RSS

TENTANG SUJU ; KEGEMARANMU, MENULISKU DALAM SURATMU

13 Apr

Oleh Ageng Rikhmawan.

Bertepatan saat aku membuka surat elektronik.Dan hendak menghapus beberapa surat tidak penting. Tak disangka, munculah sebuah surat dari seseorang lama tidak bersua. Ada sedikit gejolak bisa terkuasai. Akhinya, butuh waktu sekejap lalu memutuskan membaca isinya.

Untuk : Mas Ageng Rikhmawan

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh,

Pertemuan yang lama tidak terhiasi perjumpaan lagi, hanya barisan huruf ini yang bersapa -menyapa. Apa kabar mas Ageng dan keluarga? Semoga selalu dalam keadaan berlimpah syukur. Akhirnya aku sudah menyelesaikan *******ku mas, tentunya dengan semampuku, dan sekarang meneruskan sisa perjuangan, dengan ditemani harapan dan doa tapi sepertinya tanpa semangat, entah….

Seseorang itu tiba-tiba membalas dengan sebuah tulisan buatan sendiri. Perihal ini membuatku sedikit tersenyum diawal. Sebuah tulisan seseorang yang berusaha untuk berlajar menulis panjang, adalah sesuatu  kurindukan untuk kubaca. Apalagi darimu. Keadaan pertama yang kusangka. Kau berada dalam puncak kegamaman. Sebuah pembuka nan pantas untuk sebuah surat yang lama tak engkau buat untukku.

Ada yang ingin aku ceritakan padamu mas, Hari ini Jum’at berkah, kupraktekan seharian ini dengan penuh doa seperti di sms mu mas,

“Berikanlah Hamba Uang 1 Milyar Ya Allah”,

karena hanya Allah yang punya uang lebih dari 1 Milyar. Aku ingin sekali ke MEIS Ancol, ada konser SuJu April ini disana, dan hari ini batas terakhir pemesanan tiketnya, akhirnya dengan belum dikabulkanya doa itu, sedih menjadi emosi yang harus dirasa.

Pesan pendek bernada konyol banyak ku kirim kepadanya.Itu sebagai balas dosaku atas banyak pesan pendek sebelumnya, yang bernada negatif. Bertema negatif, pemaksaan negatif dan menurutku membuat ia memfigurkan diriku sebagai orang dengan pemikiran negatif pula. Pesan tentang 1 Milyar hanya perpanjang tangan dari inti tulisan posiitif sebuah “semangat”. Yang biasa kuselewengkan. Yang ingin kukabarkan kepadamu walau dengan bahasa tidak lebih baik dari kata “semangat” sendiri.

Engkau hanya seorang remaja yang menikmati gelombangmu. Sedang aku tak mau mengutip beberapa kata bijakmu dahulu,dan tiba-tiba membandingkan dengan kegemaranmu sekarang. Tidak ada sederajat. Karena itu adalah kamu. Insan nan menikmati frekuensi gelombangnya sendiri.

Menjadi perdebatan hati yang tidak teurai juga waktu itu, ketika aku berfikir uang adalah salah satu cara untuk membahagiakan orang lain. Riil aku rasakan ketika melihat seorang tukang becak yang menunggu dengan mata waspada ke arah orang-orang yang dengan harapannya akan menggunakan jasanya, dan seorang anak tetanggaku yang berprestasi di olahraga tapi tidak punya uang untuk masuk SMA. Ibarat kata, untuk mengambil mangga yang aku inginkan di atas pohon saja aku tidak mampu, apalagi harus mengambilkan mangga orang lain yang sama tingginya di pohon yang berbeda, dan seketika muncul dalam pikiran kalimat penuh awalan “seandainya”, sebuah kata yang sangat aku tidak sukai walaupun setelah kata itu ada niat yang baik

Benar sekali. Kadang seperti itu. Ada waktu menghakimi Uang sebagai perangai buruk tujuan hidup. Tapi sampai pula kita pernah disuatu masa, harus tunduk pada Uang. Hingga benar-benar kita akan menelan ludah racun sendiri. Harus berjuang mencari uang yang kita dahulu kutuk hanya untuk bertahan hidup. Aku pernah merasakannya. Teringat Doa Sapu Jagat?  Kebahagian dunia dan kebahagian akhirat beriring berjejer menjadi sebuah cita. Tujuan kita hidup? Walau banyak roman mengatakan uang bukan puncak kebahagian. Uang adalah penting namun bukan segala-galanya. Itulah realitas yang kuterima di dunia, di Indonesia ini. Saat aku terbangun dari tidur panjang. Posisi hidup kita yang selalu berada dalam keterbatasan, semoga tak membuat kita jijik perihal uang.

Benar saja tanda – tanda setan mulai menggoda, sejenak luntur rasa syukur, prasangka hati mulai muncul, dan dosa menjadi ending yang harus ditanggung. Tapi aku masih dengan kesadaranku (#baca: setengah sadar setangah khilaf), dan untuk kesekian kalinya Rabb ku menunjukan rasa sayangNya, Kitab Majmu’ Syarif di kamarku jatuh ketika aku shalat Ashar dengan posisi terbuka pada Surat  Al Fath, Fath artinya kemenangan, kemenangan Rasulullah SAW bersama para sahabatnya banyak dijelaskan dalam surat ini, tentang hal itu diperoleh Nabi dan umat islam sesudah hijrah ke Madinah, sungguh fadlilah Surat ini sangat banyak. Hal yang selalu terjadi, penyesalan, air mata dan rasa tenang.

Engkau hanya seorang insan yang dicinta Tuhan. Pertanda-pertanda itu masih belum aku merasakan. Syukur yang terlipat ganda. Semoga engkau selalu diberkati oleh Nya.

Inna fatahnaa laka fathammubiina. Liyaghfira lakallaahhu maataqaddama min dzambika wamaata akh khara wayutimma ni’matahhuu ‘alaika wayahhdiyaka shiraatham mustaqiima. Wayanshurrakallaahhu nashran ‘aziizaa. Hhuwalladzii anzalas sakiinata fiiquluubil mukminiina liyazdaaduu iimaanam ma’a iimaanihhim, walillahi junuudus samaawaati wal ardli, wakaanallaahhu’ aliiman hakiimaa.

“Bahwasanya Kami menenangkan engkau secara nyata. Agar Allah mengampuni kesalahanmu yang terdahulu dan kemudian, serta menyempurnakan nikmat kepadamu, dan menuntunnya ke jalan yang lurus. Dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang besar. Dia lah yang menenangkan hati orang mukmin untuk meneguhkan iman yang telah ada, bagiNYA tentara langit dan bumi, Allah Mengetahui dan bijaksana” (Al Fath ayat 1-4)

Allah mengajari banyak hal. Memang benar, Allah tidak memberikan apa yang aku inginkan tapi memberikan apa yang aku  butuhkan. Mungkin belum saatnya, Allah mempercayaiku untuk menjadi perantara rejeki orang lain. Allah tahu niat baik seseorang, dan Allah mempersilahkan orang itu berusaha mewujudkan niat baiknya dengan apa yang dia ada, bukankah selalu ada jalan disetiap niat yang baik, ya aku bisa membantu mereka, dengan doa, semangat dan senyuman. Satu ilmu yang penting “belajar bersyukur”. Aku mulai ingat dengan kata- kata ku sendiri yang pernah aku tuliskan di email ku yang pertama , “bukankah iman itu, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal”, Introspeksi diri akhirnya, mungkin amal ku kurang, mungkin imanku masih rapuh, dsb. Perbaikan diri beriring penyesalan, Ijinkanlah Ya Allah.

(-__- “ sadar, ternyata aku masih labil)

Syukur bukan tanda kekalahan. Pada hal-hal yang tak sesuai harapan bukan? Aku juga sering bertelaah. Syukur seperti kita membuang nafas. Tanpa perlu berfikir panjang apa yang kita berikan. Lepaskan begitu saja?

** tulisan mu masih kusimpan rapi dalam laptop ku, sesekali kubaca lagi, sesekali pula mengusik ku untuk ikut menulis, aku suka, sangat suka…dan berharap mas Ageng akan terus menulis…

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Pramoedya Ananta Toer

Malam ini persis seperti yang mas katakan di *** 14 yang baru aku baca. Persis, aku sedang mengalami syndrome itu. Dan malam ini kembali memikirkan mereka, tapi ternyata tidak sekedar sebuah pemikiran, jauh didalamnya, aku sangat merindukan saat kincir itu berputar keras, tanpa ada penyesalan akibat hempasan kincir itu di keadaanku saat ini.

Menulis adalah keberpihakan kita pada kesunyian, untuk membuat simpulan-simpulan. Pada dasarnya aku tak ingin selalu berada dalam wliayah kesunyian. Namun tak pelak lagi, riuh kacau dunia menuntunku untuk selalu ada sebuah celah dalam melampiaskan letih. Riak bekerja keras di keramaian di imbangi menulis risalah momentum pada kesunyian adalah hiburan termurahku saat ini. Engkau juga bisa sama. Engkau juga punya hak untuk menulis apa-apa yang tak sinkronn dengan pemikiran dan tindakanmu. Engkau sudah banyak membaca melebihi aku. Selayaknya, seiring dan seimbang antara menulis dan membaca. Jangan sepertiku yang terlalu banyak menulis dan tak terlalu tertarik dengan membaca. Mulailah menulis. Aku juga bisa menulis karenamu.

Post-Power Syndrome yang kutulis kemarin juga penyakit lama. Aku harus bekerja keras untuk menyingkirkan itu.🙂

Ada sebuah note dari teman ku yang ingin aku bagi dengan mu mas, Baca ya,

Seperti hal Mobil, hidup memiliki spion yang dapat kita lihat kapan saja kita mau, saat kita mencoba mencuri hikmah dari apa yang sudah terlewati dibelakang. Namun tak disarankan bagi kita untuk melihatnya sepanjang waktu, karena jika ingin selamat selama diperjalanan tentu saja, pandangan harus fokus kedepan. Tapi terkadang hidup kita seperti pesawat terbang, tidak seperti halnya mobil, hidup kita tak bisa berjalan mundur. Rute perjalanan pun sudah ditentukan, tinggal melewatinya sebaik mungkin, kadang memang harus melewati awan hitam atau menatap indahnya awan dan langit biru yang cerah. Dalam hidup kita cuma punya dua pilihan, Jalan terus atau berhenti yang berarti mati. Begitu pun seperti halnya kereta api kelas ekonomi atau transjakarta pada jam 5 sore, terkadang hidup penuh dengan berdesak-desaknya penumpang. Penuh sekali. Gencet sana, gencet sini. Semua penumpang itu berdesakan ingin masuk dan ingin turun. Seperti penumpang yang ada di pikiran ini, penuh sekali. Banyak sekali kewajiban yang harus diselesaikan, banyak sekali tanggungjawab yang harus dibereskan, semuanya masuk dan keluar dengan berebutan. Atau seperti halnya becak, hidup itu penuh makna perjuangan. harus terus dikayuh dan akan menghasilakan peluh yang tak berhenti membasahi, terkadang mendesak kita untuk berkata,”saya lelah” dengan beban berat yang dibawa. Padahal perjalanannya masih sangat panjang. Terkadang jalan datar, tikungan, atau bahkan tanjakan yang memberatkan segala yang sudah berat. Hidup memang seperti halnya berkendara,ada kemungkingan dapat melewati jalan dan suasana yang nyaris serupa tapi pada hakekatnya tak akan pernah sama. Tak akan sama saat pertama kali melewati jalan tersebut. Saat melewati wilayah baru, kita sering bingung kemana jalan yang benar, lewat mana agar perjalanan segera sampai atau rambu-rambu apa yang harus diperhatikan agar tak kena tilang. Atau sekedar merasa bosan dengan tempat yang dilalui selalu itu-itu saja.

Hidup juga terkadang seperti buku. Ada yang tebal. Ada yang tipis. Ada yang isinya menarik. Ada yang membosankan. Ada yang kertasnya bagus dan berkualitas. Ada yang kertasnya jelek dan mudah sobek. Hidup seperti buku, ada pembukaan, daftar isi, berbagai bab, dan ada penutup. Ada yang bercover tebal, ada yang bercover tipis. Ada yang covernya indah dan menarik, namun ternyata isinya biasa saja, ada yang Covernya biasa saja namun ternyata isinya sangatlah menarik, ada yang covernya indah dan isinya pun begitu, dan ada pula yang tidak dua-duanya. tapi semua buku punya kesamaan, yaitu dia memiliki halaman, memiliki batas, dan memiliki akhir. Sama seperti hidup. Semua tiap halamannya adalah cerita hidup yang kita punya. Ada waktunya buku habis dibaca dan ditutup kembali. Begitu pun hidup. Setiap bab punya cerita sendiri, kisah tersendiri, dan bahasan tersendiri. Dan setiap bab yang satu selesai dibaca maka akan masuk ke bab selanjutnya. Selesai membaca bab kebahagian, bab kesedihan sudah menunggu.  Yak, Ada bab-babnya. Ada masa-masanya. Bab bahagia, bab duka, bab cinta, bab luka, bab perjuangan atau pun beribu jenis bab lainnya. Dan tiap bab pasti punya akhir.

“..Merasa bahagia sepanjang waktu bukan hanya tidak mungkin,tapi juga tidak manusiawi. Bersedih adalah bagian penting dari menjadi manusia, sebagaimana malam sama pentingnya dengan siang. Untuk dapat tampil seutuhnya manusia harus bersedia menyelami kesedihan sebagaimana dia menyelami lautan kebahagiaan. Berusaha keras untuk menyingkirkan kesedihan sama dengan keinginan menempuh separoh kehidupan saja..”

-Eric G. Wilson-  

Dalam kehidupan, kata mumpung menjadi kata yang sering menusuk-nusuk jiwa. Pelan tapi pasti. Dia sering datang dan membawa pilihan-pilihan. Seolah meneror, bahwa ada batas waktu yang akan habis. Seperti jam pasir yang pasirnya terus saja mengalir kebawah, perlahan tapi pasti, pasir diatas akan habis.

Dalam hidup pun begitu, banyak hal yang telah datang, lalu pergi. Yang dulu ada kini tak ada lagi. Yang dulu begini, sekarang begitu. Yang tak pernah terpikirkan, tapi malah kejadian. Yang terasa mustahil namun malah menjadi nyata. Yang diimpikan, namun tak pernah datang. Dan tiap hal baru hadir atau hal lama pergi, ada satu rasa pertama yang hadir, yakni, menyesakkan jiwa. Perih. Sedih. Namun, percayalah, pelan tapi pasti perasaan itu akan berganti menjadi biasa kembali. Seperti luka yang perlahan disembuhkan oleh fibroblast yang tak lelah memperbaiki jaringan yang rusak.

Seperti dulu, pertama kali harus pergi dari rumah dan meninggalkan orang-orang tersayang, datang ke semarang untuk ngekos pertama kali dan memulai hidup baru disemarang, rasanya menyesakkan jiwa. Tapi pada akhirnya semua menjadi terbiasa. Bahkan kini, saat harus menghadapi kenyataan sebaliknya, kelak akan meninggalkan nuansa kos dan kembali ke rumah, rasanya sama saja, meyesakkan jiwa.  Pada akhirnya bicara kehidupan adalah bicara tentang kesempatan-kesempatan. Bicara tentang makna “mumpung” yang diberikan. Yah, mumpung masih sehat, mumpung masih muda, mumpung masih mampu, mumpung masih bersama, mumpung masih bisa berbagi, mumpung oksigen masih gratis, mumpung ini, dan mumpung itu. Lakukan yang terbaik yang bisa kita berikan, goreskan warna terindah yang bisa kita goreskan, berbagi sebanyak yang kita bisa, mencintai dan menyayangi selagi masih bisa bersama, mengukir karya, memberikan segala yang terbaik yang kita punya. Mumpung masih bisa, mumpung masih ada di dunia, mumpung masih diberi waktu. Hingga pada akhirnya kita akan bersyukur terus untuk masih diberi waktu, untuk setiap yang terlalui. Bersyukur dimana pun kita berada. Dan bersabar dengan semua yang terjadi, seduka apapun itu, karena kita tahu, saat ini sedang waktunya menjalani”mumpung Allah masih sayang” , masih mau memberi cobaan yang kita bisa belajar banyak dari sana.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan Hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” 

(QS Al-Anbiyâ’ : 35)

InsyAllah bermanfaat, mumpung masih bisa berbagi. Mumpung masih bisa memberi. Karena pada akhirnya lama hidup hanyalah sebatas waktu antara azan dan shalat. Saat lahir kita di azankan dan saat meninggal kita di sholatkan. Bukan begitu? Yah, sepenggal lirik milik Ebiet g ade ini semoga membuka sapa selanjutnya..:)

“…Mumpung masih ada kesempatan buat kita,

Mengumpulkan bekal perjalanan abadi

Kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu

Entah sampai kapan tak ada yang bakal dapat menghitung

Hanya atas kasihnya, hanya atas kehendaknya

kita masih bertemu matahari

Kepada rumpun di lalang kepada bintang gemintang

kita dapat mencoba meminjam catatanNya

Sampai kapankah gerangan

waktu yang masih tersisa

Semuanya menggeleng semuanya terdiam semuanya menjawab tak mengerti,

Yang terbaik hanyalah segera bersujud mumpung kita masih di beri waktu…”

Titip salam dan doa buat keluarga di Kudus, Semoga keluarga berlimpah rejeki, barokah usia dan kesehatan. Aamien…

Wallahu A’lam Wa Billahit Taufiq wal Hidayah…

Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh,

Sang Kamaratih

**** 2, Minggu.06042012_00:30

 *kabari kalo sudah terima….^_^

Tulisan panjangmu ini akan kusimpan. Itu janjiku.

Semarang 13 April 2012. Untuk FLP Kudus.😀

 
 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: