RSS

TOMAT ALPUKAT; SEBUAH CERPEN

09 Feb


Oleh: Asmal Wafa


Beibh, pinjam tanganmu!” Ia gegas menarik tanganku. Sekarang jemariku sudah berada dalam genggaman tangan kirinya.

“Apaan sih?!”

“Ini aku mau kasih sesuatu,” ujarnya riang.

Aku penasaran. jika ada lelaki yang berujar demikian, bukankah sebagai seorang wanita sudah sewajarnya pikiranku akan di jejali rasa yang menggelinjang dan bayangan romantisme yang luar biasa hebat?

Aku juga perempuan sama seperti yang lain. Ah akhirnya, ia bisa juga bersikap romantis seperti pria lain. batinku. Ia menatapku lekat, jantungku berdebar menanti kejutan. Mungkin, ia akan melamarku hari ini. Terlalu muluk, atau mungkin saja ada hadiah kecil untukku? Entahlah, yang pasti aku menikmati sensasi rasa di hatiku.

“Ini….”  Ia menggenggamkan jemari tangannya di tanganku. Aneh! Aku tidak merasa ada sesuatu benda berpindah di telapakku, kecuali hanya terasa ada benda kecil yang lebih ringan dari batu yang entah benda apa. Yang jelas, bukan cincin! Tapi apa?

Aku membukanya perlahan, dan….Reflek kukibaskan tangan! Bagaimana tidak, aku mendapati bulatan hijau kecil menjijikkan berada di telapak tanganku. Upil!

“Huahahahahhahahaha….!!!” Ia ngakak.

Ya ampun, bisa-bisanya aku berpikir tentang kejutan yang sangat tidak mungkin ia lakukan. Ah, sudahlah!

“Maaf sayang, udah gih di minum juice nya!” ujarnya membujukku untuk melupakan perbuatannya barusan.

Ku seruput juice alpukat dengan serutan alpukat sebagai topingnya serta campuran susu coklat yang legitnya bisa membuatku lupa bahwa aku mungkin saja mencintai orang yang salah.

“Hei, masih marah?”  tanyanya menggodaku.

Aku menggeleng sambil terus menikmati seruputan terakhirku. Sementara ia dengan lahap menikmati tempe penyet kesukaannya dan juice tomat tanpa gula. “Maaf ya, bercanda kok… I love you like I love tempe!” katanya lagi.

Tunggu, aku tak salah dengar?  Tempe?!

Yang benar saja! Kenapa aku harus di samakan dengan tempe. Aku berdecak dan melirik ketus kearahnya. Ia terkikik terasa begitu senang membuatku sebal. Ya Tuhan, kenapa kau biarkan aku mencintai lelaki ini!

§§§

Namanya Damar, tapi aku lebih sering memanggilnya Pesek. Bukan berarti ia benar-benar pesek, hanya jika di bandingkan dengan hidungku. Ia, juga sering memanggilku kucrit.

Yaahh…mungkin karena tubuhku yang mungil dan elastis barangkali. Aku mengenalnya 4 tahun lalu, di semester kedua kuliahku. Bulan ke empat sejak pertemuan itu kami resmi jadi sepasang kekasih. Dan banyak hal yang membuatku tak habis pikir mengapa harus jatuh cinta padanya. Hampir semua orang membuat spekulasi bahwa hubungan kami tak mungkin akan berjalan mulus, bahkan mungkin putus di tengah jalan. Jalan menuju kebahagiaan ‘kan memang tak selalu mulus tho.? Pernah, kami bertengkar hanya karena cibiran seorang kawan, “Lihat deh, ceweknya pinter, rajin….cowoknya, ngerjain tugas aja malesnya ampun-ampunan!”

Setiap orang pasti tak suka dibanding-bandingkan macam itu. Aku juga tidak suka meski dammar yang dibangingkan, apalagi harus dibandingkan dengan lelaki yang menurutku sangat berarti. Kami memang tak sama, nilai kuliahku jika dibandingkan dengannya jelas terpaut sangat jauh. Ia tipe mahasiswa slenge’an dan tak terlalu khawatir dengan nilainya yang mungkin anjlok. Bukankah tingkat intelektualitas seseorang tak bisa semata-mata dinilai hanya dari skor akademik. Perbedaan yang lebih mencolok lagi, adalah status sosial keluarga kami. Aku jauh lebihi beruntung dibanding keluarganya, tapi bertahun-tahun aku hampir selalu berhasil menyamarkan perbedaan itu. Tidak pernah sekalipun aku mengungkit masalah  keluarga kami.

Julukan ‘couple of the year’ bahkan sempat melekat pada kami, saking awetnya. Tapi seperti yang aku bilang sebelumnya. Jalan menuju kebahagiaan itu tak pernah selalu mulus. Hari itu pasti akan tiba suatu saat nanti.

§§§

` “Nduk, bagaimana hubunganmu dengan Damar?”

Tidak biasanya ibu bertanya soal Damar. Apalagi setahuku ibu hampir tak pernah merespon sedikitpun soal hubunganku dengan Damar.

“Athiya, cobalah kamu tanyakan sama Pak Sholeh, Damar itu orangnya seperti apa…”

Aku tetap pada posisiku, berdiri menghadap cermin membetulkan posisi jilbabku yang sedikit mencong sambil mengerjapkan mata yang kemasukan celak.  “Ibu, setiap manusia itu kan di ciptakan satu paket. Ada sisi baiknya dan ada sisi buruknya. Buat apa sih tanya-tanya begitu, lagi pula tebakan manusia itu kan belum tentu benar!” aku beralasan.

“ Iya, tapi setidaknya kan kamu akan tahu ia seperti apa!”

“Masa iya aku kenal sudah empat tahun lebih masih tidak bisa mengenalnya dengan baik?” aku masih membela diri.

“Iya apa salahnya sih…” Ya, memang tidak ada salahnya. Setidaknya sekedar untuk membuat ibu lega.

“Baiklah, nanti sepulang mengajar aku kesana…” aku mengalah.

§§§

Aku tidak tahu persis yang kulakukan ini tergolong menyimpang atau tidak, atau bahkan mungkin akan ada yang mengatakan musyrik. Tujuanku bukan ingin mendahului takdir Tuhan. Aku hanya ingin membuat Ibu lega, sebatas itu. Meskipun tak kupungkiri juga bahwa hatiku memang sedikit penasaran. Jangan-jangan aku hanya mengenalnya setengah-setengah selama ini.

Pak Sholeh bukan orang yang baru kukenal, keluarga kami biasa menggunakan jasa pengobatan alternatif yang di pimpinnya. Tetapi konon, ia juga mampu membaca sifat dan karakter orang dari nama atau tanggal lahirnya. Beliau tak berlabel dukun, mungkin lebih tepatnya beliau hanya manusia yang di karuniai penerawangan lebih.

“Namanya siapa?”

“Damar.”

Sekejab kemudian. Bla bla bla bla

Disebutkanlah satu persatu tabiat Damar, yang kebanyakan memamerkan sisi buruk lelaki itu. Sempat pula kutanyakan sikap ibu yang sejak awal tampak tak ramah pada Damar. Lelaki baya itu menggeleng pelan. Aku mafhum.

Rasanya seperti di sambar petir, dengan lugas ibu memintaku untuk lebih baik mencari lelaki lain yang katanya sekufu. Dadaku terasa begitu sesak. Mencari pengganti?

Sampai di rumah aku coba berdialog dengan bapak lebih dulu, mungkin bapak bisa membantuku melunakkan hati ibu. Atau jika sulit, setidaknya bapak bisa membuatku memahami semua dengan sikap bijak.

“Komunikasi apa? ibu jelas-jelas gak suka,” jawabku sambil terisak. Aku memang manja pada bapak.

“Cobalah bicarakan dengan Damar, Bapak yakin ia sendiri akan berusaha melunakkan hati ibumu.” Saran bapak pada akhirnya.

§§§

Ini soal sepele sebenarnya, tapi aku berlebihan menyikapi.

Ya, jelas saja! Bagiku apapun berada di bawah restu kedua orang tuaku, bukankah sudah ada dalilnya, ridholloh fii ridhol walidain. Ridha Allah bergantung pada ridho kedua orang tua. Dan bagiku, Ibu adalah tonggak utama atas segala Ridha-Nya. Jika Ibu saja tak merestui, bagaimana dengan-Mu?

Aku kacau berhari-hari, bahkan sedikitpun tak kubicarakan perihal pertemuanku dengan Pak Sholeh, takut-takut ibu akan semakin menekanku untuk menjauhi Damar. Ada penyesalan yang luar biasa. Kenapa hari itu aku harus bertandang ke rumah Pak Sholeh jika sebelumnya aku selalu yakin bahwa Tuhan selalu berpihak padaku. Memang tidak ada penyesalan yang datang di awal.

Juice Corner, kedai yang menjajakan aneka macam juice dengan label sehat itu di padati pelanggan. Banyak dari mereka adalah para anak sekolah yang sejenak melepas lelah usai kegiatannya. Aku duduk di bangku pojok ditemani segelas juice alpukat seperti biasa, di tambah dengan serutan alpukat diatasnya. Sementara di hadapanku duduk seorang lelaki dengan baju lengan pendek dipadukan dengan celana bahan dan sepatu fantofel, elegan. Sebentar-sebentar tampak ia merapikan rambutnya yang berantakan karena tertindih helm sewaktu di perjalanan menemuiku saat jam istirahat kantor.

Tidak banyak kata yang keluar dari mulutku, pun dia. Sebelum hari ini, sudah sempat ku adukan semua resah dan ganjalan hatiku. Aku rasa ia juga sudah sangat memahami situasi ini. Bahkan, ia jauh lebih siap jika semua memang harus di akhiri. Dan….segalanya berakhir! Seperti tak pernah terjadi apa-apa di antara kami, ia berujar memilih untuk pergi. Mungkin ia sedang mengujiku, tapi saat itu tidak sedikitpun kekuatan yang mendorongku untuk tetap bertahan. Habis sudah kisah ini.

§§§

Haaah!!

Rasanya begitu berat, berkali aku menghela nafas panjang untuk membuat diriku sendiri merasa tenang. Tapi rasa tak nyaman tak juga menghilang. Bagaimana bisa secara tiba-tiba aku tak bisa lagi melihatmu, menyapamu, mendengar ocehanmu, menikmati lawakanmu, dan tak lagi bisa menceritakan hari-hariku. Sementara  selama 4 tahun ini kaulah satu-satunya pria yang kupercaya menjaga hatiku. Satu-satunya lelaki yang dengan sabar mendengarkan celotehku tentang banyak hal. Dari hal remeh temeh sampai pada hal-hal besar yang terkadang tak sanggup ku ceritakan meskipun pada orang tuaku sendiri.

Sejak kita di wisuda, tidak banyak waktu yang bisa kita luangkan. Kesibukanku mengajar dan kesibukanmu dengan usaha yang kau jalankan menyempitkan pertemuan kita. Maka sejak saat itu ponsel adalah benda paling keramat bagiku. Hampir setiap hari lepas beraktifitas, kalau tak mengirim pesan kusempatkan selalu untuk menelpon. Entah sekedar ingin mendengar suaramu atau bercerita tentang polah anak-anak didikku yang lucu-lucu. Sekarang nyatanya tak lagi seperti dulu.

Aku bukannya tak mau mencoba, aku sudah berusaha untuk membiasakan diri tak terlalu tergantung padamu. Hanya mungkin aku belum terbiasa. Mengoceh di depan orang lain tak cukup bisa membuatku lega, ada semacam pikiran bahwa “kau juga harus mendengar dan merasakannya”.

Rasanya ingin bernyanyi,

“Banyak cerita yang mestinya kau saksikan, sayang kau tak duduk disampingku sayang….” 

Aku pernah membaca buku, katanya setiap benda itu mempunyai aura. Jika suatu benda dipindahkan dari tempatnya maka aura benda itu masih tertinggal ditempatnya semula. Dan, auramu sepertinya tertinggal dimana-mana. Bahkan setiap saat aku berkaca, aku bisa melihatmu dalam cermin. Rupanya terlalu banyak hal yang mengingatkanku padamu, terlalu banyak tempat yang membuatku tak bisa lupa bahwa hari-hari bersamamu adalah hari terindah dalam hidupku. Lagi-lagi ingin menghibur diri,

“Tak terkira… di sampingmu adalah hal terindah yang pernah ku inginkan.”

Kau mungkin pemarah, tapi kau adalah satu-satunya orang yang bisa menahan amarahmu saat selayaknya kau marah padaku (bukankah aku sangat menyebalkan!). Kau mungkin tak punya kelebihan yang patut aku banggakan di depan orang-orang, tapi kau adalah satu-satunya orang yang setiap hari bisa membuat bibirku merekah sekalipun aku dalam keadaan kesal. Bahkan aku tidak bisa tidak tersenyum saat melihatmu meskipun hanya dalam gambar. Kau juga bukan lelaki romantis yang kerap menyuguhkan hadiah untuk kekasihnya, kau bahkan jarang memuji. Tapi semua itu membuatku justru menjadi lebih apa adanya dalam mencintaimu.

Kau bukan laki-laki yang banyak digandrungi wanita tapi aku yakin jika wanita-wanita itu mengenalmu lebih dalam, mungkin aku akan banyak punya saingan. Bukankah dulu mantan kekasihmu juga tak terlalu rela kau jadi milikku?!

Ah,  Mungkin aku terlalu berlebihan!

Aku pikir tidak sedang merajuk, aku hanya butuh Tuhan untuk membantuku. Tapi jika Tuhan tak membantuku untuk melupakan. Apa itu artinya?

Jıka mencintai itu berarti menerima, maka segala kurang lebih adalah dua rasa yang kadang aku suka tapi kau tak suka atau yang kau suka tapi aku tak suka. Alpukat dan Tomat.

“I love you like I love tomato, masam, manis, segar… tidak ada batasnya dan tidak ada bosannya untuk dinikmati… mungkin nanti, aku akan berusaha menyukai alpukat yang legit tapi eneg!”

Dari sambungan ponsel terdengar suara pria di seberang. Bibirku terkembang, senyumku yang berlebih sanggup membuat air mataku mengalir. “I love you like I love avocado! Legit dan eneg, mungkin nanti aku akan belajar menyukai tomat yang penuh kejutan, tampak merona tapi kadang masam…” jawabku.[]

Jam 17.32 di Jepara, 20 April 2011

Sayang, aku mencintaimu seperti aku menyukai segarnya tomat!!

 
Leave a comment

Posted by on February 9, 2012 in Cerita Pendek

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: