RSS

EMPAT DALAM SEKAT: KUMPULAN PUISI

09 Feb

Oleh Ardyan Amroellah


BERITAHU

Beri tahu aku kau merasa gigil

Sedang malam masih jauh dari lubuk

Beri tahu aku kau merasa ingin pulang

Saat pergi kita lupa pamit pada zaman


AKHIR BAIT INI I

Akhir bait ini mungkin hanya omong kosong,

Tak seperti rasa yang kutawarkan padamu

Malah seperti alasanku ketika melihatmu

Tak ada sebab dan tak ada akibat

 

 HUJAN

hujan ini tak bisa tunai tugasnya sementara Tuhan ramai dijual di selangkangan

baru ini kali angluh berkawan kesumat

Suatu subuh nanti kau saksikan dua kelopak matamu terletak di tangan!

Hujan tak menghapus dosa bukan?


BIRU

Kubuka buku yang kau namai birU dengan tinta yang juga kau namai baku

Haru…seperti kalam-kalam yang kau nujumkan pada bahuku

Sakit! Bangsa ini sakit sayang….

Gigil, biru, sekali lagi biru!


AKHIR BAIT INI II

Akhir bait ini mungkin hanya corat-coret tak berguna,

Tak seperti aku ketika memperjuangkan segalamu

Malah seperti kebodohanku saat berdarah untukmu

Tak ada untung dan tak ada rugi


PINJAMI I

Pinjami aku rumput yang hijau dan langit yang biru

Untuk kuberikan kepada kekasihku yang menunggu di rumah

Agar aku tak malu ketika dia bertanya

“Seperti inikah wajah negerimu sayang?”


 


 

AKHIR BAIT INI III

Akhir bait ini mungkin hanya bualan bagimu

Tak seperti harapan yang kutuang tentang kita

Malah seperti nyanyian sumbang kunyanyikan ketika hatimu sedih

Tak kurang dan tak lebih

 

 

 

MASA

Pernah kau pahat nafas disela-sela hujan yang tertata

Lalu siapa mengasah luka dalam remah cerita, campak mendung pada debur angin

Bukankah ini mataku?

Untuk kau minum berbagai kabar dari masa!


SAJAK KERETA I

Kereta itu telah pergi

Bangku biru itupun lama tak terduduki

Namun masih hangat, masih wangi

Dan ini tentang aku, engkau, dan kereta ke Jogjakarta

 

 

AKHIR BAIT INI IV

Akhir bait ini mungkin hanya tulisan tak bermakna

Tak seperti semua tentangmu terpahat di jiwa

Tak seperti aku….

Lelaki yang mencoba mensyukuri kecantikanmu

PINJAMI II

Lalu pinjami aku cerita manis perjuangan dan nasib yang baik

Untuk kutawarkan kepada kekasihku yang akan kunikahi

Agar ku merasa bangga bila dia berkata

“Ternyata negeri sangat sejahtera sayang…”

 

 MANUSIA

Kau mencium jejak

Kau pilin jadi segumpal nafsu, kau tiup pada siapa saja menyinggahi gubukmu

Agar semua tahu, mereka manusia

Tempat hina menjadi raja, sedang salah dan lupa menjadi hidangan utama


PINJAMI III

Dan pinjami aku juga iman kesederhanaan dan jujur yang besar

Untuk kusandingkan bersama kekasihku yang juga cantik

Agar ku merasa tak sungkan bila dia bercerita

“Tak salah aku memilihmu dari negeri ini sayang….”


ANGGUR RASA DARAH

Tanya saja malam, apa dia menyembunyikan tanggal

Lalu langgam ini bercerita apa?

Penguasa yang tak adil atau hanya stensil serupa wanita bugil?

Hujan belum terserak, kau masih memahat bercampur sedikit anggur rasa darah


SAJAK KERETA II

Banyak cerita berawal dari stasiun ini

Gerbong yang membawa sisa harapan yang tak terpenuhi

Namun masih biru, masih segar

Dan ini tentang cintaku, cintamu, dan kereta tujuan Jogja

SAJAK KERETA III

Lama aku termangu di peron,

Berharap melihat bayangmu yang lambai kerinduanku

Kuharap sama, kuharap nyata

Dan ini rinduku, resahku, dan kereta yang membawamu pergi

 NEGARA BUTA

Buang kepala ini di tempat sampah depan rumah

Kemarin, banyak kepala tumbang tak mampu tahan beban

Atau larutkan saja ke laut biar ikan ikut beraya kalahnya.

Dermaga terbakar, bandara terbelah dua, dan negara yang buta!

 

 SUMBU

Kita menjadi sumbu

Bom waktu bernama rindu

Yang terdiam jika ada pawang….

Yang meledak jika dia terkekang!


 TULANG PUTIH

Kuserut kening dengan beban

Hening! Bening!

Ada lukisan tulang putih, bertulis lafadz-lafadz rindu dendam

Pada akhir, pada mula yang tak pernah ada

 

 TIMBUL TENGGELAM

Setidaknya masih ada pintu yang membuka ketika aku pulang

Tak apa jika sumpah serapah, caci maki, atau malah ludah pekat pada tembokku mengendap

Ini tanahmu bukan?

Berisi pekuburan, nisan-nisan, sampai larik-larik imaji dan kau timbul tenggelam

TIK!

Tik! Hidup bukan sementara

Tik! Tik! Tuhan juga sekarang ada diselangkangan

Tik! Tik! Tik! Matahari menghitam

Tik! Tik! Tik! Tik! Empunya murka, semesta dibelah delapan!

(Bersambung)

 
Leave a comment

Posted by on February 9, 2012 in Puisi

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: