RSS

KADO UNTUK IBU; SEBUAH RENUNGAN

31 Dec

Oleh: Yusuf Ardyan Amroellah

Akhirnya kunyalakan lagi komputer ini. Seletah mata terasa sudah lelah membaca. Sekian jam menghambakan diri pada buku yang jarang kubaca ketika siang hari. Karena bagiku, siang adalah waktu untuk berbuat dan berpijar, walau kadang hanya sebatas bercengkrama dan ngopi bareng teman di kampus atau sekedar mengelilingi kota Kudus yang kurasa semakin sempit dengan harapan bertemu dengan beberapa kenalan, bertukar masalah yang sedang booming yang tak bisa aku temukan di kampus atau di rumah petak yang kutempati.

Tapi kenyataan yang kurasakan kepuasan yang tak dapat digantikan dengan apapun. Ada beberapa kejadian sederhana namun mencengangkan yang sering aku lewati ketika aku sedang berada di atas kendaraan. Seperti dalam film Before The Sunrise dan After The Sunset sekaligus. Banyak adegan yang tiap detiknya pasti beda peran, aktor, lokasi dan narasi. Adakah yang bisa menukar kepuasan dengan bentuk yang materil?

Alterbridge, John Meyer, Goo Goo Dolls, Within Temptation dan blink 182 yang aku pilih untuk menemani. Entah mengapa, padahal aku sama sekali tak mahir dalam berbahasa inggris. Bahkan tak satu lagu pun yang aku hapal teksnya secara tuntas. Paling hanya reffrain yang sering kunyanyikan. Persetan dengan itu, aku hanya mencoba membuat pas suasana yang sedang kualami. Sekali-kali campur mellow kurasa tak ada salahnya. Hanya saja, aku selalu punya pikiran, jika terus menerus dijejali dengan segala hal yang berbau mellow, rasanya aku akan menjadi lemah dan susah untuk bangkit.

Hari ini tak sengaja aku baca judul koran yang entah sudah berapa lama tergeletak diatas CPU komputer dalam kamar. Artikel tentang hari ibu. Tapi aku tidak akan membahas banyak tentang hari itu sekarang ini. Aku hanya sedang rindu ibu saja. Entah ibuku di rumah sadar atau tidak bahwa ada satu hari khusus sebagai hari-nya. Setahuku ibu tak pernah mempermasalahkan dan menganggap meski ada sehari dalam setahun khusus untuk memperingati eksistensinya. Dan bagiku juga, tiap hari dalam tiap tahun adalah hari keeksistensian ibu untukku. Tiap hari aku selalu memperingati hari ibu

Meski memang sebetulnya –sumpah demi segala rahim-, aku sama sekali tak pernah mau jika ibu tahu keadaanku yang sekarang. Serumit apa anaknya yang didambakan menjalani hidup. Semembingungkan apa si Ucup melanglang. Pasti dia bakal merasa anaknya sudah jauh dari patron-patron yang dia harapkan. Dari kacamata shaleh yang dia anggapkan. Hampir bisa dipastikan penilaiannya berupa kebingungan mengucapkan astaghfirullah atau subhanallah atau alhamdulillah (tapi untuk sampai innalillahi, sebisa mungkin aku tak akan pernah membuat itu terjadi). Itupun kalau memang ibu tahu sepak terjangku menghalau kesialan hidup yang menghadang.

Tiap sadar akan berharganya hidup, maka sebisa mungkin aku mengejawantahkan apa yang sering dikatakan oleh ibu. Ibuku tak pernah menuntut aku untuk jadi bintang kelas dengan IPK yang aduhai. Apalagi menjadi orang mapan dengan segala cukup dari kacamata materi. Pesan ibu dari dulu hanya satu; sebisa mungkin JANGAN BIKIN MALU DIRI SENDIRI. Itu saja.

Dengan tidak buat malu diri sendiri tidak malu pula keluarga dan segala embel-embel latar belakangnya, juga pendidikan yang kumiliki. Meski sekali lagi aku bilang bahwa aku belum bisa 100% mengabulkan apa yang diharapkannya. Dari pola hidup yang kalo menurut ibu sudah menyimpang dari apa yang dia yakini, sampai kuliah yang belum selesai. Dan aku tak akan pernah berani memperdebatkan hal itu.

Tapi minimalnya –sangat minim-, di mata masyarakat dan teman, sejauh ini aku bisa dibilang belum menyimpang. Belum. Bukan tidak. Karena mau tak mau, disadari atau tak sadar, diakui atau tidak, anakmu ini suatu saat bakal bertemu dengan kesalahan yang tak bisa diterima oleh sebagian orang meski aku sangat merasa benar 100% dengan apa yang kulakukan. Hanya sebagian orang. Dan itu wajar. Proses untuk menunjukkan siapa anakmu ini memang tak akan lepas dari peristiwa semacam itu. Proses eksternalisasi diri. Karena sebaik apapun niat, penerimaan dan penolakan pasti menanti. Justru tanpa hal itu, anakmu ini tak akan pernah tahu cara belajar dan bersyukur.

Aku selalu ingat ibu lewat segala perbuatan baik -pasti relatif- yang sebisa mungkin aku lakukan. Karena ibu yang pertama kali mendidik dan mengajarkan apa itu hidup dan bagaimana menghadapinya. Aku tahu (dan kalian juga sama), bahwa tiap ibu pasti mempunyai segudang ilmu dahsyat tentang kehidupan yang bakal diajarkannya. Terlepas dia “berpendidikan” atau “tak berpendidikan.”

Aku tak suka pertengkaran –pernah suatu waktu aku dipalak oleh preman di sebuah terminal di Jawa Timur. Aku sama sekali tidak melawan dan memberikan sedikit uang yang dia pinta. Aku sedih dan marah. Bukan karena sakit hati gara-gara dipalak. Tapi karena aku berpikir ada orang yang hanya demi seperser uang rela mengorbankan segalanya; harga diri, keselamatan, masa depan. Bagaimana kalau aku (orang lain yang bernasib sama) berteriak ketika dipalak? Sudah pasti preman itu dihakimi massa. Digebuki hanya karena uang receh. Sepele. Aku juga membayangkan bahwa tak akan mungkin jika kelakuannya itu adalah pelajaran yang dia dapatkan dari orang tuanya. Orang tua manapun, separah apapun, tak akan pernah ada yang mengajarkan hal seperti itu. Aku nanar karena tak tahu harus menyalahkan siapa.

Aku juga tak pernah bermain wanita, tak suka mabuk apalagi judi. Meminimalisir sifat dan sikap hedon, masih menjunjung tinggi silaturahim dan akhlak terpuji, juga masih percaya dengan adanya Tuhan. Bukan karena ingin dianggap wajar oleh masyarakat dan teman. Tapi lebih karena aku selalu ingat ibu; pesan ibu.

Maka dari itu. Biarkanlah aku berkelana sejauh yang aku bisa. Mengarungi hidup yang sudah terlanjur sial dengan sistem yang ada (bagaimana tak merasa sial jika bayi yang baru lahir saja sudah menanggung beban hutang jutaan rupiah, jika banyak anak sekolah dipaksa menyanyi nenek moyangnya seorang pelaut, padahal lautnya banyak dirampas). Mencoba untuk sekedar menorehkan apa yang aku dapat selama ini. Mencari eksistensi dan esensi diri.

Doakan aku supaya kuat dari segala hinaan dan cemoohan. Menghadapi segala misteri kehidupan yang rindu-dendam aku jalani. Yang selama ini tak lebih hanya untuk kepuasan pribadi semata dengan kedok demi masa depan dan umat. Terlalu mengawang, memang. Seperti impian dalam mimpi.

Tapi satu yang tetap kuminta dan kunanti; jangan pernah persempit ruang pelukanmu untukku. Karena bagaimana pun aku sadar, jika segala teori dan belagu (kesombongan) intelektualitasku tak bisa menjadi jawaban, aku pasti selalu kembali padamu. Mengadu. Bahkan tak malu untuk menangis.

Demi segala rahim yang Tuhan titipkan, utamaku untuk ibu.

Salam hangat,

Putra yang mencoba menyayangimu dengan cara yang berbeda

 
Leave a comment

Posted by on December 31, 2011 in Catatan Harian

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: