RSS

KULIAH; SEBUAH CERPEN

09 Feb

 Oleh Ardyan Amroellah

Aku tak pernah membayangkan akan kuliah di universitas swasta atas keinginan sendiri. Entah kenapa, aku merasa tak sreg saja. Padahal dikotaku ada sebuah kampus lumayan tenar di daerah pantura timur. Ada juga kampus sekolah agama status negeri. Tak kurang, sekolah tinggi bidang kesehatan. Semua ada. Tapi itulah, aku sama sekali tak berminat kuliah di kotaku sendiri. Entah kenapa.

Aku bukan gadis pintar. Tapi tak bodoh-bodoh amat untuk menargetkan hati diterima di jurusan Hubungan Internasional UGM. Jika ditanya, kujawab penuh mantab. Tapi seiring berjalannya waktu selama kelas tiga, nyaliku menciut tiba-tiba. Terpaksa aku menyempitkan tujuan, namun tetap saja kuliah di kotaku sendiri tak masuk hitungan. Bukan sombong atau bagaimana, hatiku kurang puas jika tak merasakan manis getirnya hidup di kost. Maka Undip atau Unnes adalah alternatif terdekat.

Jalan itu mulai terang. Kemampuan bahasa inggris yang kumiliki tak buruk, setidaknya itu kata teman-teman di sekolah. Satu yang menurutku penting, aku orang yang menyukai tantangan. Maka ketika aku ditawari mewakili sekolah guna mengikuti berbagai english competition, aku ambil saja meski dalam hati sedikit minder dengan lawan-lawan yang kuhadapi. Siapa berani meragukan SMA 1 Kudus? Siapa yang tak ked­er melawan SMA 1 Pati? Semua aku ladeni dengan niat ingin menimba ilmu dari mereka yang dibilang terbaik. Toh jika kalah, aku tak beban. Niatku memang untuk selalu belajar lebih baik.

-♣♣♣-

Setelah ketar ketir dan khawatir. Setelah panas dingin menanti pengumuman. Setelah tes sana-sini tapi tak juga diterima. Roda nasibku perlahan gerak ke depan. Cita-citaku untuk hidup mandiri di kost di luar kota terkabul. Undip bersedia menerima salah satu bakat terhebat dari Kota Kretek. Aku sangat percaya diri, sebab hanya delapan orang yang diterima di jurusanku melalui jalur siswa berprestasi. Delapan orang. Bisa kamu bayangkan?

Mulailah aku menyusun bayangan-bayangan tentang Undip. Aih, aku senyum-senyum sendiri kala berdiri di cermin. Aku bakal menyandang status hebat. Tanya saja orang-orang di pelosok. Mereka sering tak kenal UI, Unpad, Universitas Brawijaya, bahkan STAN. Tapi mereka jelas tahu nama Undip, setidaknya Diponegoro. Kala SMA, aku dolan ke rumah teman di Purwodadi. aku dikira mahasiswa Undip oleh tetangganya karena posturku yang bongsor. Untung saja aku tak dikira tua.

 Segera pula aku googling Universitas Diponegoro. Kupelajari semua tentangnya. Sejarah, lingkungan sekitar, gaya hidup mahasiswa, dan fakultas tempat jurusanku berada. Ilmu Budaya. Ilmu yang seharusnya menjadi Kawah Candradimuka manusia-manusia untuk berbudaya luhur sesuai lingkungan dan norma yang berlaku. Pada awalnya aku tak mengerti, tapi aku yakin. ilmu ini akan menerangi masa depanku nanti.

Piye nduk, jadi bareng siapa berangkat ke Semarang?”

Kujawab sambil membaca novel. “Bareng Nia, Pak.”

Nginep dimana?”

“Di kos Mbak Putri. Dia masih di Semarang.”

“Berapa hari disana?”

“Cuma mengambil atribut dan lapor diri. Maksimal dua hari.”

Atiati yo.” Pesannya seraya menarik dompet. Uang saku untukku.

Inggih.”

Bagitulah ayahku. Sekilas terkesan tak peduli. Namun jika kamu ingin tahu, inilah ayah terbaik sedunia. Dia hanya mencoba melepaskanku untuk terbang dengan sayap sendiri. Karena memang sudah waktunya aku terbang menyongsong mimpi. Kalian tahu? Cita-cita minimalku adalah menjadi dosen.

Bayanganku selalu bagus jika berbicara tentang sebuah tempat baru. Sejak aku SD. Kubayangkan bentuk sekolah yang bagus. Begitu juga saat SMP lalu SMA. Meski lebih banyak kecewa yang kurasa. Ibu selalu mengajari agar aku berpikir positif perihal apa saja. Tak lupa juga agar tetap waspada.

Hari pertama kuliah datang. ini malam kedua aku harus terbiasa tak mendengar cerewetnya ibu dan gembar-gembor kakakku di kamar mandi. Maklum, cita-citanya adalah menggantikan Ariel di Peterpan. Kakak yang lucu (dalam tanda kutip). Tapi aku juga bangga, di rumah pasti sepi berkat ketiadaanku yang suka gaduh tak jelas dan ngiler ketika tidur. Aku berjuang, mereka mendoakan.

Mulailah petualanganku sebagai wakil komting di kelas. Jabatan itu kuharap mampu mendekatkan dengan dosen-dosen, secara tak langsung aku menunjukkan eksistensiku selain kegemilangan di bidang akademik yang kupunya. Aku ingat pesan kakak, dia menyuruhku mencari lembaga pers kampus dan ingin aku ikut kegiatan-kegiatannya. Katanya, LPM bisa membuatmu berpengalaman. Dan pengalaman itu lebih mahal daripada kepintaran. Percaya? Kakakku percaya.

“Lis, kujemput ya.” Itu telpon dari Mbak Nukhie. Kakak tingkatku yang populer di kampus. Tak tanggung-tanggung, dialah Mapras Undip. Semacam duta yang dikirim kampus untuk bertarung dengan wakil kampus lain dalam berbagai lomba sesuai bidangnya. Jangan harap dia menjemputku naik motor. Baginya, itu lebih sulit dibanding berdialog dengan Obama. Aku maklum, segala ada kurang lebihnya. Bukan berarti lebih enak naik motor, karena parkir yang baru setengah jadi justru menambah kesan tak rapi dan rawan membuat motor lecet. Tolonglah kawan-kawan, rapi dan teraturlah.

Kami berjalan kaki berdua ke kampus. Ajaib, ini kali pertama karena biasanya aku naik angkot. Ajaib kedua, angkot sedang mogok kerja karena masalah bensin bersubsidi. Aih, angkotku sayang, kakiku pasti bakal pegal jalan jauh. Kami melewati bunderan dan gedung kembar setengah jadi di Gerbatama –meminjam nama tempat di kampus UI yang artinya gerbang utama–  lalu membelok di jalan tikus yang angkot biasanya lewat, rusak parah kurasa. Kemudian turunan sebelah parkir fakultas teknik. Rimbun pepohonan menutupi sebuah bangunan warna krem. Itu FIB, yang pada kali pertama aku melihatnya, langsung turun semangat.

Kenapa turun? Begitulah. Aku bisa dibilang tertipu. Bagaimana tidak. Setelah aku menjelajah lebih dalam. Aku menemukan banyak compang camping disana sini. Ini kutemukan saat aku, Bada, Utari, Meutia, dan Mbak Nukhie hendak makan di kantin. Alamak, mahalnya minta ampun. Belum lagi jubelnya yang kelewat batas. Se-FIB, hanya ada dua kantin kecil. Mood-ku makan hilang tak bekas, tapi mau tak mau aku harus makan. Maag telah menghajarku sejak kemarin pagi. Penyakit itu adalah salah satu musuh utama anak kost. Aku harus berhati-hati.

“Lis, kamu ikut AIESEC ya.”

“Apa itu, Mbak?”

“Ikutan aja, nanti kamu juga tahu.”

“Insya Allah.” jawabku sebelum memasukkan nasi rames di mulutku.

Ah, baru beberapa minggu kuliah. Aku mengantongi dua organisasi yang akan kumasuki. LPM Hayam Wuruk dan AIESEC. Kata Mbak Nukhie, Ini organisasi internasional. Tujuannya adalah mengakomodasi kemampuan mahasiswa pecinta english. Aku tak peduli internasional atau tidak, aku akan ikut jika itu bermanfaat bagi softskill dan hardskill-ku.

Mendekati tengah semester. Kuliahku makin sibuk, tugas tambah banyak, dan deadline kian mepet. Sebal, gerakku terbatas tanpa motor. Gemas, buku di perpustakaan fakultas tak begitu lengkap. Pusing, saat tahu ada isu gedung kuliahku akan pindah ke Pleburan. Pindah kos otomatis masuk daftar rencana. Otomatis pula aku galau. Pleburan masuk kawasan kota, besar mungkinnya biaya hidup lebih mahal. Duh, aku jadi teringat ayah di rumah.

Sisi lain, aku mencoba obyektif menilai dan tak banyak mengeluh. Jika memang gedung di Tembalang perlu perbaikan dan penyempurnaan, haruslah segera mungkin dilakukan. Aku yakin para petinggi kampus masih memikirkan mahasiswa-mahasiswanya. Kita musti mengaca pada Universitas Indonesia yang digoyang isu kudeta rektor. Berawal dari sebuah “ketidaksalahan di waktu yang tak tepat” sehingga menjadi kesalahan, efeknya  justru merembet sampai transparansi keuangan universitas dan biaya kuliah yang tinggi. Begitulah, pendidikan memang tak murah, tapi jangan sampai diperjual belikan.

Minggu depan start UTS, aku tak ingin mengecewakan semua. Nilai maksimal, pengalaman bertambah. Kakakku selalu menekankan itu. Katanya, budaya adalah hal natural nomor tiga untuk mengatur tingkah laku manusia. Setelah agama dan orang tua. Kalian percaya? Aku percaya.

Hadiah untuk Yusrina Dinar Prihatika. Selamat menjadi mahasiwa, adikku.

 
Leave a comment

Posted by on February 9, 2012 in Cerita Pendek

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: