RSS

CERITA MIE INSTANKU: ELEGI PAGI

22 Feb

Oleh Ageng Rikhmawan

Manusia timur selalu lebih timur dari tapal batas khatulistiwa. Perlu waktu lama untuk menyatukan nyawa yang terburai. Berserak disana-sini. Waktu yang melambat, telinga yang mendengung. Mendengar sayup perut bercerita. Waktunya sarapan!

Pintas berpikir, akhirnya mi instan adalah tujuan akhir. Tak mudah memenuhi dimensi makan pagi akhir minggu yang sepi. Empat bungkus merah rasa raja. Bungkus merah jingga separuh muka piring penuh sajian istimewa. Indonesia dengan rempah-rempah. Indonesia dengan cita rasa. Indonesia instan.

Dihidupkan pemanas. Seteguk air berproses. Pemantik gas menyentikkan jari. Sebelum gelembung air memuncak, ditutup agar putaran itu menjadi cepat sempurna. Sambil menunggu, duduk bersandar pada tembok terdekat. Melihat rumah yang terbangun. Telah terpenuhi ornamen dengan segala cerita dibaliknya. Simbol-simbol yang sepakat dengan istri dan dua buah hati. Dipasang berjajar sesuai urutan waktu pada dinding tembok ruang keluarga. Menghiasi indah tempat peraduan. Aku menamainya mimpi dalam dinding.

-§§§-

Aku berdiri dalam ringan. Sudah waktunya memasukkan mi yang telah kubuka. Empat hidangan favorit rasa berbeda. Untukku, kubuat mi goreng menjadi mi rebus tanpa telur dengan banyak sawi. Untuk istri tercinta, mi goreng pedas dengan separuh semua bumbu ditambah irisan cabai lima biji. Kami telah berbagi resep ini, bak kisah-kisah dibelakang yang mengikutinya. Tengah malam sebelum tidur, tempat bercerita kami bukan di kasur. Tapi di dapur dengan membuat menu mi instan, aku untuk istriku dan istriku untuk aku.

Mangkuk untuk kakak adalah mi dengan udang rebus telur, tanpa minyaknya. Dan terakhir adik, mi rebus dengan sosis dan kuah bertelur. Aku menyiapkan tambahannya secepat sebelum mi matang. Mengiris tipis sayuran hendaknya menepis semua ego dalam hidup. Kuiris tipis hingga dapat mudah ditelan hilang. Mengindikasikan bau sedap sebagai lantunan aku berkehidupan. Separuh jalan mempersiapkan pelengkap mi itu, membantuku berpandangan tentang beragam kenyataan hidup. Selesailah udang dan sosis. Kumatikan api biru. Setengah matang sesuai rencanaku. Kubuang air mi.

Kubagi semua mi di empat mangkuk yang sama.

Sama rata. Beda selera. Satu cinta.

Kupungkasi dengan menghamburkan bawang di setiap mangkuknya. Hanya hal itu yang sama dalam selera menikmati hidangan ini. Diakhir taburan aku merasa, aku telah menyelesaikan segala dengan berupaya. Sebaik mungkin seperti apa yang kuberikan pada keluargaku dimasa-masanya.

Aku masih belum mendengar langkah kaki menuju dapur. Rupanya bau sedap ini tak membuat mereka berlari menujuku. Maka kubawa saja dua mangkuk untuk adik dan kakak. Naik ke lantai dua, mengetuk pintu, dan mendapati mereka masih lelap. Kuletakkan mangkuk disamping tempat tidurnya. Kucium kening satu-satu. lalu kubiarkan mereka bangun dan mendapatkan persembahan kecil dari ayahnya.

Kemudian aku membawa mi untukku dan istri. Kulihat disana wajah lelah yang telah dua kali dasawarsa menemaniku. Kucium keningnya. Berharap yang telah kuberikan masih sama. Sama seperti kita dahulu berpacaran. Seperti sebelum mempunyai anak dan waktu sekarang.

”Aku telah berusaha maksimal, maafkan aku jika banyak yang kurang berkenan.”

Sekecap kemudian, aku merasa ada seseorang hadir dibelakangku. Dia tersenyum, senyum penuh damai yang belum pernah kulihat. Aku menyalaminya hangat. Baunya yang teduh kuharap bisa memudahkanku untuk pulang. Aku tak takut. Aku telah bersiap dengan baik. Aku mengucapkan salam.

”Sudah waktunya.“

Tangannya menuntunku. Melewati tubuh yang duduk tersenyum memejam mata disamping dapur. Dengan air mendidih dan mi instan itu masih dalam bungkusnya. Udang dan sosis masih pada tempatnya.

Kini kutahu, sambil melayang kulihat bungkus merah rasa raja itu, terdapat sesuatu yang seharusnya diperhatikan pertama kali. Di depan bungkus mi dengan segala hiruk pikuk yang menyertainya. Luput dari pandangan semua orang.

”Setiap Hal mempunyai Masa Kadaluarsa. Itu telah tertulis. Itu pasti Terjadi.“

 
Leave a comment

Posted by on February 22, 2012 in Cerita Pendek

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: