RSS

MENGENANGMU; SEBUAH CATATAN HARIAN

22 Mar

Oleh Ardyan Amroellah dan Dewi Amalia Sari

Mengingatmu….

Mengenangmu….

Semua tentangmu….

Senja yang merambat naik. sengaja kupaskan dengan kedatanganku hari ini. Sama seperti dua tahun lalu. Meski sebenarnya aku sudah tak mau lagi mengingat semua kenangan, apalagi yang berhubungan denganmu, tentangmu, tentang kita. Aku juga sudah teramat lelah untuk terus dan selalu mengingat dan teringat padamu. Kau tahu? Aku sudah gila! Dan ini karenamu….

Kalau bukan karena mimpi semalam serta rasa rindu yang meluap-luap –yang tiba-tiba datang– dalam hati mungkin sore ini aku tak akan duduk di sini, tempat dimana kita pernah bertemu dan menghabiskan waktu saat kamu bertandang ke kotaku. Duduk berdua berhadapan, menikmati secangkir kopi –kesukaanmu– dan sepotong chesse brownies yang lezat, sambil kita menunggu waktu makan malam tiba. Itu adalah salah satu hal terindah yang pernah kulakukan….bersamamu.

Aku merasa asing tentang suasana di cafe ini, meski tak ada yang berubah, ini bukan déjà vu, karena ini memang tempat favorit kita dulu. Masih sama seperti 2 tahun lalu. Maklum, sore ini adalah pertama kalinya aku datang mengunjungi tempat ini. Aku memang sengaja menghindari semua tempat yang dulu pernah kita.datangi bersama. Sampai kuputuskan untuk datang, itu mungkin karena pengaruh dari mimpi semalam. Tak kupungkiri, aku merasa rindu. Kepadamu.

Ada perasaan sedih saat pelayan datang mengantar pesananku.

“Ini mbak, pesanannya. Selamat menikmati….” ujarnya ramah dengan senyum simpul.

“Terima kasih.” Aku menjawab pelan

Tapi entah kenapa aku menikmati perasaan itu. Di depanku tergeletak secangkir kopi hitam dan seiris chesse brownies yang lezat untuk menemaniku sore ini. Seandainya saat ini ada kamu disini pasti kamu protes, tak akan mau kopi ini terlalu banyak gula, dan bodohnya aku, sejak itu aku juga menyukai kopi, akupun tak begitu suka kopi yang manis. Jadi sengaja kubiarkan kopi ini tanpa gula. Entah kenapa aku benar-benar ingin mengenangmu saat ini. Walaupun aku tahu apa yang kulakukan akan mengubah suasana hatiku, nanti saat aku keluar dari pintu bangunan ini.

Hati dan pikiranku terus melayang jauh. Mengingat semua kenangan tentang kita.

Ada apa denganku?

Apa karena mimpi semalam?

Memang semalam aku bermimpi, mimpi tentangmu. Saat kita di café ini 2 tahun silam. Mimpi yang aneh tapi indah. Aku tersenyum sendiri mengingat itu. Aku mungkin gila.

Aku tertegun saat sayup terdengar lagu yang sedang mengalun, bukankah ini lagu ini lagu kebangsaan tentang kita. Lagu yang pernah kamu beri untukku. Tak terasa pandanganku buram, hujankah diluar? Sehingga membuat kaca café ini mengembun. Atau mataku yang hujan?

Sempurna sudah aku untuk mengingatmu. Tanganku meraih tisu diatas meja, kusapu air bening yang akan tumpah mengalir dari sudut mata. Perlahan, karena aku takut merusak make-up yang ku mulai mengenalnya juga bersamaan dengan perkenalanku padamu. Sudah lama air mata ini tak bicara padaku. Tapi ini tak boleh berlangsung lama, aku tak ingin menjadi pusat perhatian di café ini. Apa kata mereka jika melihat seorang perempuan muda yang tiba-tiba menangis sendiri, dan tadi aku juga senyum-senyum sendiri. Mungkin mereka pikir aku gila, akupun berpikir begitu.

Aku potong chesse brownies dengan sendok, sesaat kemudian mulutku sudah penuh dengan potongannya. Rasa brownies ini benar-benar lezat. Sangat pas jadi teman secangkir kopi hangat dan kenangan tentangmu. Ah….kuambil saja buku catatan dalam tas. Tiba-tiba aku ingin menulis puisi. siapa tahu dengan suasana hatiku sekarang ku bisa menulis sesuatu meskipun itu akan membuat hati makin haru biru. Tentang dirimu. Tidak perlu waktu lama, lembar dicatatan sudah tergores bait-bait puisi.

Selepas kau pergi

Tak habis aku mengeja

Detak derak senyap dalam hatiku

Ajari aku cara, mengenangmu

Tanpa mendendam!

Sesaat kubaca kembali puisi itu. Pendek, dan sebenarnya belum cukup untuk mengungkapkan isi hati. Kututup kembali catatan, lalu kusimpan dalam diam, puisi tanpa judul itu kedalam tas. Itulah yang kulakukan setiap teringat padamu. Menulis dan menulis, puisi dan puisi. Mungkin banyak orang menganggapku aneh, melakukan hal itu untuk mencurahkan apa yang kurasa. Tapi itu cukup menyenangkan dan terserah orang mau bilang apa, tapi bagaimanapun –sekali lagi– inilah hidupku.

Seringnya aku bertanya, dimana kamu sekarang? sedang apa kamu saat ini? bersama siapa? apa sudah ada pengganti diriku yang sabar mengerti sikapmu? bahagiakah di sana? Dan masih banyak hati ini menyimpan sejuta pertanyaan tentang dirimu. Sudah lama aku tak melihat senyum di wajahmu. Sekali lagi, aku sangat rindu semua tentang kamu. Meski telah lama pergi dari kisah hidupku. Tapi cerita tentangmu masih segar dalam ingatan. Semua masih tentang kamu “anugerah”, sebuah nama yang pernah menjadi detak, pernah menjadi steroid untukku dalam mengarungi hidup. Dan sejak kamu pergi, aku masih mencoba berharap –dan ini mungkin tak bisa dikatakan setia–, bukan aku tak pernah mencoba untuk melupakan dan menata hati degan lelaki lain, tapi entah kenapa semua itu terasa hambar, dan akhirnya berlalu begitu saja.

“Maaf, aku nggak bisa lagi menemanimu….” Katamu tiba-tiba, padahal 4 hari sebelumnya kita bercanda tentang pernikahan, kita bercanda tentang indahnya masa depan.

“Mengapa? Ada apa? Jangan bercanda….”

“Aku nggak bercanda Lin, aku akan menikah. Tapi bukan denganmu.” Kali ini jawabmu lirih, entah ragu atau atau kamu tak mau menyakitiku lebih dalam. Tak ada rasa daialm jawabanmu, meski lirih. Aku benat-benar terluka. Sangat dalam.

Kau tahu, tak pernah ada yang mampu menggantikanmu di hati ini. Bukan karena aku memang mencari yang benar-benar sepertimu. Tapi memang aku tak mampu melupakan semua tentang kita. Hanya itu, hanya itu yang membuatku masih sendiri hingga saat ini. Kadang aku hanya lelah saja bila harus terus mengingat semua. Karena pasti aku akan menangis –hal paling kubenci–, seperti sore ini suasana hatiku berubah-ubah kala mengingatmu. Tapi biarlah, akupun menikmati yang kurasa, sedih hati namun ku juga menyukai. Sama seperti cinta dan benci. Beda tipis.

Ah, café ini mulai ramai menjelang makan malam, maklum tempat ini terletak didalam sebuah mall pusat kota dan ini juga akhir pekan. Sama seperti waktu itu, saat itu juga saat akhir pecan –yang indah bersamamu–.

“Happy Anniversary hun….”

“iya hun, semga baik kedepannya. Amin.”

Meja sebelahku rupanya sedang berbahagia, kucuri dengar hari ini pasangan itu berbahagia memperinagti hari jadinya, entah pernikahan ataupun hanya pacaran. Dan tanpa sadar aku iri. Hari ni juga adalah hari jadi kita, jika kamu masih ada. Lalu kusapukan pandangan ke sekitar, tertumbuk pada seorang wanita muda sepertiku yang sedang duduk sendirian. Kuamati dari mejaku. Wanita itu tampak asyik membaca sebuah koran olahraga, kulihat di mejanya juga ada secangkir kopi dan seiris black forest. Sesaat di taruhnya tabloid yang sedang dibaca. Sekarang ia sedang menikmati cake dan kopinya. Cantik sekali….

Tiba-tiba ia menyapukan saputangan di wajahnya, ia berkaca-kaca –karena aku juga perempuan–, Disekanya air mata yang mengalir di pipinya yang bersemu merah. Aku kembali mereguk kopi pura-pura tak melihat apa yang terjadi padanya, padahal diam-diam aku terus memperhatikan apa yang ia lakukan, apa yang ia pikirkan. Ada sesuatu yang menarik hatiku, aku merasa ia punya kesamaan denganku. Kulihat wanita itu sedang menulis sesuatu pada secarik kertas. Ia perlahan mengangkat wajahnya, tatapan matanya banyak menyimpan duka yang tertahan, ­–aku tahu karena aku juga perempuan–. Ia mengangkat gelasnya dan tak lama kemudian wanita itu beranjak berdiri lalu pergi. Kulihat di atas mejanya ada yang tertinggal, kertas yang tadi ia tulis tak dibawanya serta, sepertinya sengaja tinggalkan. Sejenak kuperhatikan lama kertas itu. Apa isinya?

Rasa penasaran dalam hati menyeret langkahku berjalan menuju meja yang ditinggalkan, sebelumnya kupastikan wanita itu telah hilang. Seperti pencuri, akupun mengambil secarik kertas yang tergeletak di meja, kemudiaan aku beringsut menuju kearah mejaku lagi.

“Dulu aku benci sepakbola, dulu juga aku tak suka minum kopi hitam apalagi tanpa gula. Sekarang aku menyukainya. Suka dengan sepakbola dan minum kopi hitam yang pahit. Itu semua terjadi padaku karena aku begitu sangat mencintaimu, tapi kenapa kamu pergi meninggalkan aku? alasan yang tak masuk akal kamu jadikan alasan untuk pergi. Aku ungin benci padamu, tapi aku tak pernah bisa benci sepakbola dan kopi. Aku sangat tersiksa dengan keadaan ini. Tak tahukah kamu?!”

Bergetar tanganku memegangnya. Aku bisa merasakan kemarahan sekaligus kesedihan yang dalam pada tulisan ini. Dan kau yakin, wanita itu pasti selalu tersedu ketika mengingat kekasihnya, dia benci tapi sekaligus masih cinta. Sama sepertiku. Tapi kenapa cerita hidupnya dan yang dia rasakan saat ini sama denganku. Kopi dan sepakbola, seharusnya ditambah denganmu.

“Lin, kau tau berapa skor pertandingan kemarin? Aku g sempet nonton….”

“Wah rugi kamu. Game yang seru mas!”

“Oya?!”

Dulu aku juga tak pernah suka dengan sepakbola, aku menganggapnya hanya olahraga yang membosankan –satu bola diperebutkan 22 lelaki­–. Aku juga sangat tak menyukai kopi, hingga aku mengenalmu. Aku mulai terbiasa dengan kebiasaan dan apa yang kamu sukai, dan akhirnya aku mulai menyukai itu semua hingga saat ini. Walaupun aku sudah tidak bersama denganmu lagi.

Aku tak pernah tahu maksud Tuhan yang membawaku sore ini kesini, tapi mungkin inilah hidup. Setiap manusia dengan masalahnya masing-masing dan kadang masalah itu hampir sama antara manusia dan manusia lainnya. Seperti yang kualami, antara aku dan wanita yang meninggalkan secarik kertas diatas meja tadi. Semoga wanita itu bisa mengatasi masalah yang sedang dihadapinya. Aku tahu benar bagaimana rasanya ditinggalkan….

Melupakan orang yang masih kita cintai hanya karena waktu dan keadaan yang tak berpihak untuk saling memiliki. Bersusah payah aku berjuang melawan rasa sakit dihati, karena waktu dan hidup selalu berjalan tanpa berkompromi dengan hati. Aku pernah harus belajar menerima kenyataan itu, dan semua benar-benar tidak mudah untuk dilakukan. Apa lagi seorang diri.

Sungguh, aku penat….

Terdengar bunyi lonceng berdentang. Jam besar di café itu berbunyi. Jam 7 malam dan ruangan besar ini sudah mulai ramai. Tapi jauh didalam hati, aku merasa tersudut, kesepian yang sangat lengang ditengah keramaian. Kuputuskan untuk memesan menu makan malam. Menu yang juga pernah kita nikmati berdua, dan saat ini aku menikmatinya dengan perasaan rindu, benci, atau barangkali juga dendam jadi satu. Aku akan pulang, karena aku merindukan. Harapku, semoga kita bertemu kembali di alam mimpi. Malam ini.

Mengenangmu. Mengingatmu. Semua tentangmu. Semua kisahmu….

 
 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: