RSS

MAS, AKU JATUH CINTA PADAMU; SEBUAH CATATAN HARIAN

22 Mar

Oleh Ardyan Amroellah

 

Mas, kemarin aku jatuh cinta padamu,
Sebuah rasa yang tak seharusnya singgah di hati ini. Ku biarkan bersemayam dan terus bersemi di sela-sela percakapan kita kala itu. Aku jelas tak mengenalmu di realita, kecuali di sini, di dunia maya ini. Tapi, sejuk tuturmu dalam membahas setiap kemelut masalahku, mendekatkan jarak yang tak tersentuh itu di bilik hati.

Mas, segalanya dimulai dari sini. Awalnya padamu, hanya rasa kagum dan salut saja yang kuberi. Kagum pada pemikiran-pemikiran yang cemerlang, jempol untuk kesalehan yang kau tampilkan di ruang mayamu, suka pada kata-kata penuh hikmah yang kau coret di sela-sela catatanmu. Tak lebih.

Lalu Kekaguman itu membuahkan rasa penasaran, sedikit keinginanku untuk mengenal pribadimu. Dekat dan kalau bisa lebih dekat lagi. Tapi, sebagai seorang wanita, aku terlalu malu untuk memulai, meski hanya untuk sekedar menyapamu terlebih dahulu –bisa-bisa kau anggap aku wanita centil-, berharap kau mengirim salam padakupun tak lebih hanya sebuah harap (toh, aku tak begitu penting bagimu bukan? bahkan engkau tak mengenalku walau secuil pun).

Hari-hariku lalui sembari memikirkan cara untuk bisa memulai perkenalan denganmu. Ada ide brilian di kepalaku, kenapa tak kumulai dengan pura-pura bertanya masalah ringan seputar lingkungan, paradigma politik anak muda atau bertanya apa sajalah. Aku yakin, engkau pasti akan membantu menjawabnya sebisamu. Nanti, perkenalan yang kuinginkan bisa dirajut dan mengalir dari sini.

Ekspedisipun dimulai. Dugaanku benar. Segala tanyaku kau jawab dengan sangat memuaskan. Atau bila ragu, kau janjikan menjawabnya di lain hari. Aku senang. sangat–sangat senang. Sebenarnya kau tak perlu menjelaskan lebih banyak lagi. Toh, terkadang aku sudah tahu jawabannya. bahkan mungkin lebih tahu banyak darimu. Di Google bisa kutemukan beragam jawaban dari tanya yang kulontarkan padamu. Dunia maya mempermudah segalanya.

Detik waktu berlalu. Atas kecerewetanku yang tak henti-hentinya mengejarmu dengan beragam pertanyaan, membuat kita semakin akrab, lebih akrab dari yang kuduga. Selanjutnya aku tak hanya sering bertanya padamu, bahkan mulai berani menceritakan beragam masalah pribadi yang kuhadapi padamu. Engkau tak pernah menolak, bahkan kau tenangkan segala pikiranku yang kusut akibat gundah masalah yang datang membumbui hidupku. Solusi yang berisi kata-kata menyejukkan dan bijaksana itu menghadirkan rintik rasa yang entah, rintik rasa yang menggetarkan, menghadirkan rintik rasa gamang saat dialog yang kita lalui sore itu harus berakhir ketika adzan maghrib memanggil.

Suatu ketika, kesibukan aktivitas yang menguras tenaga membuatku tak sempat menyinggahi dunia maya hingga hitungan minggu. Ada rindu tak menentu (entahlah….) menggodaku untuk kembali menapaki hari-hari penuh tawa bersamamu. Kubuka inbox pada emailku, aku kaget, kusunggingkan senyumku yang kata teman paling manis.

“Assalamualaikum mbak. Gimana kabarnya? Kemana aja nih, lama nggak keliatan. Semoga sehat y….”

Pada sederet kalimat itu, pipi ini merona merah jambu. Bahagia menelusup pada bulir rindu yang kupendam. Aku wanita, mudah tersanjung, mudah melambung, seketika merasa jika perasaan yang kubiarkan tumbuh ini tak bertepuk sebelah tangan. Segera saja aku meluncur pada sebuah ruang tempat kita biasa berbagi cerita. Tak sabar ingin segera menyapamu lagi. Namun sayang, kau yang biasanya selalu duduk manis pada daftar bangku sahabat-sahabat mayaku, kali ini tak kutemukan bersemayam disana.

Kecewa? tentu saja. Sebab tujuanku gentayangan disini hanya untuk bertemu denganmu. Satu detik, satu menit, satu jam, terus kutunggu. Dan kau tak juga hadir hari itu. Gerimis membasahi hati atas segenap rindu yang tak terbayar. Biarlah, mungkin kau sibuk, toh esok aku bisa mencarimu lagi disini. Ah….coba kalo aku punya nomer hapemu..

Esoknya kucoba lagi menunggumu disini, kau masih tak datang. Lalu 2 hari, 3 hari, 1 minggu.. tetap tak ada kabar. Lantas, malu-malu kucoba tanyakan keberadaanmu pada sahabat yang juga mengenalmu disini. Ternyata dia juga mencarimu. Cemburu perlahan terbit dihatiku. Kemudian, dari deret-deret kalimatnya mengalirlah beragam cerita tentangmu. Ternyata dia mengenalmu jauh melebihi aku. Dia tahu segalanya tentang kamu. Bahkan tentang apa saja yang kau suka dan tak kau suka. Lama aku tenggelam dalam gemuruh ceritanya.

Ternyata dia menyukaimu. Bahkan dia bermimpi untuk membangun rumah tangga bersamamu. Aku kaget. Bahkan tak percaya.

“Tapi mbak….” ucapnya kala itu, “ada wanita selain aku yang juga menyukainya, dan berharap sama seperti yang kuharapkan dan kuimpi-impikan.”

Kali ini kagetku berlipat-lipat lagi. Aku pikir hanya aku satu-satunya wanita yang rajin kau sapa, tempat kau berbagi cerita, wanita yang tak henti kau semangati untuk terus menuntut ilmu dan berjuang. Aku pikir hanya aku satu-satunya yang menaruh harap kepadamu.

Nyatanya….

Kutarik nafas dalam-dalam atas sesak yang menggerogoti rongga dada. Mataku mulai panas. Aku tak ingin berlama-lama disini, membaca seribu sikapmu yang ternyata belum kuketahui sempurna. Kututup percakapan itu, lantas pulang dengan seribu kecewa dan mata berkaca-kaca.

Berminggu-minggu tak kusinggahi dunia semu penuh khayalan yang sempat melukai hati ini, sampai akhirnya kuputuskan untuk menemuimu lagi. Kali ini tak ada lagi nuansa rindu, secuilpun tidak. Kontemplasi panjangku disudut kamar beberapa malam yang lalu, telah menyadarkan aku pada perasaan yang seharusnya tak pernah kubiarkan bersemi sebelum waktunya. Sebuah perasaan yang Tuhan haramkan menggerogoti hatiku. Zina perasaan.

Aku sadar, hubungan kita di dunia maya kala itu adalah sebuah kekhilafan yang manis. Dan setan membumbuinya dalam kegilaanku padamu. Aku hanya ingin memperjelas sikap-sikapmu padaku dan pada wanita yang kau tumbuhkan bibit cinta dihatinya itu.

Alhamdulillah, ternyata kali ini kau tak kemana-mana. Ragu-ragu aku menyapamu. Kau membalas hangat sapaku, seperti biasa. Menanyakan kabarku, aktivitasku, semua tentang aku. Kujawab seadanya. Aku tak ingin terjebak kedua kalinya pada rasa yang salah.

“Mas… adakah wanita yang rajin bertanya padamu selain aku?”

“Ya.” jawabmu datar.

“Kenapa mbak?” lanjutmu penuh tanda tanya.

“Berdasarkan survey yang kulakukan belakangan ini, ternyata mas termasuk jajaran top-man di facebook ini. Ternyata banyak wanita yang dekat denganmu.” Paparku.

“Oh ya? Masa’ kok bisa ya? padahal aku biasa-biasa aja tuh.” Kamu masih datar.

“yup, mereka bilang….dari sekian banyak lelaki yang berkelana di dunia maya ini, mas dinilai paling gentle, baik, sopan, bijaksana, paling….”

“Hah?! Tunggu…tunggu….” potongnya.

“Paling gentle? paling sopan? paling bijaksana? Waduuuh, aku nggak ngerasa gitu kok mbak. Lah, aku biasa-biasa aja deh menyikapi mereka yang sering bertanya padaku. Ya…seperti sikapku ke mbak gitu….”

Aku tersedak, kaget. Sumpah. kamu bilang sikapmu ke wanita lain itu biasa aja, seperti layaknya kamu meladeni percakapanku?

Tidakkah kamu sadar, bahwa sikapmu padaku –yang kau bilang biasa- itulah yang membuatku jatuh cinta padamu? Lalu, bagaimana dengan berpuluh-puluh wanita yang kau ladeni obrolannnya?
Pantas saja banyak wanita yang berpikir bahwa kau juga menyukai mereka, seperti aku.

“Mas, bolehkah aku mengoreksi sikap mas itu sedikit saja.”

“Oh..ya. Silahkan mbak.” jawabmu.

“Mungkin mas nggak sadar bahwa kebaikan, keramahan, serta sikap-sikap yang mas bilang biasa itu telah menimbulkan sebersit rasa yang seharusnya nggak timbul di hati wanita yang mas bantu pecahkan masalah-masalahnya, yang tak henti-henti mas semangati hari-harinya, yang tak putus-putus mas nasehati segala lakunya…”

“Rasa apa?” selamu.

“Rasa….cinta.”

“Hah?!” Aku tahu kau kaget.

“Lho mbak, aku nggak berniat begitu kok. Sungguh. Mereka bertanya, ya aku jawab. Mereka cerita, ya aku komentar. Mereka menyapa, ya aku jawab. Aku nggak mau disangka sombong. Semuanya kusikapi biasa-biasa aja mbak. Tapi, kalo wanitanya merasa begitu…..”

Kutunggu kelanjutan pembelaanmu. Ternyata memang sengaja kau gantung hingga disitu. Kulanjutkan perkataanku,

“Mungkin sikap seperti itu memang akan biasa-biasa saja, kalo lawan bicara mas itu lelaki kayak mas. Tapi, mereka wanita mas, perasaannya sensitif, mudah tersanjung, sedikit saja mas perhatian, mereka akan jadi berbunga-bunga. Mereka akan berpikir bahwa mas pun ada rasa terhadap mereka. Mas tahu kan? Semakin sering bertemu, semakin sering berbagi cerita, maka persentase djatoeh tjinta itu semakin besar.”

“Lalu aku harus gimana mbak? Cuek aja waktu mereka nanya? Wah, aku nggak bisa sesombong itu….”
“Menurutku” jawabku

“Seharusnya dari awal-awal mas udah kasih lampu merah ke mereka. saat mereka bertanya ke mas, untuk yang pertama kali bolehlah mas jawab. Tapi selesai menjawab, bukankah ada baiknya mas tawarkan mereka untuk berkenalan dan bertanya tentang apa yang tak mereka ketahui pada wanita lain yg juga luas wawasannya kayak mas. Lantas jelaskan padanya berbagai sisi negatif dan positif yang ditimbulkan dari interaksi kayak gini di dunia maya. Bukankah ini lebih menjaga hatinya, juga hatinya mas agar dikemudian hari nggak akan ada sentakan rasa segala. Yang penting, jangan biarkan percakapan mas dan mereka menjurus ke masalah pribadi dan berlarut-larut, Mas tau kan, chat di dunia maya juga berbahaya. Setan di bangku tiga.

“Iyaa.. tapi jangan aku aja donk yang dinasehatin, wanitanya juga dong. Biar gak nodong-nodong aku lagi dengan beribu pertanyaannya. Hehe…”

“Yuuppz.. wanitanya juga, Toh, di dunia maya ini juga banyak wanita lain yang lebih cerdas daripada mas. Hehe. selain itu, pertanyaan kayak gini sebenarnya bisa dicari jawabannya di kamar Mbah Google, tul nggak mas?”

“Yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..”

“Pada dasarnya, kita tuh tau bahaya keseringan interaksi di dunia maya ini bisa merusak hati. Tapi, kadangkala keinginan ini gampang terpancing untuk disalurkan. Merasa butuh perhatian dari lawan jenis dan menambah sahabat. Kalau sudah begitchu, kenapa gak merit aja sekalian yah. Haha…Duit mah, urusan belakangan. Toh, anak ayam yang baru lahir saja udah disiapkan Tuhan rezekinya. Apalagi kita, anak manusia yang udah dewasa, punya akal yang topcerrrr lagi.”

“Iya ya mbak…bener kata mbak. Hehe….Wah aku jadi pengen tanya nih, apa mbak suka padaku?” dia menulis itu di chatboxku. DEGGG….

 
 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: