RSS

STENSILAN DI KAMPUS; SEBUAH CATATAN HARIAN

Oleh Ardyan Amroellah

Di kantin kampus UGM sekitar empat bulan lalu, saya berjumpa dengan teman lama. Kami berdua berdiskusi panjang lebar. Kesibukannya sebagai aktor teater kelas wahid disana membuat saya ingin belajar membikin cerita porno darinya. Siapa tahu dia bisa.

Anda tak salah baca, memang saya menulis: cerita porno. Saya curhat kepadanya, saya sudah berusaha menulis cerita yang sering disebut stensilan. Kata ini memang kadarnya merendahkan, menganggap bahwa cerita yang demikian bukanlah karya sastra, bukan suatu tulisan yang layak dibaca, yang layak untuk dipelajari, apalagi untuk diproduksi.

“Saya belum mampu hingga sekarang,” kata saya

Dia tertawa, “Mengapa kepingin? Belum puas belajar sastra yang lain?”

Penjelasan saya singkat saja. Membuat bagaimana orang mengkhayal, berimajinasi kemana-mana dan lantas terangsang secara pikiran dan biologis. Betapa beratnya. Bagi saya itu merupakan komponen utama dari cerita porno yang paling sulit, paling bandel untuk ditaklukkan.

Bacaan-bacaan buku keilmuan umumnya lebih bersifat kognitif, memenuhi hasrat rasional. Satu sisi, dia memang menyehatkan jiwa dan secara tak langsung juga membuat badan sehat. Nah, soal itu biar saja orang-orang yang belajar di Fakultas Kedokteran yang memikirkan. Dan bacaan yang bersifat kognitif ini bukan jawaban bagi yang saya resahkan.

Kata orang, seni adalah jawaban bagi Anda. Seni mampu menghaluskan, melembutkan, menggelorakan jiwa dan seterusnya. Dia bisa membakar, dia juga bisa mendinginkan. Dia membuat jiwa terbang ke alam semesta dan bahkan ke luar alam semesta, ke alam yang terbayangkan, ke alam yang tak terbayangkan. “Bahkan mungkin saja ke luar dari lingkup ruang dan waktu,” sambut saya.

Namun aneh juga kalau cerita porno, justru hendak dieliminir dari ranah kesenian yang perlu dibaca. Dari segi etika moral, mungkinlah. Tapi bukankah dari Iblis pun bisa ditemukan hikmah?

Nah, saya perlu itu dari cerita porno.

“Jadi, beruntunglah sampeyan,” kata saya kepadanya, “Yang mampu membikin puisi yang menggelorakan semangat saya.”

Saya bilang lagi, bahwa banyak karya seni yang mampu menggetarkan hati namun lebih banyak lagi yang kering makna. Tandus dari hasrat. Dan kalau mau dikuliti, akan lebih menggunung lagi karya-karya yang tak punya kemampuan untuk membikin pembacanya terangsang secara biologis, yang membuat dirinya tak sekedar bergetar tapi juga melakukan aksi yang inheren dengan yang baru dibacanya.

Saya langsung teringat retorika khas Soekarno yang sering dikatakan mampu membikin orang untuk rela mati bagi dia. Atau juga Bung Tomo. Tapi itu lebih oral verbal. Orang-orang dapat melihat stimulatornya langsung. Itu seperti film-film dewasa juga. Yang saya maksudkan adalah rangkaian panjang dari huruf-huruf. Itu sama sekali tak mudah.

♣♣♣

Tak sampai 48 jam kemudian, teman saya mengirimkan email kepada saya sebuah tulisan. Saya terkejut membacanya. Saya mengira dia sedang curhat dan meminta saya memberi respon terhadap tulisannya. Tapi saya salah. Rupanya dia membuat sebuah cerita porno.

Dan sekali lagi, saya terangsang.

 

 

 

 
 

Tags: , ,

HEMAT ITU MATIKAN TV KETIKA SBY PIDATO; SEBUAH CATATAN HARIAN

Oleh Ardyan Amroellah

Ketika Presiden RI–Susilo Bambang Yudhoyono, membawakan pidatonya tentang penghematan energi, seorang teman yang waktu itu sedang mengerjakan tugas dari kantor bersama saya berceloteh bahwa mendengar pidato presiden kita itu menyenangkan, menyenangkan untuk didengarkan tak ubahnya didongengi mama sebelum tidur. Menanggapi itu, saya cuma mesem karena hal yang tak jauh senada juga dikicaukan beberapa teman dalam jejaring sosial yang mengatakan seperti ini:

  • Daripada dengar SBY pidato lebih baik nonton sinetron dah!
  • Hemat yang dimaksud SBY itu ketika kita menonton teve ada SBY nongol di situlah kita hemat (matiin teve).

Pidato yang begitu lancar diucapkan presiden kita–seolah ada teleprompter di depannya itu, menurut hemat saya hanya seperti membangunkan orang yang terkubur atau jika boleh meminjam istilah milik Ari Dwipayana: terlalu terlambat untuk menyebutkan ada penghematan. Penghematan itu seharusnya sudah dilakukan sejak lama,

Kali ini saya tak akan berkutat pada itu, namun dalam sekup luasnya. Di sini lagi-lagi rakyat hanyalah menjadi lahan mata pencaharian basah yang dikelola dengan apik dengan mengatasnamakan penyelamatan ekonomi, penjaminan demokrasi, bahkan penegakan hukum. Sebagai alibi, semuanya mati dalam bahasa. Dan pada titik inilah, pada saat kita tak mampu lagi. Lunglai menyusun metafora hidup. Metafora mati menjadi senjata makan tuan atau boleh dibilang bumerang. Pada batasnya, kesabaran akan bangkit menjadi vampire yang liar: people power! Namun, yang perlu dicatat batas kesabaran adalah ketika nyawa sudah sampai tenggorokan.

Tentu saja kita emoh terus-terusan terpuruk jurang kenistaan, sekaligus menghindari penyelesaian oleh ketidaksabaran. Namun kebersamaan dengan hal itu, jika hanya berdiam diri menyaksikan kebebalan yang dibungkus pembenaran, jika kita tak ada benteng moral, bakal ikut bebal. Hal paling mengerikan dari tindak kejahatan adalah saat aura kejahatannya menguap, tak tampak. Pun ketika kita melihat kebebalan adalah hal yang lazim, padahal lazim bukan bermakna benar.

Oleh karena itu, selain melewati lembaga antirasuah Komisi Pemberantasan Korupsi, terdapat dua hal substansi yang bisa digunakan untuk membenahi negeri ini. Pertama, tegas mengartikulasikan kejahatan dan kebebalan agar auranya terus terbarukan. Misal, aura kejahatan korupsi akan hilang bila tindakan itu tak henti disebut korupsi. Sangat perlu diterakan metafora lain, seperti penggasak, garong atau rampok. Pun demikian untuk penjaja seks komersil, lebih baik disebut pelacur daripada PSK. Hal ini untuk menghilangkan legitimasi atau kelas. Perbuatan cela pun sebutannya memang pantas cela jua. Kedua, ketika negara dalam keadaan harus ditolong seperti sekarang, yang perlu ditolong pertama kali adalah membantu kepala negara mendudukkan kepalanya agar posisinya sehat. Jika tidak, dimakzulkan saja dengan yang lebih punya derajat keimanan bagas bukan keinginan kekuasaan.

Berkali-kali dan oleh sejumlah pihak telah disampaikan bahwa kita, bangsa Indonesia, membutuhkan pemimpin yang kuat –jasadiyah dan ruhiyah, cerdas, tidak cemen yang sedikit-sedikit merengek menggrundelkan masalah negara, dan bebas dari kepentingan politik juga bebas dari kerjasama dengan penjajahs. Kini semua bisa lihat, tanpa pemimpin demikian, negara tak memiliki ideologi yang menyebabkan ketidakjelasan: mau dibawa negara ini? Bagaimana mau ajeg berdiri, jika grasi pada Sang Ratu Ganja Corby saja jor-joran seolah ingin katakan pada dunia bahwa  Indonesia negara gampangan.

Lalu yang perlu dipahami dan digarisbawahi, kekalahan menaklukkan ego pemimpin, lewat kasus Qorby juga bulu tangkis yang selalu menangis di ajang internasional, seolah keduanya adalah representasi terpuruknya pengelolaan kehidupan berbangsa. Mungkinkah kita tengah sampai pada apa yang ditulis oleh sang penyair anonim:

Haruskah rakyat terus menangis

Haruskah rakyat terus diam.

Haruskah rakyat terus di bodoh-bodohi.

Atau… para pejuang keadilan telah mati?

Jadi, mari matikan ragu. Juga matikan televisi ketika presiden kita berpidato. Ups.

Wallahu’alam.

 
 

Tags: , ,

RENUNGANKU; SEBUAH PUISI

oleh : Zulkifli Zainudin Fahmi

Lisanku tak mampu berderik

Mengucap sepatah alasan

Tatapan lesu melekat dalam kornea

Kosong tiada pantas kupandang

 

Namun fikiranku terus berlari

Mencari tahu cerita seisi dunia

Yang sebabkan ku terpaku

Dalam satu suasana hitam

 

Sebuah jalan kebenaran telah tersedia

Namun langkah tak mampu menapakinya

Lengan pun ikut terbelenggu dalam

Kegelapan dan kekosongan dunia

 

Firasatku berkata “merenunglah”

Lantas ku tengadahkan dua tanganku keatas

Menunduk, meratapi, dan bersipuh dosa

Yang telah terungkap dari penjuru indraku

 
Leave a comment

Posted by on June 24, 2012 in Puisi

 

Tags: , ,

KARTINI MUSLIMAH ERA KINI; SEBUAH CATATAN HARIAN

Oleh : Novi Hidayati N.R

Terdapat tiga variabel dalam judul di atas, yakni Kartini, Muslimah dan Era kini.

Kartini, seorang pahlawan wanita Indonesia yang lahir di jepara, tanggal 21 April 1879. Namanya sering disebut-sebut dan dikenang di seluruh pelosok negeri tercinta kita ini. Mengapa? Karena jasa beliaulah budaya patriarki atau kesenjangan kesetaraan gender dalam memperoleh pendidikan terkikis.

Kartini adalah anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani simbok (pembantunya).

Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.

Read the rest of this entry »

 
 

Tags: , ,

CANTIK ITU SAKIT; SEBUAH CATATAN HARIAN

Oleh Ardyan Amroellah

Segalanya menjadi duniawi. Apa yang terlihat mata akan lebih mudah diterima dibanding sesuatu yang bersifat absurd, yang tak dapat dipaparkan oleh indra. Ajaibnya, banyak teman bisa bilang bahwa yang membuat mereka jatuh cinta dengan seseorang adalah inner beauty. Nah lho? Bohong? Aku tak tahu.

Seorang temanku yang lulusan jurusan psikologi pernah bilang agar tak kecil hati karena aku tak cantik. Sebab cuma sepuluh persen fisik mempengaruhi penampilan seseorang. Sisanya ditentukan oleh sesuatu yang berasal dari dalam diri, seperti moral dan wawasan. Semula aku sepakat hingga seorang temanku jurusan komunikasi berujar bahwa wanita memang dikondisikan agar selalu cantik. Sebaliknya, lingkungan jauh lebih ramah kepada pria. Aku mengamini, karena seringnya kulihat di jalan seorang pria jelek namun wanita yang digandengnya cantik. Menyesakkan.

Maka satu yang segera tumbuh di otakku. Aku harus kurus!

Kata sahabat kuliahku, sedot lemak bagus juga. Kata teman kantorku, akupuntur boleh dicoba. Tapi pacar sepupuku menganjurkan diet. Pilihan ketiga langsung kutolak. Kenapa? Aku pernah datang ke resepsi kakak temanku. Satu minggu selang si pengantin wanita meninggal. Kabar yang kuterima, lever lamanya kambuh. Sebulan berlalu, akhirnya aku tahu dia meninggal karena keterlaluan dietnya. Gila!! Satu lagi, aku suka tak tahan saat melihat makanan enak di depan mata. Aku butuh cara lain!

Maka sempat kuputuskan untuk menjadi seorang pengidap bulimia. Sengaja kumuntahkan makanan yang telah kutelan dengan melogokkan jari ke kerongkongan. Baru dua hari, aku menyerah. Aku tidak tahan dengan rasa geli dan sakit di sekitar punduk. Lalu kupilih sedot lemak. Inilah cara yang menawarkan kelangsingan tanpa mesti membatasi jatah makan. Timbunan gajih membandel cukup diperangi dengan senjata bernama liposuction. Caranya? Kulitku disayat sebelum dimasukkan sebuah tabung kecil ke dalam kulit. Tabung ini lalu digerakkan maju mundur pada jaringan lemak bawah kulit. Gerakan itu membuat lapisan lemak terpecah menjadi kepingan agar mudah disedot keluar tubuh melalui mesin suntik berjarum besar. Menyakitkan? Pasti. Karena itu pula aku berharap keajaiban datang, lintah berubah menjadi hewan penyedot lemak.

Setelah terlihat kurus di cermin, aku mengamati hidung. Harus mancung juga tampaknya, biar seimbang dengan badan. Aku dikenalkan sahabatku dengan seorang dokter yang sudah sering menangani penggila bedah plastik. Jujur, aku terkesima. Hidung dokter itu begitu proporsi. Jangan–jangan dia mengoperasi sendiri hidungnya?

Read the rest of this entry »

 
 

Tags: , ,

METAFORA; SEBUAH PEMBELAJARAN

Oleh Ardyan Amroellah

Metafora adalah hal yang biasa dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Bahkan seorang anak pun bisa menangkap makna sebuah metafora. Namun hal biasa ini bertahun–tahun telah menjadi hantu bagi para ahli linguistik, sebab ia adalah sebuah misteri untuk menjelaskan dari mana datangnya sebuah makna. Linguistik bisa menjelaskan makna literal, tapi makna kiasan di dalam metafora sangat sulit untuk dijabarkan. Tak terlalu berlebihan jika Lycan menamai The Dark Side pada chapter yang menjelaskan metafora.

Metafora juga menjadi bagian yang paling urgen dalam pengalaman berbahasa. Hampir semua kata bisa dipakai secara metaforis. Berbeda dengan makna kata yang sesuai dengan makna kamus yang disebut makna leksikal. Semua kata yang memiliki makna leksikal bisa dipakai secara metaforis. Bahkan dalam perkembangan bahasa, makna metaforis mampu mengambil alih makna leksikal, hingga ia lebih dikenal dengan makna metaforisnya ketimbang makna leksikalnya. Dan makna yang mulanya metaforis menjadi makna leksikal yang baru.

Apa itu metafora?

Sebuah definisi, yang meskipun tak sempurna bisa kita pakai sebagai sebuah petunjuk. Dalam Introducing Metaphor, Knowles dan Moon menerangkan bahwa metafora adalah penggunaan bahasa secara non-literal, yang di dalamnya mengandung perbandingan atau identifikasi. Metafora berasal dari kata Yunani: meta dan phor. Meta adalah prefiks yang biasa dipakai untuk menggambarkan perubahan, dan phor yang berarti membawa. Dengan demikan arti kata metafora bisa diartikan sebagai membawa perubahan makna.

  Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on May 28, 2012 in Belajar

 

Tags: , ,

ADAKAH YANG MASIH MENGHARGAI PUISI? : SEBUAH PANDANGAN

Oleh : Wirasatriaji

Adakah yang rindu lahirnya Kahlil Gibran? atau rindu munculnya sosok Pablo Neruda? Masih adakah orang yang peduli dengan rangkaian kata manis dan puitis? Ah, seringkali dengan sinis kita katakan hal semacam itu sudah kadaluarsa, seiring dengan semakin dinamisnya cara mengungkapkan rasa.

Ekspresi kekaguman seringkali kita permudah dengan selembar kartu atau bahkan selarik kalimat yang terucap di ujung ponsel. Tak ada lagi rasa dag dig dug jantung kala menatap mata sang pujaan hati. Tak ada lagi rasa berdegup kencang dengan berjam-jam terdiam membisu disampingnya. Ekspresi cinta sering dilukiskan secara instant. Lewat boneka berbentuk hati, mawar kertas tanpa duri, atau bunga yang mekar dari bank, dan beralasan bahwa itu sangat bermakna dan bermodal daripada sekedar kata-kata.

Barangkali kedinamisan semacam ini yang terlampau lama menina-bobokan kita. Pria lebih suka berpujangga dengan credit card disakunya. Berpujangga pada keremangan cinema twenty one, menyaksikan film romantis penuh cinta sambil memainkan jemari di rok mini sang wanita. Wanita lebih suka dipuja dengan kiriman pulsa dan uang belanja busana. Wanita lebih memilih dengan diantar ke Spa dan Mall.

Kedinamisan ini mencemooh ekspresi cinta yang diwariskan leluhur kita. Rangkaian kata dianggap tak lagi sesuai dengan jaman milenia.

Barangkali sudah waktunya para generasi muda, menguak sejarah dan lembaran kejayaan romantisme, dimana untaian kata lebih berharga daripada kartu di mesin penggesek. Inilah saatnya melahirkan seni yang lama mati suri oleh peradaban. Mengoriginalkan kegaiban sebuah seni dalam kata. Mari, lahirkan pujangga baru di negeri ini. Siapa tahu andalah pengganti Pablo Neruda dan Kahlil Gibran versi indonesia.

 

Tags: ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.