RSS

GAYA BAHASA; PEMBELAJARAN

29 Mar

Oleh Ardyan Amroellah

Di bawah ini disampaikan pengertian dari jenis-jenis gaya bahasa/majas yang dirumuskan secara bebas oleh peneliti berdasarkan pemahaman yang penulis peroleh dari berbagai sumber:

  • Klimaks/Gradasi, berupa ekspresi dan pernyataan dalam rincian yang secara periodik makin lama makin meningkat, baik kuantitas, kualitas, intensitas, nilainya.

Contoh:
Dalam apresiasi sastra, mula-mula kita hanya membaca selayang pandang puisi yang akan kita apresiasi, lalu kita membaca berulang-ulang sampai paham maksudnya, merasakan keindahannya, terus mengkajinya, bisa membawakannya penuh penghayatan, sampai kita mampu menghargai keberadaan dan mencintainnya.

  • Antiklimaks merupakan antonim klimaks. Ardinya gaya bahasa berupa kalimat terstruktur dan isinya mengalami penurunan kualitas, kuantitas intensitas. Gaya bahasa ini dimulai dari puncak makin lama makin ke bawah.

Contoh:

Bagi milyader bakhlil, jangankan menyumbang jutaan rupiah, seratus ribu, lima puluh ribu, sepuluh ribu, seribu rupiah pun ia enggan, masih dihitung-hitung.

  • Paralelisme adalah gaya bahasa berupa penyejajaran antara frase-frase yang menduduki fungsi yang sama.

Contoh:

Kriminalitas dan kemaksiatan itu akan menyengsarakan banyak orang,.

  • Repetisi adalah gaya bahasa dengan jalan mengulang penggunaan kata atau kelompok kata tertentu.

Contoh:

Seumpama merpati akulah kesetiaan yang tidak pernah ingkar janji

Seumpama embun akulah kesejukan yang membasuh hati yang lara

Seumpama samudra akulah kesabaran yang menampung kesah segala muara.

  • Aliterasi adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi konsonan.

Contoh:

Jadilah jantan jujur jenius!

Nama mahasiswi itu Cici Cantika Canggih Cendikiawati

  • Eufemisme  berupa pengungkapan yang sifatnya menghaluskan supaya tidak menyinggung perasaan, tidak terasa tajam.

Contoh:

Karena melakukan sesuatu yang kurang pas, Pak Bandot akhirnya dikenai pensiun dini. (Terlibat skandal, korupsi, dipecat, di PHK)

Anak itu tinggal kelas karena agak terlambat dalam mengikuti pelajaran. (Bodoh)

  • Pleonasme adalah kata bertama seolah bertautan dengan kata kedua yang sudah dijelaskan oleh kata pertama.

Contoh:

Silakan maju ke depan, setelah itu naik ke atas.

Hujan yang basah menyuburkan tanah-tanah rekah

  • Litotes adalah gaya bahasa yang sifatnya merendahkan diri, tak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya namun tak punya maksud agar orang percaya dengan hal itu, pembicara/penyimak tahu apa yang sebenarnya ia maksudkan.

Contoh:

Kalau anda tidak keberatan, mampirlah ke gubug kami.

Yogya-Solo terpaksa kita tempuh 2 jam karena kita hanya naik gerobak.

  • Erotesis/retoris berupa pengajuan pertanyaan untuk memperoleh efek mengulang tanpa menghendaki jawaban, karena jawabannya sudah tersirat.

Contoh:

Biaya pendidikan di Perguruan Tinggi sangat mahal. Bisakah rakyat kecil menyekolahkan anaknya sampai ke sana? Siapa yang bisa berkuliah kalau bukan kaum berada?

  • Koreksio/Epanotesis berupa pernyataan yang terkesan meyakinkan, namun disadari mengandung kesalahan. Atas kesalahan itu lalu dilakukan pembetulan.

Contoh:

Sudah setengah abad kita merdeka, eh bukan, 60 tahun malah, nah selama itu, kemajuan apasajakah yang sudah kita capai?

Dalam dunia sastra, kita mengenal Pelopor Angkatan ’45 yaitu Rendra, ah bukan, bukan Rendra, yang benar adalah Chairil Anwar.

  • Hiperbola berupa pernyataan yang sengaja dibesar-besarkan dan dibuat berlebihan.

Contoh:

Saya ucapkan beribu-ribu terima kasih atas perkenan Bapak dan Ibu menghadiri undangan panitia. Bertemu kamu sayang, wahai sahabatku yang elok dan indah, syahdu, hati berbunga-bunga sejuta rasanya terbang melayang di angkasa bahagia.

  • Paradoks berupa pernyataan yang mengandung kontras/pertentangan, namun ternyata mengandung kebenaran.

Contoh:

Betapa banyak orang yang dalam kesendiriannya merasa kesepian di kota sehiruk-pikuk Jakarta.

Sebagai dosen, terus terang, saya juga banyak belajar dari mahasiswa-mahasiswi saya.

  • Simile adalah bahasa kiasan berupa pernyataan satu hal dengan hal lain dengan menggunakan kata-kata pembanding.

Contoh:

Nyalakanlah semangat bagai dian nan tak kunjung padam

Bersabarlah seperti samudra yang mampu menampug keluh kesah segala muara.

  • Metafora adalah bahasa kias sejenis perbandingan namun tidak menggunakan kata pembanding. Di sini perbandingan dilakukan secara langsung tanpa kata sejenis bagaikan, ibarat, laksana, dan semacamnya.

Contoh:

Kesabaran adalah bumi

Kesadaran adalah matahari

Dan perjuangan adalah pelaksana kata-kata (sebuah bait dalam puisi Rendra)

  • Alegori adalah kata kiasan berbentuk lukisan/cerita kiasan, merupakan metafora yang dikembangkan.

Contoh:

Sajak “Menuju Ke Laut” karya Sutan Takdir Alisyahbana. Biasanya bersifat simbolis

  • Personifikasi adalah gaya bahasa yang mempersamakan benda-benda dengan manusia, punya sifat, kemampuan, pemikiran, perasaan, seperti yang dimiliki dan dialami oleh manusia.

Contoh:

Angin bercakap-cakap sama daun-daun, bunga-bunga, kabut dan titik embun.

-Indonesia menangis, duka nestapa Aceh memeluk erat sanubari bangsaku.

  • Alusio yang menampilkan adanya persamaan dari sesuatu yang dilukiskan yang sebagai referen sudah dikenal pembaca.

Contoh:

Bandung dikenal sebagai Paris Jawa.

  • Sinekdoke adalah bahasa kiasan dengan cara menyebutkan sesuatu bisa sebagian untuk menyatakan keseluruhan atau sebaliknya.

Contoh:

Dalam copa Amerika 2004, Brazil mengalahkan Argentina.

Dalam Idul Adha tahun ini, Masjid Al-Amin berkurban 6 ekor sapi 10 ekor kambing.

  • Metonemia adalah bahasa kiasan dalam bentuk penggantian nama atas sesuatu.

Contoh:

Kita harus bersyukur tinggal di negeri Zamrud Khatulistiwa yang elok permai ini

Panda banyak terdapat di negeri Tirai Bambu.

  • Ironi berupa penyampaian kata-kata denga berbeda dengan maksud dengan sesungguhnya, tapi pembaca/pendengar, di harapkan memahami maksud penyampaian itu.

Contoh:

Kuakui, kutu buku yang satu ini memang berpengetahuan luas sekali.

  • Satire adalah  sejenis ironi yang mengandung kritik atas kelemahan manusia agar terjadi kebaikan.

Contoh:

Aku lalai di pagi hari

Beta lengah di masa muda

Kini hidup meracun hati

Miskin ilmu miskin harta

#Bersambung

 
Leave a comment

Posted by on March 29, 2012 in Belajar

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: