RSS

ANALISIS KARYA

28 Feb

MENGENAL UNSUR-UNSUR CERITA CERPEN ANAK IBU

ANAK IBU

1978
“Berapa?”
“Lima setengah.”
“Lima?”
“Lima setengah, Bu.”
“Lima setengah ya lima!”
“Tapi bisa jadi enam, Bu.”
“Siapa bilang? Kalau lima koma delapan atau sembilan bisa dibulatkan ke atas. Tapi lima setengah, tetap lima! Lima!”
“…”
“Ulangan yang lalu, empat. Sekarang lima setengah. Berapa angka matematikamu di rapor nanti? Mengkhawatirkan sekali ini!”
“…”
“Ibu sedih. Karena Ibu tahu, sebetulnya kamu bisa dapat lebih. Delapan atau sembilan juga bisa! Masalahnya cuma satu: kamu malas. Kalau tak dikejar-kejar, dimarahi, tidak belajar!”
“…”
“Jaman sekolah dulu, nilai berhitung Ibu tak pernah kurang dari delapan. Ibu tak minta kamu dapat delapan. Tujuh saja cukup. Tak lebih. Ini buat kebaikanmu! Heran, apa susah dapat tujuh? Apa?”
“…”

###

1983
“Aku mau masuk bahasa, Bu.”
“Bahasa? Bahasa apa?”
“Jurusan Bahasa.”
“Ooh, itu. Lho, bagusnya kan IPA?”
“Ibu Kepala Sekolah bilang aku lebih cocok masuk bahasa.”
“Dia bilang begitu? Ah, tahu apa dia tentang kamu.”
“Tapi itu cocok sama hasil tes IQ, Bu.”
“Ah, tes IQ kan buatan manusia. Tak mutlak benar hasilnya! Ibu tahu sekali kalau kamu sangat berbakat untuk IPA. Kamu kan suka percobaan kimia, membedah kodok, burung dara… Kamu bisa jadi dokter, insinyur, dokter hewan, semuanya!”
“Tapi, Bu…”
“Nanti Ibu ketemu Kepala Sekolahmu. Ibu akan bilang kalau kamu bisa masuk IPA.”
“Tapi …”
“Jurusan bahasa tak jelek. Tapi tak masuk hitungan. Sayang otakmu yang bagus. Sia-sia nanti dengan pelajaran yang remeh-remeh. Usaha tambah sedikit saja kamu pasti bisa! Besok ibu ke sekolahmu.”
“Bu, tapi …”
“Tak ada tapi-tapian. Ibu yakin kamu bisa. Kamu cuma malas. Terlalu banyak main, mengobrol tak berguna di telepon!”
“…”
“Ibu tak minta macam-macam. Ibu cuma ingin di rumah kita nanti ada dokter. Itu saja. Heran, apa susahnya masuk IPA? Apa?”
“…”

###

1994
“Bu, aku akan buka klinik bersama teman-teman.”
“Alhamdulillah!”
“Ibu jadi penasehatnya, ya?”
“Tentu! Kapan? Di mana klinikmu buka?”
“Nanti, Bu. Masih lama. Mungkin akhir tahun baru jadi.”
“Ooh, praktek bersama? Mungkin bisa di rumah kita. Pakai paviliun samping saja!”
“Kami tak mau di rumah, Bu.”
“Lalu, di mana? Gedung perkantoran? Bagus juga itu! Bergengsi sekali!”
“Tidak juga.”
“Di mana? Di mana?”
“Di perkampungan nelayan. Tempat aku dulu kerja praktek.”
“Tobat!”
“Kenapa, Bu?”
“Jadi bukan klinik spesialis?”
“Klinik spesialis juga.”
“Tapi di…”
“Ya di kampung nelayan itu. Kenapa, Bu?”
“Tobat! Tobat!”
“Ibu tidak setuju?”
“Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau mendarat di kampung nelayan? Kapan kayanya kamu?”
“Kaya?”
“Ya, kaya. Banyak duit! Hidup senang! Seperti Pakde-mu itu! Dokter spesialis kulit, langganannya ibu-ibu cantik dan kuaya ruaya!”
“Aku tak suka yang model begitu, Bu.”
“Kamu itu kenapa ya, kok bisa-bisanya mirip dengan bapakmu yang sok sosial itu. Begitu sial betulan, teriak-teriak. Minta tolong sama Ibu!”
“Dulu, Ibu bilang di rumah ini harus ada dokter. Sekarang aku sudah jadi dokter, mau mengabdikan ilmu, Ibu larang…”
“Pintar omong kamu ya. Kalau tahu bakal selancar ini omonganmu, lebih baik aku biarkan kamu di rumah. Buta huruf dan tak usah sekolah. Tak usah jadi dokter. Buang uang. Buang waktu.”
“…”
“Ibu tahu kamu sudah besar, mau mengatur hidup sendiri. Tapi kamu musti percaya sama Ibu. Aku ini tahu apa yang kamu perlukan. Dan yang kamu perlukan bukan buka klinik di kampung nelayan!”
“…”
“Ibu hanya ingin kamu bahagia.”
“…”
“Supaya bahagia, dengarkan ibu. Kamu kan tahu Ibu tak minta macam-macam. Ibu cuma tak ingin kamu praktek di kampung itu. Sayang betul, sudah sekolah mahal-mahal, lama-lama, eh ternyata cuma buat mengobati orang-orang yang tak bisa bayar kamu. Sayang! Bukalah praktek yang normal, yang beres, yang menghasilkan. Seperti dokter-dokter lain itu, lho. Sudah. Tak macam-macam. Apa susahnya? Tak ada! Malah bisa bahagia kamu nanti! Banyak uang!”

###

1999
“Anaknya Bu Sis kawin minggu depan.”
“Anak yang mana lagi?”
“Yang paling kecil!”
“Si Sri?”
“Ya.”
“Ampun! Umurnya paling baru berapa…”
“Eh, jangan ampun-ampun! Umurmu sendiri, berapa? Tahun ini sudah tiga puluh. Yani, anaknya Bu Sis yang paling besar, yang setahun lebih muda dari kamu, sudah dua anaknya. Kamu? Punya pacar saja belum!”
“Nantilah, Bu.”
“Nanti kapan? Tiap ditanya, nanti-nanti-nanti. Mau tunggu ibumu ini bersatu dengan tanah?”
“Ibu!”
“Ibu capek menunggu kamu yang keasyikan kerja! Pasienmu itu kan cuma perempuan-perempuan yang jerawatan. Kalau kau tinggal sebentar buat cari pacar, pasti bisa. Paling banter jerawatnya bertambah sedikit. Tidak akan mati.”
“Bukan itu masalahnya, Bu.”
“Lho justru itu! Pasti! Kamu ini tidak punya waktu buat keluar dari kamar praktek. Tidak sempat bergaul. Kenalan!”
“Ya, ya…”
“Ya, ya, ya apanya? Kamu musti meluangkan waktu. Ikut Ibu arisan atau kumpul-kumpul sama keluarga besar kita. Ibu yakin, tante-tante dan oom-oom yang datang di sana pasti punya simpanan bagus buat kamu.”
“Bu!”
“Sudah, mengaku saja kalau kamu tak bisa dan tak sempat cari pasangan sendiri. Biar Ibu yang cari.”
“Kalau nggak cocok bagaimana?”
“Pasti cocok! Masak Ibu bisa salah pilih pasangan buat anaknya sendiri?”
“Tapi kalau memang nggak sreg, mana bisa dipaksa, Bu?”
“Sreg tak sreg, cocok tak cocok, semua tergantung kamu sendiri. Hatimu sendiri yang mengatur itu. Percaya sama Ibu. Semua itu diatur dari niatmu sendiri!”
“Tapi rasanya pasti susah, Bu.”
“Kamu memang keras kepala. Sekali-kali turuti permintaan Ibu, apa salahnya? Ibu tak minta macam-macam. Ibu itu cuma minta kamu dapat pasangan. Kawin. Punya suami. Ibu cuma ingin lihat kamu bahagia. Itu saja. Apa susahnya, sih?”

###

2002
“Tante Niek sudah punya cucu lagi. Jadi empat sekarang..”
“Aduh, ramainya!”
“Bukan ramai, senang! Meriah.”
“…”
“Ibu juga kepingin punya cucu.”
“…”
“Umurmu sudah berapa? Mau tunggu kapan lagi? Nanti kebablasan, menyesal kamu.”
“Nantilah, Bu. Kalau semuanya sudah beres.”
“Oh, tak akan beres sampai kapan pun. Anak itu bagusnya datang sekarang-sekarang. Mumpung kamu dan suamimu itu masih muda. Kalau ketuaan, kamu sendiri yang repot.”
“Nantilah…”
“Gusti…. Kamu ini maunya apa sih? Bikin Ibu mati tua tanpa cucu? Tega betul kamu! Ibu tak minta dibikinkan rumah mewah, jalan-jalan ke luar negeri apalagi berlian. Tidak! Ibu cuma minta cucu. Mumpung masih dikasih umur sama Yang Di Atas, cepat aku dikasih cucu! Apa susahnya,?”
“…”

###

2006
“Jadi kapan cucuku bertambah jadi dua?”
“…”
“Tahun depan?”
“…”
“Kalau sepasang kan lucu sekali. Sudah pas! Bagus!”
“Mungkin tidak akan ada cucu kedua, Bu.”
“Hah? Tidak mungkin? Cuma mau punya satu anak?”
“Ya.”
“Lho, nanti aku kesepian. Kau juga kesepian!”
“Tidak apa-apa, Bu.”
“Lho, ya jelas apa-apa! Jangan buru-buru memutuskan! Sudah rapat sama suami, belum?”
“Sudah.”
“Dia setuju?”
“Tak perlu ditanyakan, Bu.”
“Kamu itu memang keterlaluan!”
“Dia, Bu. Bukan aku.”
“Jangan putuskan apa-apa sebelum dia setuju!”
“Dia tak akan ambil pusing, Bu. Sudah sebulan ini dia tak pulang.”
“Tidak pulang? Tugas luar?”
“Ya, tugas di rumah perempuan lain. Buka cabang baru.”
“Aduh, Gusti!”
“Tidak apa-apa, Bu. Kami akan pisah baik-baik. “
“Jangan! Jangan pisah! Itu sakit musiman laki-laki. Biasa! Bapakmu begitu juga. Pakde Mursid, Paklikmu, Herry… hampir semua laki-laki di dunia suka main sana-sini. Itu biasa. Biasa sekali!”
“Maksud Ibu, aku harus tetap bertahan dengan kesukaannya main sana-sini itu?”
“Ya! Karena di situlah letak kekuatanmu sebagai istri! Kamu musti belajar menderita. Belajar bertahan! Kuat! Lihat, Ibumu ini. Kuat! Ibu bisa. Bapak boleh ke mana-mana, Ibu tetap di sini.…”
“Tapi Bapak tak pernah kembali.”
“Itu bukan urusan Ibu. Yang penting Ibu di sini bersama kamu dan adik-adikmu.”
“Tapi aku bukan Ibu.”
“Tapi kamu musti seperti aku. Mesti.”
“Aku tak bisa, Bu. “
“Kuat sampai tua. Sampai mati.”
“Bu…”
“Kamu harus bisa. Ini bukan buat Ibu. Ini buat kebaikan kamu sendiri. Tak baik melepaskan diri dari suami. Aib itu.”
“…”
“Ibumu tak minta macam-macam. Ibu cuma ingin kamu bertahan. Demi Ibu. Kau ini anak Ibu. Kau pasti tidak ingin ibu jadi sedih dan malu karena keputusanmu itu, kan? Sudah, cuma itu. Ibu ndak minta macam-macam… Apa susahnya? Apa?”
“…”

###


Cerpen sebagai karya fiksi dibangun oleh dua unsur pembangun yang saling menopang, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Karena bentuknya yang relatif pendek, cerpen menuntut penceritaan yang serba ringkas, tak sampai pada detail khusus yang “kurang penting” yang lebih bersifat memperpanjang cerita. Cerpen sebagai prosa juga memiliki unsur-unsur yang saling berkaitan. Dalam hal ini, satu unsur akan mempengaruhi unsur lainnya. Untuk lebih jelasnya, berikut ini unsur-unsur yang terdapat dalam cerpen:

1. Tema

Pada umumnya tema cerpen hanya berisi satu tema karena sifat cerita yang pendek. Hal itu juga berhubungan dengan jalan cerita tunggal dan jumlah tokoh yang terbatas. Tema biasanya berhubungan dengan sikap dan pengamatan penulis terhadap kehidupan. Ada juga cara menyatakan tema secara tersembunyi, yaitu melalui potongan dialog tokoh atau satu adegan cerita.

2. Plot (Awal konflik – Klimaks – Ending)

Plot: rangkaian waktu perjalanan cerita yang tak tampak. Adapun kehadiran konflik harus ada sebabnya. Secara sederhana, konflik lahir dari mulai pengenalan hingga penyelesaian konflik: Pengenalan konflik > Timbul masalah (konflik) > Masalah memuncak (klimaks) > Masalah mereda > Penyelesaian masalah
A. Pengenalan konflik
Pembaca dibawa untuk tahu bagaimana benih konflik muncul. Dalam hal ini, taraf pengenalan bagaimana hadirnya tiap tokoh dibangun.
B. Konflik muncul – Konflik memuncak
Munculnya konflik ini pada umumnya disebabkan ada pertentangan baik dan buruk, Bisa juga karena adanya dua kepentingan. Konflik adalah bumbu utama hingga cerita makin seru. Timbulnya konflik akan membentuk plot.Pertentangan antar tokoh akan membuat masalah kian tinggi. Klimaks ini kian membedakan masing-masing tokoh bertindak, baik secara fisik maupun pikiran. Perlu diingat, antagonis tak harus manusia atau makhluk hidup lain, tapi bisa situasi tertentu (alam, Tuhan, aturan sosial, dirinya sendiri). Dengan demikian, kunci utama untuk mencari plot cerita adalah menanyakan apa konfliknya.
C. Konflik mereda
Konflik reda setelah tokoh dalam cerita menemukan solusi masalahnya.
D. Penyelesaian
Penyelesaian adalah titik akhir permasalahan. Di tahap ini, tokoh telah menemukan jawaban. Penyelesaian akan membawa pembaca pada kesimpulan menyangkut watak tokoh bahkan pembelajaran apa yang bisa diambil. Adapun urutan peristiwa dalam cerpen bisa dimulai dari mana saja. Dengan demikian, tidak harus bermula dari tahap perkenalan tokoh ataupun latar. Tergantung kepiawaian penulis dalam mengolah jalan cerita. Dengan begitu, jalan cerita tak bersifat konvensional. Berhubung cerpen berplot tunggal, konflik yang dibangun dan klimaks yang akan diperoleh pun, biasanya, bersifat tunggal pula.

3. Tokoh dan Perwatakan

Tokoh dalam cerpen terbatas. Berbeda dengan novel yang digambarkan secara detail, tokoh cerpen lebih bergantung pada imajinasi pembaca. Mutu cerpen banyak ditentukan kepandaian penulis menghidupkan watak tokohnya. Cerita yang baik mampu menampilkan karakter tokoh meski tak harus digambarkan langsung (bisa melalui asal usail daerah, kebiasaan, masa lalu, cara berpikir, dll)
Kita bisa belajar banyak melalui cara merasa dan berpikir tokoh yang hadir dalam cepen. Adapun penggambaran tokoh dapat ditempuh dengan beberapa jalan yang muncul dalam diri tokoh.
A. Apa yang diperbuat oleh para tokoh.
Tindakan para tokoh, terutama bagaimana ia bersikap dalam situasi kritis. Watak seseorang kerap tercermin pada sikap dalam situasi penting. Maka dia akan bertindak spontan menurut karakternya: Situasi kritis disini tak perlu yang mengandung bahaya, tapi situasi yang mengharuskan mengambil keputusan segera. Melalui ucapan tokoh. Kita dapat mengenali apakah dia orang tua, orang dengan pendidikan rendah atau tinggi, sukunya, wanita atau pria, orang berbudi halus atau kasar, dan sebagainya.
B. Melalui penggambaran fisik tokoh
Penulis membuat deskripsi mengenai bentuk tubuh dan wajah.
C. Melalui pikiran-pikirannya
Melukiskan apa yang dipikirkan oleh tokoh. Dengan cara ini pembaca dapat mengetahui alasan-alasan tindakannya.
D. Melalui penerangan langsung
Penulis membentangkan panjang lebar watak tokoh secara langsung.

4. Latar (Setting)

Setting tak hanya menyangkut lokasi kejadian cerita. Setting adalah sebuah syarat untuk menggarap tema dan karakter cerita. Dari setting tertentu harus bisa menghasilkan perwatakan tokoh dan tema tertentu. Jika sebuah cerita settingnya dapat diganti dengan tempat mana saja tanpa mengubah atau mempengaruhi watak tokoh dan tema cerpennya, maka setting itu kurang integral. Setting bisa berarti tempat tertentu, orang-orang tertentu dengan watak tertentu akibat situasi lingkungan atau zamannya, cara hidup tertentu, cara berpikir tertentu. Penulis terkenal memiliki kekuatan hanya karena pemilihan setting. Pramoedya dengan setting sejarah dan kondisi sosial mayarakat. Ahmad Tohari dengan lokalitas pedesaan dan perilaku sosial masyarakat dusun. Putu Wijaya dengan gabungan kultur Bali-Jawanya, Membaca karya mereka membuat kita tahu ranah tertentu dengan kehidupan tertentu, kebiasaan tertentu, yang tak bisa diganti dengan daerah lain.
A. Setting tempat
Setting tempat: TKC. Secara sederhana, setting tempat akan mempengaruhi gaya maupun emosi tokoh dalam berbicara. Contohnya, setting dengan situasi Tegal berbeda dengan Surabaya. Demikian juga nama Ujang dengan Ketut. Pembaca sudah mempunyai pengetahuan awal soal kedua nama itu. Ujang berasal dari Sunda adapun Ketut dari Bali.
B. Setting waktu
Setting waktu: kapan cerita terjadi. Setting waktu mempengaruhi cara tokoh bertindak. Misalnya, perbedaan cerita bersetting Majapahit dengan cerita bersetting modern. Hal ini dapat diamati dari cara berpikir tokoh dan kondisi lingkungan saat itu.
C. Setting sosial
Setting sosial yang terjadi pada waktu kejadian terwakili oleh tokoh. Contohnya, dapatkah anda mempunyai gambaran antara setting sosial zaman Reformasi dengan setting sosial zaman Majapahit?

5. Sudut Pandang (Point of View)

Point of view berhubungan dengan siapakah yang menceritakan kisah dalam cerpen? Cara yang dipilih oleh penulis akan menentukan gaya dan corak cerita. Hal ini disebabkan, watak dan pribadi penulis banyak menentukan cerita yang dituturkan pada pembaca. POV yang tepat akan menentukan ideal tidaknya sebuah cerita.

6. Gaya (ciri khas)

Gaya: cara khas penulis mengungkapkan ekspresi berceritanya. Gaya tersebut adalah bagaimana penulis memilih tema, persoalan, meninjau persoalan, dan menceritakannya dalam sebuah cerita utuh. Apakah gaya tak mungkin berubah? Gaya bisa berubah sesuai tingkat intelektualitas penulis. Kadang untuk para pemula, seringkali meniru gaya penulisan cerpen dari penulis yang sudah terkenal. Hal ini karena para penulis pemula masih dalam proses pencarian bentuk.
Oka Rusmini kerap menggambarkan sosok perempuan Bali sebagai manusia yang melawan ketertindasan tradisi. Helvy Tiana Rosa fasih dalam menggambarkan tokoh dengan segala kebaikan aspek humanisme religius. Gaya bisa juga diksi/pemilihan kata yang tepat. Misal: A. Fuadi (Negeri 5 Menara), A. Hirata (Laskar Pelangi), Pramoedya (Bumi Manusia), Dee (Akar), Hilman (Lupus), dsb.
Selanjutnya adalah soal efektifitas kata. Kadang penulis pemula terjebak dalam penggunaan kata yang bertele-tele sehingga pembaca bosan setelah membaca beberapa paragraf awal saja. Belum lagi tulisannya yang kerap menggurui, seolah pembaca adalah orang awam yang tak tahu apa-apa.

7. Amanat

Amanat adalah bagian akhir, juga merupakan pesan dari cerita. Penulis “menitipkan” nilai yang dapat diambil hikmahnya. Amanat adalah bagaimana pembaca memahami dan meresapi cerita. Setiap pembaca akan merasakan nilai yang berbeda dari cerpen yang  dibacanya. Pesan biasanya hadir secara tersirat. Pembaca mempunyai pandangan sendiri terhadap amanat yang dia baca dari cerita. Pembacapun berhak membantah atau mendukung. Hal ini sesuai dengan tujuan karya sastra, utile dan dulce. Berguna dan menghibur.

TEORI MEMANG MAHAL, TAPI ACTION-LAH YANG PALING MAHAL.
AYO MULAI SEKARANG!!!

Salam,

Ardyan Amroellah

 
Leave a comment

Posted by on February 28, 2012 in Belajar

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: