RSS

HAFALAN SURAT HANIFA; SEBUAH CERPEN

31 Dec

Oleh : Rosalina Susanti

Hanifa tampak termenung di depan jendela rumah kecilnya sembari mendekap erat boneka panda yang tampak kian lusuh karna itulah satu – satunya boneka yang ia miliki sejak lahir. Pikirannya meloncat – loncat lincah, jauh lebih lincah dari tubuh ringkihnya. Bahkan saking lincahnya, Ia sering memikirkan hal – hal yang kadang tak tersentuh oleh pikiran – pikiran orang dewasa. Orang dewasa yang terlalu mencintai dunia terutama.

Gadis kecil itu memang tak pernah mendapat kesempatan seperti teman – teman sebayanya. Bermain petak umpet di siang bolong sambil diteriaki Ibunya karna saking asyiknya bermain sampai lupa makan, atau bermain bola kasti hingga petang menjelang tak peduli badan sakit terkena timpukan dari pihak lawan. Tidak, Ia sama sekali tidak pernah merasakan hal itu. Ia punya dunia sendiri yang Ia jalani sama sekali tanpa rasa keterpaksaan. Sangat berbanding terbalik dengan orang – orang terdekatnya yang sering merasa sesak melihat peri kecil mereka tak punya banyak pilihan untuk menikmati masa kecilnya.

Hari ini Hanifa tidak berangkat ke sekolah karena 2 hari lalu jantungnya kembali “protes keras” setelah sebelumnya Ia memaksa ikut Kakak perempuannya berkeliling kampung berjualan gorengan seperti biasanya. Hanifa tetaplah anak kecil yang sering merasa bosan jika harus selalu duduk manis dirumah, Hanifa tetaplah anak kecil yang kadang keras  kepala tanpa mau tahu bahwa Kakak dan Ibunya melarang karena tidak ingin melihatnya kembali tergolek lemah tak berdaya.

Dan siang itu pikiran Hanifa terus terpaku pada kilasan peristiwa di Rumah sakit 2 hari lalu. Ketika ia melihat seorang anak laki – laki di ranjang sebelahnya, yang umurnya tak jauh beda darinya tiba – tiba sulit bernafas. Disusul dengan teriakan panik sang Ibu meminta pertolongan, lalu para perawat yang berlarian tak kalah panik memberi pertolongan, kemudian sang dokter yang berusaha tak terpengaruh kepanikan sekitar. Dan sesaat kemudian wajah – wajah panik itu berubah dengan wajah – wajah pias dan sendu, disusul dengan teriakan pilu sang Ibu anak itu.

Hanifa menyaksikan semua rangkaian kejadian itu dari pembaringannya dengan ditemani Ibunya yang justru sudah sejak tadi menangis tersedu sembari mengelus kepalanya. Hanifa tidak benar – benar paham tentang semua makna kejadian itu. Yang Ia tahu, hatinya jerih melihat wajah anak kecil yang terlihat membiru itu. Ia juga jerih mendengar isakan pilu Ibu anak itu, apalagi melihat Ibunya yang juga seperti merasakan kesedihan serupa dengan yang dirasakan Ibu anak itu.

Siang itu kejadian – kejadian itu kembali memenuhi lamunan Hanifa. Dan kejadian itu seperti memberikan pemahaman tentang banyak hal yang masih sulit dipahami anak berumur 6 tahun seperti Hanifa. Hanifa mulai tahu mengapa Ia sering mendapati Ibunya menangis tersedu sambil menciuminya saat Ia hendak tidur, Ia mulai tahu mengapa Kak Dilla sering sekali memaksanya minum berbagai macam obat yang tak pernah ia tahu apa fungsinya. Ia juga mulai tahu tentang dirinya yang sangat lemah, yang sering sekali dibawa ke Rumah Sakit karena sakit luar biasa di dadanya, dan yang utama, Ia kini mulai mengerti tentang kalimat yang sering diucapkan Dokter pada Ibunya.

“Obat ini hanya  meringankan rasa sakit dan membantu Hanifa bertahan Bu, karena kebocoran jantung yang di alami Hanifa tidak bisa sembuh hanya dengan mengkonsumsi obat”

******

Hingga malam menjelang, pikiran Hanifa masih sangat sibuk meloncat kesana – kemari mencari pemahaman atas berbagai hal yang entah mengapa tak pernah kuasa ia tanyakan pada Kakaknya maupun pada Ibunya.

Petang ini, bersama Ibunya yang sibuk menyulam dan Kakaknya yang sibuk menggumam sembari sekali dua kali melihat Al – Qur’an di tangannya, lamunan Hanifa dipenuhi dengan kenangan hampir setahun lalu.

Ketika rumahnya dipenuhi dengan para tetangga yang sibuk membaca surat Yaasin disekeliling ranjang yang disitu Ayahnya tergolek lemah menghadapi sakaratul mautnya. Hanifa baru berumur 5 tahun saat itu. Dia belum mengerti tantang banyak hal. Ia ikut menangis hanya karna ia melihat Ibu dan Kakaknya juga menangis tersedu sejak tadi, sembari menggumamkan kalimat – kalimat Thayyibah ditelinga kanan dan kiri Ayahnya.

Namun memori Hanifa mencatat dengan sangat baik moment penting itu. Ketika sejenak kemudian Ayahnya meminta Dilla dan Hanifa mendekat padanya, lalu membisikkan pesan terakhir yang  melekat kuat di benak 2 anak itu.

“Ayah ingin kalian menjadi penghafal Al – Qur’an Nak….”, lalu sejurus kemudian nafasnya tersengal bertepatan dengan dekapan Izrail yang telah purna menunaikan mandat Tuhannya.

“Nifa, kok nggak ngulang hafalannya Nak? Kata Ustadzah Nana besok Nifa harus setor surah An – Naba’ ya? Wah berarti Nifa sudah hafal 1 juz dong, hebat anak Ibu”, tutur Ibunya membuyarkan semua lamunan Nifa.

“Yuk sekarang Nifa ulang hafalan An – Naba’, biar Kakak yang simak”, sambung Dilla kemudian.

“Bismillahirrahman nirrahim…’amma yatasaa alunaa ‘aninnaba’il ‘adzimi hum fiihi muhtalifuun. Kalla saya’lamuuna tsumma kalla saya’lamuun… ”

Tiba – tiba Nifa berhenti. Matanya berkaca – kaca, lalu menangis tersedu layaknya anak seumurannya yang kehilangan mainan kesayangan. Ibu dan Kakaknya bingung, sama sekali tak mengerti dengan apa yang terjadi. Dengan lembut membujuk Hanifa untuk berhenti menangis sekaligus bertanya ada apa, panik dan cemas mengira jantung  Hanifa kembali “protes”.

Dengan sisa tangisnya, akhirnya Nifa bicara dengan terbata.

“Nifa sedih bu, kok Nifa baru mau hafal 1 juz ya… Kak Dilla aja udah hafal 17 juz, Ustadzah Nana malah udah hafal 30 juz. Kan Bapak pengen Nifa hafal Al – Qur’an 30 juz”, ungakapnya sembari mengusap matanya yang masih berair.

Ibu dan Kakaknya saling berpandangan dan mengulum senyum.

“Nifa sayang, asal Nifa rajin menghafal pasti nanti Nifa bisa hafal 30 juz seperti Ustadzah Nana. Kan Nifa baru mulai menghafal 6 bulan, sedangkan Kak Dilla udah bertahun – tahun, Ustadzah Nana juga. Iya kan??”, ucap Kak Dilla lembut sembari mengusap sayang kepala adiknya.

“Tapi Nifa punya waktu nggak ya sampai bisa hafal 30 juz?”, pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir mungil Hanifa. Dan pertanyaan itu menyusupkan rasa nyeri ke dada Ibu dan kakaknya, rasa nyeri yang membuat mereka tak lagi mampu menahan air mata mereka.

“Nak, meskipun Nifa belum hafal 30 juz, Bapak pasti sudah sangat bahagia. Karna Bapak tahu Nifa sudah berusaha dengan sungguh – sungguh”, ucap Ibunya seraya menarik Nifa kecil ke pelukannya.

Malam itu, langit seolah ikut hikmat mendengarkan percakapan itu. Bintang, bulan dan angin pun bertasbih memuji kebesaran Rabb – Nya, serta memuliakan Hanifa beserta keluarganya.

*****

Pagi itu langit tampak begitu cerah. Seperti biasa, Hanifa bersama Ibu dan Kakaknya sudah memulai aktivitas sebelum fajar tiba. Ibu dan Kakaknya sedang sibuk membuat berbagai macam gorengan. Alhamdulillah kemarin Ibu RW memesan gorengan dalam jumlah lumayan banyak untuk acara pertemuan rutinan RW.

Sedangkan Nifa tampak ceria mempersiapkan  diri untuk setor hafalan ke Ustadzah Nana hari ini. Ustadzah Nana adalah seorang Hafidzoh sekaligus tetangga mereka yang sangat baik hati. Ia dengan sukarela bersedia menjadi pembimbing Hanifa dalam menghafalkan Al – Qur’an. Ustadzah Nana berjanji akan datang ba’da dhuhur hari ini.

Hari ini Nifa akan menyetorkan hafalan surah An Naba’ – surah terakhir dalam rangkaian juz amma. Itu berarti, Hanifa sudah hafal 1 juz tepat setengah tahun ia mulai tekun menghafal Al – Qur’an.

Namun Hanifa merasa ada yang ganjil dengan tubuhnya sejak bangun tidur dini hari tadi. Dadanya terasa berat sekali untuk bernafas. Tubuhnya  juga agak lemas. Ibunya sempat melihat keganjilan itu melalui raut muka Hanifa yang tampak pucat pasi. Tapi Hanifa bersi keras bahwa Ia tidak apa – apa. Hanifa ngotot bilang bahwa dirinya sehat dan tidak menceritakan kesakitannya karna Ia tahu jika Ia mengatakan itu, Ibunya akan langsung mengajaknya ke rumah sakit.

Hanifa ingin sehat hari ini, karna Ia sudah sangat ingin menunjukkan hafalannva pada Ustadzah Nana. Ia ingin sekali mendengar Ustadzah Nana berkata, “Subhanallah, Hanifa sudah hafal 1 juz. Barakallah sayang…”, seperti yang Ia dengar selama ini setiap Nifa berhasil menghafalkan sebuah surat.

Hanifa benar – benar tidak ingin hari ini rusak dengan menghabiskan waktunya di rumah sakit. Ia bahkan tidak peduli saat sesak di dadanya terasa semakin menghimpit. Sementara Ibu dan kakaknya tetap sibuk berkutat dengan pesanan gorengan mereka.

Ah, Hanifa memang belum benar – benar mengerti tentang betapa bahaya keputusannya. Tentang betapa kesedihan yang akan timbul sungguh tak terkira karnanya, bahkan tentang waktunya yang justru akan terampas oleh keputusan tersebut. Hanifa memang belum mengerti.

Tepat jam 1 siang Ustadzah Nana datang, saat matahari sangat terik memberikan sinarnya. Hanifa terlihat duduk takdzim di teras sambil terus mengulang hafalannya.

Dan ribuan malaikat pun turun dengan sayap – sayap indahnya, tepat ketika Hanifa tiba – tiba terduduk kembali saat hendak menyalami ustadzahnya. Tubuhnya lunglai.

Dan Ustadzah Nana seperti sudah mafhum dengan semua pertanda itu. Semuanya seperti tampak sangat jelas di matanya, hingga air matanya pun seketika membanjir menganak sungai.

Dengan tergopoh Ia menggendong Hanifa, sembari tak henti melafalkan ayat – ayat Al – Qur’an ditelinga gadis kecil itu. Menidurkannya di sofa usang ruang tamu, berteriak memanggil Ibu dan Dilla, lalu memanggil – manggil Hanifa dengan nyali yang sudah semakin menciut. Ibu dan Dilla pun datang dan seketika mengerti apa yang terjadi. Sungguh, sayap – sayap sang malaikat seperti semakin hangat mendekap.

“Ustadzah, dengarkan hafalan Nifa ya…”, bibir mungil yang semakin membiru itu bersuara pelan, dan terdengar bagai sembilu yang menyayat hati bagi tiga orang yang amat mencintainya.

Tidak ada larangan yang keluar, mereka memilih mendengarkan ayat demi ayat dari mulut Hanifa dengan suara yang hampir tak lagi terdengar.

“….Innaa andarnaakum ‘adzaabanqoribaa, yauma yanndurul mar’u maa qotdamat yadaahu wayaquulul kaafiru yaalaitanii kuntu turoobaa. Sodakallahul ‘adzim…”

Ustadzah Nana memuji dengan hati perih, Ibunya hanya mendekap erat tubuh kecil Hanifa dengan tangis tak henti, sementara Dilla hanya tersungkur menciumi tangan Adik tersayangnya pun dengan hati luka.

Hanifa tersenyum lemah, entah karna hatinya terlonjak bahagia demi hafalannya yang sudah 1 juz, atau karna malaikat sudah mengulurkan tangan padanya. Sesaat kemudian, mata Hanifa terpejam. Dan penduduk langit semakin riuh menyambut ruh suci gadis kecil yang kemuliaannya bahkan mampu membuat bidadari cemburu padanya.

******

 

 
Leave a comment

Posted by on December 31, 2011 in Cerita Pendek

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: