RSS

MIMPIMU APA; SEBUAH CERPEN

24 Jan

Oleh Ardyan Amroellah

Siapa berani meremehkan mimpi? Aku akan membela habis-habisan siapa saja yang mengatakan mimpi adalah bensin bagi harapan-harapan. Mimpi adalah pemantik semangat untuk terus melanjutkan hidup. Mimpi adalah pijatan lembut kala kaki-kaki telah melangkah pegal. Sayangnya mimpi pula yang kadang membakar telalu banyak nurani kita….

♣♣♣

Aku tak pernah tahu, barangkali juga tak akan pernah tahu.

Aku lahir dimana.

Aku lahir dari siapa.

Dan untuk apa aku dilahirkan?

Bahkan namaku, yang harusnya menjadi hak yang kudapatkan sejak lahir, pun tak aku tahu. Tapi aku tak peduli, tak akan pernah peduli mungkin. Selama aku punya mimpi, itu cukup. Sangat cukup. Dan mimpiku wajar, terlalu wajar untuk tubuh dan fisik yang seperti aku ini. Papa, sebatang kara, terlunta, lalu apa lagi? Oya, nestapa yang mendera-dera. Baru hari ini kusadar, nuraniku terkikis habis karenanya.

♣♣♣

Sebuah mobil sedan warna hijau metalik meluncur pelan ketika menepi, kemudian berhenti di depan sebuah salon kecantikan setelah sebelumnya memasukkan tubuhnya ke dertan parkir. Lama tak ada yang keluar dari dalam mobil, ganjil. Baru beberapa detik selanjutnya, keluarlah dari dalamnya seorang gadis muda. Cantik dan menggoda. Dua kakinya jenjang putih mulus tak sedikitpun bercela, hanya terlihat celana pendek ketat 20 cm di atas lutut sebagai pembungkus bawahnya. T-shirt tanpa lengan warna pink menjadi pelindungnya di dada. Dilirik saja sudah terlihat mahal, semahal harga tubuhnya jika kira-kira dijual pada lelaki hidung belang. Ketat bukan kepalang. Melumeri jakun tukang parkir yang kembali duduk memperhatikan.

“Tunggu bentar ya say….gue ngambil job dulu di Mami Dewi di dalem,” katanya sambil mencondongkan tubuhnya di pintu mobil, pada seseorang yang masih di dalam mobil.

“OK, gue tunggu.” jawaban singkat meluncur.

Sayup-sayup semua bisa kudengar dari sini. Ia tak tahu aku masih memperhatikannya sejak tadi. Berarti ada tiga orang yang sedang memperhatikan gadis itu saat ini. Lelaki yang ada di dalam mobil, aku yang ada disini, dan tukang parkir yang sedari tadi memperhatikan lekuk-lekuk raganya. Aku tahu gadis itu tahu, tapi seperti biasa, wanita memang suka diperhatikan.

Aku sudah mengetahui wajahnya sejak lama, sejak sekitar 1,5 tahun yang lalu. Hampir tiap seminggu sekali ia ke salon itu. Kadang aku tertawa ketika ingat pertama kali aku melihatnya. Lusuh, kusam, dekil, sama sekali tak berwarna. Tapi aku tahu, ia bak mutiara yang jatuh di dalam kotoran dan ketidak beruntungan. Tapi tetap mutiara ‘kan? Tinggal membersihkannya, maka jadilah ia mutiara moncer yang indah. Rupanya iapun tahu bagaimana cara merawat mutiara dalam dirinya. Terbukti, tak ada tanda-tanda kekusaman yang muncul pada mutiara itu. Aih, aku jadi iri.

Eh, gadis itu keluar lagi. kali ini sudah berdandan. Wajahnya yang sudah putih mendadak makin putih saja. Bedak apa yang ia pakai? Mungkinkah bedak buatan Cina yang banyak tersohor itu? Bibirnyapun tampak kelebihan beban polesan gincu. Biar aku tebak, gincu merah terang itu tak akan hilang walau ia sudah melumat bibir selusin pria sekalipun. Semua itu serasi dengan balutan dress ketat yang membalut kulitnya. Aku tahu, itu belahan rendah, namun cerdik ia tangkal dengan dalaman senada warna kulit. Ini contoh pertama, mimpi telah melukai keranuman alami tubuh gadis tanggung. Aku mendesah, betapa naif kita manusia.

Lamunanku buyar ketika mobil itu bergerak mundur dan lampu seinnya menyala. Sebagai penanda ia akan menuju jalan lagi. Tukang parkir terkesiap, lalu cepat-cepat mengkondisikan. Ia pantas sumringah, sebab mendapat dua durian runtuh hari ini. Pertama, kemolekan tubuh gadis itu seakan mengembalikan ia pada masa mudanya. Yang kedua, selembar uang biru lima puluh ribuan ia kantongi hanya untuk mengatur keluar mobilnya dari area parkirnya. Gadis itu benar-benar dermawan, batinnya. Lumayan di saat tahu betapa sulitnya mencari penghidupan. Sampai-sampai ada pepatah, ‘mencari yang haram saja sulit apalagi yang halal?!’. Aku selalu terpingkal jika ada manusia yang putus asa mengucap mantra itu. Berarti ia tak punya mimpi. Hah!

Aku alihkan pandangan ke langit, bersih. Pantas panasnya terasa sengat sekali. Aku tak begitu paham  awal mulanya, tiba-tiba ada sebuah mobil sedan terbuka merah terang kembali menepi, juga di salon itu. Kali ini ada lima orang, sesekali terkikik saat mulai menjejakkan kaki turun dari mobil. Sama seperti penghuni sedan hijau tadi, gadis-gadis ini juga luar biasa mantap. Tiga dari limanya memakai tanktop belahan rendah, menyembulkan surga yang diidamkan pejantan-pejantan lapar hanya berani mencuri pandang. Dua lainnya memakai kaos oblong biasa, yang dilipat bagian lengann agar bisa terlihat kulih putih dan lengan lurus miliknya dan tak kepanasan. Jika melihat ini, aku merasa berada di dalam hall konser besar. Dimana tubuh-tubuh itu layaknya gitar spanyol, pasti terlampau merdu jika dimainkan oleh para pemetik yang handal. Aku? Aku hanya bisa menikmati sambil sesekali menelan ludah. Jakunku tiba-tiba licin, sehingga menyebabkan naik-turun tak beraturan.

Mereka membuka pintu salon. Inilah hal yang membuatku penasaran. Apa yang mereka bicarakan di salon kecil itu? Orang yang disebut mami Dewi juga tak pernah aku lihat keluar. Dan bukankah ada salon yang lebih besar di di mall seberang jalan. Salon yang malah lebih terkenal sampai di neraka sekalipun. Reputasinya sebagai tempat pemuas nafsu para wanita yang gila dandan tak perlu dikhawatirkan lagi. Ah, kuputuskan untuk mereparasi kupingku agar bisa mendengar lebih banyak pembicaraan di dalam salon. Tapi bagaimana caranya?

♣♣♣

Udara tadi malam sangat dingin, makanya aku sangat-sangat pulas berada dalam mimpi. Paginya yang sudah muram ditambah gerimis, jadilah hari ini aku ingin bermalas. Aku ingin meringkuk lebih dalam, tak mau menyaksikan kenyataan hidup yang makin absurd.

Lho, apa ini? Secarik kertas terselip di bawah kakiku namun tak kusadari. Siapa yang menyelipkannya? Aku pasti terlalu lelap sampai tak tahu ada yang menaruh ini. Apa-apaan sih?! Memangnya aku kurir yang harus lintang pukang sebagai pengantar kertas? Sial, aku tak mau! Biarlah ia teronggok disana, tak kusentuh. Tak sudi. Kujatuhkan kertas itu.

Lebih baik aku cuci mata. Pakai apa? Gampang, di depanku akhir-akhir ini semakin banyak gadis datang ke salon itu. Nah, sekarang anggap saja gadis-gadis itu bagai sabun yang baik. Muda semua, seksi semua, dan putih semua. Pasti busanya melimpah. Aih, aku jadi ingin menjadi tukang parkir saja. Yang kerjanya terasa makin ringan bila berhadapan dengan bodi-bodi kencang seperti itu. Namun masalahnya cuma satu, bagaimana aku bisa menggantikan posisinya sebagai tukang parkir? Bisa-bisa ia malah membunuhku karena menggantikan kerja sekaligus kesenangannya. Atau kubunuh ia dulu sebelum ia membunuhku? Konyol kupikir, seburuk-buruknya aku, tak akan kulakukan perbuatan bodoh semacam itu. Ini adalah contoh mimpi yang slenco. Mimpi bisa sampai membunuh manusia lain. Kamu mau kubunuh untuk memenuhi mimpiku?

Akhirnya muncul lagi, kelima gadis itu keluar dari salon. Tapi pakaiannya tak berubah, masih sama seperti tadi ketika masuk. Salah seorang yang kuketahui bernama Erin berkata pada teman di sampingnya yang sedang memainkan handphone sambil berjalan ke arah mobil. Bisa dikatakan, Erin adalah gadis paling cantik diantara mereka. Tubuhnya memang kalah padat dengan Mona yang duduk di belakang kemudi. Namun justru ini kelebihan Erin di mataku. Ia sedap dipandang dari ujung kaki sampai keningnya. Proporsional, semampai. Atau kata orang Pantura bilang ‘pas cekelane’, pas pegangannya.

“Gila aja gitu, akhir-akhir ini gue banyak pesenan. Anjir tu si Bobby, koneksinya banyak banget!!” Erin menggerutu.

“Tapi seneng ‘kan??” kawan di sampingnya menukas. Setengah meledek/

Seneng sih seneng Put, tapi capek kali badan gue ini. Mana urusan laen jadi terbengkelai lagi, hah….” kata Erin lagi sambil membuka pintu bagian belakang mobil. Dari kata-kata itu, aku bisa menangkap bahwa gadis ini tak gampang untuk bersyukur. Banyak yang ingin menerima pesanan, tapi ia yang banyak pesanan malah mengeluh. Pesanan apa itu? Entah, yang pasti semacam suatu hal yang diinginkan gadis-gadis  di depanku.

Yaaaahhh…disukurin ajalah, Rin. ‘Kan jarang-jarang kita semua dapat job serame kayak elu,” mata temannya masih belum lepas dari layar handphone. Tiba-tiba ia memekik pelan karena kaget. Handphone di tangan berdering, terpampang dalam layar ada nama yang sangat familiar baginya.

“Halo? Iya…” ucapan standar salam pembuka.

“Eeeh… Om Danu, lama nggak sua, Om! Gimana punya kabar nih?” teman Erin terlihat sudah akrab dengan penelpon itu. Suaranya renyah menyapa suara lain di ujung sana.

“Apa? Nanti malem harus siap? Eemmm…dieksekusi deh. Eh, jam kayak biasanya? Putri siap aja, gimana yang laen? katanya party ‘kan?. Bye Om Danu….” obrolan itu berakhir. Erin memandang wajah Putri, putrid hanya mengangkat alis dan bahu bersamaan sambil berkomentar, “Kayak elu, gue juga sedang larissss!!” lalu mereka tertawa riang.

Dan sialnya, aku makin iri dengan si tukang parkir. Ia ikut tersenyum saat melihat perempuan-perempuan itu tertawa. Iri yang berubah lindap menjadi segumpal kecewa di dada. Aku mendesah pelan. aku sangat tahu arah pembicaraan mereka. Malas juga jika seperti ini, Tuhan memberiku kecerdasan yang berlimpah untuk bisa menerka potongan-potongan cerita tanpa menunggu potongan-potongan itu bersatu utuh. Tuhan semacam membuatku menjadi saksi.

Aku tahu benar siapa Erin itu, rumahnya tak jauh dari sini. Berjalan saja ke arah timur barang 700 meter, akan terjumpai sebuah rumah tua tak terurus yang berada tepat di tikungan sebelah kanan. Itulah rumahnya, dulu. Sekarang ia sudah pindah ke sebuah apartemen mewah di selatan jalan tol lintas kota. Sesuai iklan promosinya yang mengatakan bahwa akses dari dan ke jalan tol sangat mudah. Seperti itulah apartemennya. Semua keluarganya meninggal 3 tahun lalu karena kecelakaan. Rumah tua itulah warisan satu-satunya. Dan kini warisan itu merana termakan pahitnya keturunan.

♣♣♣

Aku tak bisa tidur malam ini, pikiranku lari-lari entah kemana. Aku tak juga menemukannya. Akibatnya, ketika matahari sibuk lagi dengan pekerjaannya aku malah mengantuk berat. Sialan! Ini hari Minggu, aku ingin dan harus terjaga. Siapa tahu ada gadis-gadis yang datang lagi ke salon itu. Sedkit bisa mengusir sepiku

Satu jam….

Dua jam….

Tiga jam….

 Sepi. Jalan itu tiba-tiba terasa lengang bagiku. Para gadis belum muncul juga. Aku edarkan pandangan ke segala penjuru. Kota ini makin mempercantik diri. Tak seperti saat pertama aku lahir. Zaman sudah berganti kulit. Sampai mataku tertumbuk ada sebuah kertas lusuh. Bukankah ini kertas tempo hari yang dititipkan entah siapa kepadaku. Apa isinya ya? Timbul isengku untuk membaca.

Aku sering dikata-katai teman-temanku sebagai yang gampang penasaran. Maklum, rasa ingin tahuku memang selalu tinggi. Aku belum puas jika belum tahu tentang sesuatu di luar sana. Jika itu terjadi, kupastikan aku akan segara mencari tahu sampai aku lebih tahu dari yang lain. Kuakui, dalam hal ini aku ambisius. Namun aku punya argumen mengapa aku bersikap demikian. Seringkali kita berpikir ambisi adalah buruk, menurutku tidak. Ambisi kuanalogikan sebagai kata lain dari mimpi. Kalau mimpi yang kelewat batas, mungkin iya. Tapi itu ‘kan tidak sesuatu yang buruk. Sebagai contoh, aku berambisi menggantikan tukang parkir itu, maka mimpiku adalah menjadi seorang tukang parkir. Sederhana kan?

Ahad, jam 11 siang. Tepat di depan Salon Mananta

Semoga di ridhoi-Nya anakku!

Hah, apa ini? Seperti sebuah memo saja, sangat singkat. Kenapa disitu tertulis anakku? Berarti ini surat dari seorang bapak untuk anaknya? Apakah surat ini sudah dibaca sang anak? Atau belum? Terlalu banyak pertanyaan di kepalaku. Tunggu! Disitu tertulis jam 11. Berarti 6 menit lagi? Apakah mereka akan bertemu disini 6 menit lagi? lalu, Ahadnya adalah hari ini? Entahlah, semoga saja. Ah iya, disitu juga tertulis nama Salon Mananta, salon tempat para gadis itu sering datang dan pergi. Disana. Aku jadi tak sabar menantikan apa yang akan terjadi. Pasti luar biasa pertemuan antara anak dan bapak. Menegangkan dan mengharukan! Seperti demam telenovela yang menguras waktu dan airmata.

Kurang empat menit dari jam 11. Aku melihat gadis-gadis itu keluar dari salon. Kali ini banyak sekali, seimbang dengan jumlah mobil yang banyak juga di depannya. Dari utara aku melihat seorang lelaki muda berjaket tebal, agak aneh di cuaca yang sepanas ini. Ia berjalan santai tenang, seolah tak terbebani dengan tas berat yang yang dipanggulnya. Wajahnya putih bersih, sesekali menyunggingkan senyum pada semua orang yang melihat kepadanya.

Mungkinkah ia? Aku hanya berani membatin.

Kurang satu menit. Para gadis itu masih berkerumun di pinggir jalan, bersiap untuk masuk ke mobil masing-masing. Elok nian pemandangan di depanku ini. Tanktop berwarna-warni, baju transparan gantung, celana pendek hipster. Potongan surga ternyata jatuh di depan salon Mananta.

Jam 11 tepat. Pemuda itu berhenti, di depan bangunan salon persis, berada di antara gadis-gadis dan mobil-mobil yang akan keluar serta jalan yang kebetulan selalu padat setiap hari minggu. Ia memandangku! Mungkinkah aku ketahuan jika aku selalu melihatnya sejak ia berjalan dari utara tadi? Semoga tidak. Aku tak punya alasan logis jika sampai ia menanyaiku. Jangan. Ia cukup lama memandangku sebelum akhirnya menelangkupkan tangan keatas, aku tahu betul ritual itu. Ritual mayoritas penduduk sini. Ia berdoa.

Lalu terjadilah. Tepat jam sebelas, dengan jarum detik juga diangka 12.

Sebuah ledakan, dentuman yang sangat keras di tepi jalan. Menerbangkan tubuh-tubuh yang berdiri di sekitarnya. Diterbangkan, bukan terbang. Terkoyak-koyak disana-sini, merah menyala. Seperti balon berisi air yang diletuskan. Begitulah pola darah-darah yang tercecer. Asap hitam membumbung tinggi, hasil dari ledakan inti dan tambahan 2 mobil terdekat yang ikut meletus meloncat-loncat. Untung mataku tak terluka, sehingga bisa melihat Salon Mananta tak lagi indah berkaca. Porak poranda dengan ornamen tubuh yang bergelimpangan. Gadis-gadis tadi, orang-orang, dua anjing, dan 1 pohon masih ada namun tak lagi bernyawa. Lalu aku pingsan.

♣♣♣

Satu minggu kemudian.

Aku telah kembali. Keadaanku jadi makin baik dengan hiasan-hiasan yang makin meriah. Tubuhku kembali sehat. Tapi mulai sekarang aku harus kecewa, Salon Mananta di beri garis polisi. Jika sudah begini, bakal tak ada lagi bodi-bodi canggih dan sintal khas gadis usia muda yang gemar dandan.

Koran-koran tak perlu memberitahuku, bahwa Salon Mananta merupakan kamuflase remang-remang high class di kota ini. Aku sudah mengetahuinya dari dulu, sejak Erin menangis  di kursiku dan katanya terpaksa melakukan pekerjaan ini. Aku hanya menelan ludah ketika mendengarkannya. Terpekur, aku tak bisa memberi saran padanya. Pekerjaan yang sulit, modal yang sedikit, pemerintah yang sibuk memainkan citra. Bukankah itu semua bukan urusanku?

Aku hanya berbentuk tugu jam bundar di tengah kota yang hanya bisa melihat dan mendengar manusia-manusia berusaha mengejar mimpi ambisinya. Ada mimpi yang sebagian orang menganggapnya salah, namun dibenar-benarkan oleh sebagian yang lain. aku tak pernah tahu persis. Aku suka melihat manusia lelah duduk di kursiku setelah ia berkerja, ak juga suka melihat manusia malas yang seharian melamun di kursiku yang lain. Aku hanya mencoba menjadi penengah. Waktu adalah raja, dan menurutku, raja harus adil terhadap rakyatnya. Jadi aku ingin bertanya, apa mimpimu? Aku mungkin bisa membantu.[]

Jam 19.15 di Kudus, 22 Mei 2011

Bermimpilah, dan bersemangatlah!!

 
1 Comment

Posted by on January 24, 2012 in Cerita Pendek

 

Tags: , ,

One response to “MIMPIMU APA; SEBUAH CERPEN

  1. hamimatul ubudyah

    May 21, 2012 at 7:19 pm

    cerpen yang sangat baguss bisa dishare kiat2 menulis yang bagus seperti apa

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: