkan yang anda butuhkan. Allah bersama anda.

       
  2. dinarprihatika

    November 30, 2012 at 6:41 pm

    HEH IKI OPO MAS????

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: