RSS

SEBUAH SUNNAH; SEBUAH CERPEN

09 Feb

Oleh Ardyan Amroellah

Kitab-kitab kuning berbalut sampul tebal itu kuhamburkan kesana kemari. Tak satu lembar kertas itu kubiarkan lepas dari kemarahanku. Kurobek mereka. Makna huruf-huruf Arab yang selama ini aku pelajari, syiar-syiar yang selama ini kuhayati ternyata tetap tak membawaku untuk memahami, serta tak mampu menjadikan hidupku kini lebih baik. Aku tertekan di usiaku yang baru dua puluh satu. Hari ini.

Jeritan jiwaku sudah tak tertahan, perlahan melelehkan belenggu jangkar besi yang selama ini membuatku tenggelam. Aku mencoba makar! Aku telah lelah terkapar di lembah yang telah diciptakan oleh pemikiran-pemikiran terkutuk yang dilegalkan oleh waktu dan peradaban, terutama oleh manusia sendiri. Aku muak, dan aku akan merubahnya. Cukup sudah kediaman ini di mulutku. Akan kugugat balik ketidak adilan!!

Daqaa’i qul Akbar, Ghoyat at-taqrib, Ushfuriyah, Fadhoitul Amal,

Aku tak tahu lagi, berapa jilid kitab kuning yang telah kumaknai. Aku hanya menghambur-hamburkan mereka, berharap ada yang mendengarkan kekecewaan hatiku. Lelah menangis, aku mengambil kitab terakhir yang masih tersisa di meja belajarku,

Uqudul lijain….

Spontan kurenggut beberapa lembaran yang ada didalamnya, kurobek-robek seakan membalas dendam atas isinya yang telah meruntuhkan harga diriku sebagai seorang wanita muslimah dan seorang manusia merdeka.

§§§

Aku sangat ingat malam itu. Ketika rumahku di datanginya. Aku memanggilnya “si tua” karena ia memang teman sebangku semasa di Sekolah Rakyat dengan bapakku yang telah tiada empat tahun lalu. Diinginkan diriku oleh si tua itu, seseorang yang selalu memimpin sholat berjamaah di setiap masjid yang ia datangi, di setiap majelis yang ia isi dengan khotbah-khotbah, yang selalu memberikan pencerahan-pencerahan pada umat yang dirundung duka. Ia yang sebelumnya telah mempunyai tiga istri, dan aku dijadikan pelengkap. Dikarenakan, katanya itu sunnah Rasul. Tidak hanya sunnah, bahkan ditambahi label ‘muakkadah’ dibelakangnya.

Aku ingat pula ketika ibuku hanya mampu menangis tertahan saat ia berucap,

“Mohon dipikirkan, Mbak. Saya tidak menikahi anakmu melainkan untuk beribadah. Saya yakin, Andin akan diterima dengan senang hati oleh istri-istriku yang lain.” Ia menambahkan.

Ibu hanya bisa berkaca-kaca. Air matanya terlalu eman untuk ditumpahkan di hadapan si tua. Aku tahu, sangat tahu bahwa harga dirinya ikut tersenggol saat tahu anaknya akan menjadi madu, meski untuk seorang agamawan sekalipun. Saat itu, aku benar-benar ingin membangkitkan bapak dari kubur, agar ia bisa membatalkan ini semua. Barangkali….

Aku juga tak habis mengerti, apakah orang-orang itu tak bisa berhitung matematika? Bahwa bilangan dua itu lebih banyak daripada bilangan satu, dan jika mereka mengerti hukum demokrasi, bahwa bilangan dua itulah yang akan menang. Selalu mereka gembar-gemborkan ayat suci yang dipotong demi kepentingan patriarki, “Kamu (laki-laki) boleh menikahi wanita satu, dua, tiga, atau empat….” tanpa menyebutkan ayat lanjutannya yang mengharuskan untuk berbuat adil, satu syarat yang sangat berat.

Bahkan aku yakin, Muhammad pun tak bisa berbuat adil terhadap istri-istrinya, hanya adil lahiriah mungkin bisa laksanakan, sedang untuk adil batiniah memang harus angkat tangan. Pikirku tak sampai, betapa berani mereka mendasarkan legalisasi poligami atas ayat suci? Sedangkan dengan pongahnya memotong sebagian untuk menonjolkan sebagian yang lain yang sesuai dengan tujuannya.

Aku tak pernah menyalahkan istri-istri tuanya. Karena ia memang benar, bahwa ketika pertama kali aku masuk ke keluarga besar ini. Aku langsung mendapatkan sambutan yang hangat, meski bukan sambutan yang hangat secara denotatif, namun lebih pada perasaan sepenanggungan karena si tua itu telah genap memiliki empat madu. Andai tak dibatasi empat, aku tak pernah tahu….

“Biasakanlah, Dik. Emang pada awalnya akan sakit, nggak nyaman. Tapi inilah kamu. Inilah kita, dik…” kata mbak Rustri suatu ketika. Ia adalah istri ketiga sekaligus orang yang paling baik kepadaku. Mengingat umur yang hanya selisih tujuh tahun. Kuanggap ia kakak, walau sebenarnya kita adalah ‘kompor’ yang bersaing untuk menghangatkan si tua.

Aku sering memergoki mbak Rustri menangis, aku tak tahu apa yang ditangisinya, aku tak berani bertanya. Berat mungkin yang ia rasa, sampai-sampai hanya tumpahan air mata yang bisa menghiburnya. Mbak Rustri menikah dengan si tua sekitar lima tahun yang lalu, dan sampai sekarang belum diberi anak, sama seperti istri-istri si tua yang lain. Keluarga besar ini masih tanpa anak! Namun bukan berarti ini adalah satu-satunya alasan si tua menikahi banyak perempuan. Alasan pertama yang selalu ia kemukakan adalah beribadah, dan itu membuat telingaku berdengung sakit tiap kali mendengarnya.

Aku –sekali lagi– sudah sangat letih. Dengan raga, apalagi jiwa keparat ini. Mataku berat, seakan tak mau terbuka lagi. Ini adalah malam ke sekian yang selalu kutumpahi air mata. Baru lima hari setelah akad nikahku, aku sudah begini gila! Kehidupanku selanjutnya pasti akan lebih gila lagi! Sangat berbeda daripada hari-hari perawanku sebelumnya. Si tua memang belum menyentuhku sekalipun, sebab sibuknya mengisi pengajian di seluruh negeri yang mengenalnya. dua hari ini pula perutku sudah tak mau menuntut untuk diisi, hanya suaranya saja yang kadang mengganggu telinga. Tapi perintah hatiku tetap mengatakan tidak mau. Aku menutup jendela dan pintu kamarku rapat-rapat, malu aku pada matahari dan bulan, aku malu pada semilir angin. Aku hanya ingin menyendiri dan meratap. Mencoba mencari sedikit alasan untuk tetap hidup dan berkarya sebagai makhluk.

§§§

Hari ini si tua pulang ke rumah, dan aku yakin malam ini ia pasti akan menjamahku, ia pasti menyentuhku. Dan pasti aku hanya bisa menangis. Semakin larut, malam menarik selimutnya yang makin gelap. Aku meringkuk di sudut kasur, tak hertin-hentinya menyesali nasib bruk yang menimpaku. Aku bangkit menuju cermin dan memandangnya.

“Kecantikanku selama ini ternyata tiada berarti….”

Aku menggumam sendiri, kuraba pipiku yang ranum. Basah. Dan ini semua di tubuhku, hanya akan kuserahkan kepada orang yang tak bisa aku mengerti.

Untuk apa kita belajar selama ini, jika ilmu dari kitab-kitab itu hanya dipelajari secara ‘bil barkah’, hanya untuk mendapatkan berkah dari pengarang-pengarangnya yang telah dipeluk dan bumi beratus tahun lalu, sedangkan ilmunya sendiri tak bisa dipraktekkan dengan baik, kalaupun bisa itu sudah menjadi keegaliteran yang keterlaluan, ketinggalan modernitas peradaban. Romantisme masa lalu berlebihan yang banyak dipunyai oleh manusia-manusia beragama di jamanku.

Bayangan dalam cermin itu tertawa,

“Kenapa kau tertawa?” aku berteriak, ia masih tertawa.

“Kenapa?! Katakan!!” langsung kupukul bayangan di cermin itu sampai berkeping, tawa itu hilang dan tanganku bedarah. Aku tak peduli dengan darah yang menetes. Masih tak setimpal dengan lukaku di hati.

Kuhempaskan dalam-dalam mukaku di bantal, sedalam hempasan asaku yang telah mencapai titik nadir. Persetan dengan darah yang berceceran dimana-mana. Kucoba menahan nafas, siapa tahu bisa mengurani beban hati, tapi ternyata tak membantu sama sekali. Paru-paru ini terasa penuh oleh sampah, sumpah serapah yang tak kutahu akan kualamatkan pada siapa. Tuhan? Aku tak terlampau berani melawannya. Nasib, aku merasa nasibku tak seburuk wanita lain yang rela dimadu. Si tua? Kukira ia hanya menelan mentah-mentah apa yang ia terima dari kitab-kitab. Lalu siapa?

Kubalikkan badan lagi, mencoba menarik nafas dalam-dalam, sedalam tarikan lubang hitam atas bintang-bintang angkasa di sekitarnya. Kuulangi berkali-kali, namun ternyata tak berpengaruh banyak. Aku benar-benar lepas kendali, aku ingin bebas. Aku ingin terbang tinggi. Si tua tak bisa mengurungku seperti ini! Kulepas satu persatu bajuku, jilbabku kulempar entah kemana, kutanggalkan satu-satu sampai akhirnya aku telanjang, tanpa sehelai kainpun menempel di tubuhku. Bersujud di kegelapan, sekali lagi aku meratap, dan ingatan-ngatan indah itu seakan menertawakanku. Aku malah teringat Rozaq, lelaki kampung sebelah yang menaruh hati padaku,

“Kamu menyukaiku?” kataku suatu ketika.

“….Ya,” ia malu-malu waktu itu,

“Tapi kamu tau, ‘kan? Aku akan menikah,” aku harus mengatakannya.

“Akan kutunggu jandamu….” Ia berkata pelan. senyumnya benar-benar menyamankanku.

“Oya? Yakin?!” aku mencoba memastikan.

Dan kamu tak menjawab. Aku tahu, itu hanya hiburan dari mulutmu yang mencoba menegarkan aku. Akupun tahu, kau tak benar-benar mau menunggu.

Saat aku masih bisa bebas berimajinasi dan melukis kanvas masa depanku, saat aku masih bisa berbicara tidak pada sesuatu yang tak aku sukai, saat daun-daun masih mengucapkan selamat pagi pada parasku. Aku telanjang! Aku telanjang seperti waktuku pertama kali menghirup udara bumi, dan bersujud pada-Nya seperti sujudku waktu masih hangat mendiami rahim ibuku.

Sumpah serapah hati atas nasibku tak tertahan lagi, kuingin tumpahkan semua. Kenapa aku yang harus jadi korban sebuah anggapan yang tak tentu benar. Kalau mereka mau melaksanakan sunnah, kenapa tak mengawini janda-janda tua saja yang tak punya perlindungan seperti yang dilakukan Muhammad?

Kalau benar mereka mau poligami, tidakkah mereka tahu bahwa istri Muhammad yang cantik hanyalah berupa Zainab dan Aisyah, sedangkan Si Tua ini memiliki empat istri yang selisih umurnya tak terpaut jauh dan semuanya menarik. Aku tahu yakin, laki-laki ini tak pernah sekalipun menyentuh pekerjaan dapur, sedangkan Muhammad terbukti seringkali memasak untuk keluarga di waktu luangnya.

Aku memukul-mukul lantai, dengan luka yang bertambah parah aku berharap mampu mengeraskan suaraku menembus langit tujuh, sehingga Muhammad bisa mendengarnya. Berharap kelembutan dan kejeniusannya menuntut manusia-manusia laknat yang mengaku mengikutinya tetapi sama sekali tak mengerti pesannya. Semakin sakit jari-jemariku menabrak lantai dingin, tapi kesesakan kalbuku tak juga berkurang.

Aku teringat dapur. Ya, ia ada di dapur. Aku harus mengambilnya. Tiba-tiba aku menjadi riang dan sedikit lega membayangkan benda itu. Kubuka pintu kamar, segera berlari ke dapur dengan telanjang, Aku sendiri di rumah ini karena si tua masih ada tamu di rumah bagian depan. Sejenak kupandangi benda itu, wajahku terpantul di penampangnya. Aku tersenyum, kubawa benda itu kembali ke kamar. Kukunci dari dalam.

Aku bersandar di dinding. Kugapai ujung tirai jendela, berharap bisa meringankan perasaan ini. Aku terpekur lama sekali, sesekali memandangi kilatan benda yang kupegang. Dingin, sedingin hatiku saat ini. Mendadak kilauannya menarikku untuk memeluknya. Mendekap manja dan menyatukannya dengan tubuhku seerat mungkin. Aku ingin membagi dukaku dengannya….

§§§

Aku tersenyum melihat tubuh itu meregang. Perlahan melorot lunglai bersandar dinding. Tangan kirinya memegang pisau yang penuh darah. Berlumuran. Menggenang disekitarnya. Kutatap matanya yang mulai padam. hanya kurasakan kehampaan, karena gelap menghilangkan warnanya. Telanjang, dengan seulas senyum yang misterius.[]

Jam 05.44 di Kudus, 10 Mei 2011

 
Leave a comment

Posted by on February 9, 2012 in Cerita Pendek

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: